Mandakara - Menyatukan banyak perspektif untuk menjadi satu nalar demi ketercapaian tujuan bersama adalah perihal yang rumit. Sebab, tiap humanus (manusia) memiliki inginnya sendiri yang dianggapnya tepat. Oleh karenanya, teramat penting adanya rasa humanisme pada tiap-tiap humanus yang terlibat demi kelancaran jalannya suatu wadah intelektual. Tanpa rasa ini, ruang diskusi yang harusnya menghasilkan gagasan besar hanya akan berubah jadi medan pertempuran kepuasan personal.
Wadah intelektual atau yang akrab
kita sebut organisasi tak akan bisa berjalan jika humanus di dalamnya
menjunjung tinggi sifat indivualisme yang menjunjung tinggi ego sendiri,
bukankah begitu, Rekan/Rekanita?
Jika benar, sudah seharusnya
sedari sekarang kita mulai merajut humanisme dalam diri kita masing-masing.
Humanisme ialah pandangan filosofis yang menjunjung tinggi nilai, martabat, dan
potensi manusia, menjadikan manusia sebagai pusat pemahaman dunia. Sederhananya,
humanisme dalam berorganisasi adalah seni menghargai orang lain; sebuah
komitmen untuk tidak membiarkan ego pribadi menenggelamkan kepentingan bersama
(Hadi, 2012). Tidak egois dengan kepentingan pribadi, tapi menjunjung tinggi
kepentingan bersama, yaitu kepentingan organisasi itu sendiri.
Namun realitasnya, dinamika
organisasi acap kali menjadi panggung bagi kepuasan ego. Sering kali ego
membuat kita lupa jika orang lain juga punya keinginan dan punya perasaan yang
seharusnya kita jaga. Sebagai pelaku organisasi, sudah menjadi suatu keharusan
untuk kita tidak hanya memikirkan diri sendiri melainkan juga memikirkan orang
lain. Terkadang, tanpa sadar sepatah kata yang kita kira biasa saja atau
instruksi yang kita anggap tegas, bisa menjadi duri tajam yang menyakiti hati kecil
lainnya. Kita cenderung tidak sadar akan hal itu, sampai pemilik hati kecil itu
benar-benar pergi, menghilang dari lingkaran, bahkan tanpa meninggalkan sepucuk
pesan, yang pada akhirnya membuat kepala kita dikunang-kunangi oleh berbagai
tanya yang tak pernah ada jawabnya. “Dia kenapa ya? Kok tiba-tiba pergi? Aku
salah apa ya?” Merupa penyesalan yang selalu datang terlambat.
Sebelum tanya-tanya itu menjelma
kunang-kunang yang menghantui kepala dan merusak waras kita, mari perlahan
mengumpulkan helaian benang humanisme yang sempat tercecer. Rajutlah ia menjadi
jalinan harmonis yang menguatkan rumah kita (organisasi). Bagaimana caranya? Seperti
yang penulis sampaikan tadi, yaitu mulai dari diri sendiri, turunkan ego dan
redam keinginan untuk mendominasi, serta jadilah perasa yang pandai merasa-sebuah
kemampuan untuk berempati dan membaca situasi psikologis sesama anggota. Buka
mata, lalu pandang dan rasakan, pandanglah para humanus yang selalu
setia berjuang untuk kebersamaan.
Pernahkah kamu melontarkan tanya
perihal yang mereka rasa, semisal saat ada Rekan/Rekanita yang terjebak deadline
atau mengerjakan tugas organisasi hingga larut malam cobalah menyapa: ”Kamu
sibuk banget yaa rekan/rekanita? Pasti capek yaa jadi kamu? Mau aku bantu? Biar
cepet selesai.” Kalimat itu mungkin sederhana, namun jika diiringi senyum
hangat dan ketulusan, dampaknya akan mampu meruntuhkan dinding kelelahan yang
sedang mereka pikul.
Terkadang seseorang pergi bukan
karena sudah bosan, melainkan karena ia merasa tidak nyaman. Ketika muncul rasa tidak nyaman maka
selanjutnya akan ada refleks manusiawi yang muncul, yaitu mencari tempat baru
yang lebih nyaman. Baru di saat itulah kita sadar bahwa humanisme sangat
penting dalam berorganisasi. “Memang dasarnya humanus, kalau sudah
kehilangan baru sadar.”
Dari pertanyaan sederhana, sebenarnya
sudah bisa memperkuat benang ikatan. Tapi sayangnya pertanyaan sederhana yang
sangat bermakna itu sering sekali kita lupakan. Padahal itu bisa jadi kunci
kita untuk memantik munculnya keharmonisan dalam satu ikatan. Keharmonisan
ialah jalinan hubungan yang baik antara humanus. Sudahkan keharmonisan
itu mewarnai organisasi kita, Rekan/Rekanita? Dalam sebuah wadah intelektual
keharmonisan tidak akan muncul tanpa adanya kesadaran pada masing-masing humanus
yang terlibat dalam satu wadah ikatan.
Benang tidak akan pernah menjadi
baju jika ia hanya tunggal/satu. Akan tetapi jika benang itu ada banyak,
jangankan sebuah baju, sepuluh setel baju pun bisa dibuatnya hanya dengan
merajut semua benang-benang itu menjadi satu. Mau baju polos atau baju bermotif
semuanya bisa dibuat asalkan benangnya ada banyak. Perihal tersebut sama halnya
dengan organisasi kita. Jika di dalam organisasi hanya ada satu individu maka
organisasi tidak akan bisa berjalan. Namun, jika di dalam organisasi itu ada
banyak individu, ditambah lagi dengan kesadaran humanismenya, tentu organisasi
itu akan sanggup berjalan dengan eloknya untuk mencapai apa yang menjadi tujuan
utamanya.
Mau tunggu apa lagi? Ayo sedari
sekarang mulai tumbuhkan benang humanisme dalam diri masing-masing, lalu
kumpulkan benang-benang humanisme lainnya dan kemudian rajut menjadi
keharmonisan dalam wadah intelektual. Jangan takut benangnya kusut, tapi
takutlah jika benang itu putus. Buat baju terbaik dari kumpulan benang itu,
jangan hanya satu baju tapi buatlah banyak baju. Baju yang bisa melindungi
setiap anggota dari berbagai cuaca ekstrem di luar sana.
Oleh: Little Princess
Rujukan:
