Mandakara - "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani." Kalimat yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara itu selama puluhan tahun menjadi fondasi cara bangsa ini memaknai pendidikan. Guru hadir sebagai teladan, orang tua menjadi sekolah pertama, dan masyarakat menjadi ruang tempat seorang anak belajar mengenali kehidupan. Pendidikan dipahami sebagai perjumpaan antarmanusia–proses panjang yang membentuk pengetahuan, karakter, sekaligus cara memandang dunia. Namun, Indonesia hari ini sedang berubah.
Anak-anak
tidak lagi hanya bertanya kepada orang tua ketika ingin mengetahui sesuatu.
Remaja tidak lagi selalu membuka buku ketika mencari jawaban. Ketika bingung
memilih jurusan kuliah, mereka membuka TikTok. Ketika ingin belajar berbicara
di depan umum, mereka mencari YouTube. Ketika ingin memahami isu politik,
mereka membuka X. Bahkan, ketika penasaran tentang kesehatan mental, investasi,
atau agama, tidak sedikit yang lebih dahulu mencari potongan video berdurasi
satu menit daripada membaca penjelasan yang utuh.
“Lalu,
siapa sebenarnya yang sedang mendidik generasi Indonesia hari ini?”
Jawabannya
mungkin tidak lagi sesederhana: keluarga, sekolah, atau negara. Di balik layar
telepon genggam, ada aktor lain yang bekerja tanpa mengenal jam pelajaran. Ia
tidak memiliki ruang kelas, tidak memberi nilai, dan tidak pernah menerima
sertifikat pendidik. Namun setiap hari, ia menentukan apa yang kita lihat, apa
yang kita kagumi, apa yang kita takuti, bahkan apa yang kita anggap benar.
Aktor itu bernama algoritma.
Coba buka
media sosial selama lima belas menit. Beranda setiap orang mungkin berbeda,
tetapi polanya hampir sama. Ada yang dipenuhi konten self-improvement,
ada yang disuguhi video tentang kecerdasan buatan (artificial intelligence),
ada yang tenggelam dalam tren old money, ada yang mengikuti perdebatan
politik di X, sementara yang lain terus-menerus melihat tagar #KaburAjaDulu.
Anehnya, semua merasa sedang belajar sesuatu. Padahal, pelajaran yang diterima
tidak sepenuhnya dipilih sendiri. Sebagian besar telah dipilihkan oleh
algoritma berdasarkan apa yang pernah ditonton, disukai, atau dibagikan
sebelumnya.
Di
sinilah kegelisahan itu bermula. Kita sering mengira generasi muda sedang bebas
memilih pengetahuan. Padahal, sebelum mereka memilih, ada sistem yang lebih
dahulu menentukan apa yang layak muncul di layar mereka. Apa yang disebut
sebagai "pilihan" sering kali hanyalah hasil dari rekomendasi
yang bekerja diam-diam di balik layar.
Barangkali
inilah ironi terbesar pendidikan Indonesia hari ini. Di sekolah, murid
diajarkan untuk memeriksa sumber informasi. Di media sosial, mereka justru
dibiasakan mempercayai informasi yang paling sering muncul. Di sekolah, mereka
diminta berpikir kritis. Di ruang digital, mereka dilatih berpikir cepat. Di
sekolah, jawaban diperoleh melalui proses membaca dan berdiskusi. Di internet,
jawaban hadir bahkan sebelum pertanyaan selesai diketik. Perlahan, ruang
belajar kita tidak lagi hanya berada di sekolah, tetapi juga di dalam genggaman
tangan.
Apa yang
sedang terjadi sesungguhnya bukan sekadar perubahan cara memperoleh informasi,
melainkan perubahan cara manusia membentuk realitas. Peter L. Berger dan Thomas
Luckmann (2016) menjelaskan bahwa realitas sosial tidak pernah hadir begitu
saja. Ia dibangun melalui proses interaksi, kebiasaan, dan institusi yang
terus-menerus memengaruhi cara manusia memahami dunia. Jika dahulu keluarga,
sekolah, media massa, dan lembaga keagamaan menjadi ruang utama dalam membentuk
realitas tersebut, kini ruang itu perlahan bergeser ke platform digital.
Pergeseran
itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia lahir dari apa yang dalam filsafat
disebut sebagai zeitgeist–roh zaman yang membentuk cara berpikir suatu
generasi. Roh zaman Indonesia hari ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang
paling banyak membaca buku, melainkan oleh siapa yang paling berhasil menguasai
perhatian publik. Di era ketika hampir setiap orang menggenggam telepon pintar,
perhatian menjadi komoditas yang diperebutkan. Semakin lama seseorang bertahan
di layar, semakin besar nilai ekonominya.
Byung-Chul
Han (2022) menyebut kondisi tersebut sebagai infocracy, yaitu keadaan
ketika informasi tidak lagi sekadar menjadi alat komunikasi, melainkan telah
berubah menjadi bentuk kekuasaan baru. Kekuasaan itu bekerja secara halus. Ia
tidak memaksa, tetapi membujuk. Ia tidak melarang, tetapi mengarahkan. Kita
merasa sedang memilih informasi, padahal pada saat yang sama informasi juga
sedang memilih kita.
Fenomena
ini tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari. Seorang remaja yang awalnya
mencari tips belajar dapat berakhir menonton puluhan video tentang gaya hidup
mewah. Seseorang yang ingin mengetahui perkembangan politik justru
terus-menerus disuguhi potongan video yang memperkuat pandangan yang telah ia
miliki. Bahkan, pencarian sederhana mengenai kesehatan mental dapat berubah
menjadi rangkaian konten yang membuat seseorang merasa memiliki gangguan
tertentu, meskipun belum pernah berkonsultasi dengan tenaga profesional. Semua
itu terjadi bukan karena kebetulan, melainkan karena algoritma bekerja dengan
satu tujuan: mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Laporan Digital
News Report Reuters Institute (2025) menunjukkan bahwa media sosial kini
menjadi salah satu sumber utama masyarakat Indonesia dalam memperoleh berita.
TikTok, Instagram, YouTube, dan X tidak lagi sekadar menjadi ruang hiburan,
tetapi juga menjadi ruang belajar, berdiskusi, hingga membentuk opini publik
(Reuters Institute, 2025). Di sisi lain, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa
Internet Indonesia menunjukkan penetrasi internet Indonesia telah mencapai
lebih dari 79 persen pada 2024. Artinya, semakin besar pula peluang algoritma
memengaruhi cara masyarakat memahami realitas (APJII, 2024).
Di titik
inilah pendidikan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sekolah masih mengajarkan cara mencari jawaban yang benar. Namun, ruang digital
sering kali lebih dahulu menawarkan jawaban yang paling menarik. Guru mengajak
murid berpikir perlahan. Algoritma mengajak pengguna bereaksi secepat mungkin.
Persoalannya bukan lagi siapa yang paling banyak memberikan informasi,
melainkan siapa yang paling berhasil merebut perhatian. Dan hari ini, perhatian
tampaknya telah menjadi mata pelajaran paling mahal di dunia digital.
Persoalan
menjadi semakin rumit ketika ruang digital tidak hanya menentukan apa yang kita
lihat, tetapi juga memengaruhi apa yang kita yakini. Lee McIntyre (2018)
menyebut gejala ini sebagai era post-truth, yaitu keadaan ketika emosi
dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik
dibandingkan fakta yang dapat diverifikasi. Dalam situasi seperti ini,
informasi yang paling banyak dibagikan belum tentu yang paling benar, melainkan
yang paling mampu memancing perhatian.
Kita
tidak perlu mencarinya jauh-jauh. Hampir setiap hari media sosial dipenuhi
potongan podcast berdurasi kurang dari satu menit yang seolah mampu menjelaskan
persoalan ekonomi, politik, agama, bahkan masa depan Indonesia. Video yang
dipotong dari konteksnya lebih mudah menjadi viral daripada penjelasan utuh
berdurasi satu jam. Judul yang provokatif sering kali lebih menarik daripada
isi yang argumentatif. Akibatnya, ruang digital perlahan mengubah cara kita
memahami persoalan: bukan melalui kedalaman, melainkan melalui kecepatan.
Fenomena #KaburAjaDulu
yang sempat ramai pada awal 2025 menjadi salah satu contoh bagaimana media
sosial dapat menjadi ruang ekspresi sekaligus ruang pembentukan persepsi. Di
satu sisi, tagar tersebut merefleksikan keresahan sebagian anak muda terhadap
lapangan kerja, biaya hidup, dan masa depan. Namun, di sisi lain, algoritma
juga membuat narasi tersebut terus bergulir hingga seolah-olah menjadi suara
seluruh generasi muda Indonesia. Padahal, media sosial tidak pernah benar-benar
merepresentasikan kenyataan secara utuh; ia hanya memperbesar apa yang
memperoleh perhatian paling banyak.
Fenomena
serupa juga tampak ketika kecerdasan buatan (artificial intelligence)
mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebagian konten menggambarkan
AI sebagai penyelamat yang akan mempermudah pekerjaan manusia. Sebagian lainnya
menggambarkannya sebagai ancaman yang akan menghilangkan jutaan lapangan kerja.
Kedua narasi itu terus dipertemukan bukan melalui dialog yang sehat, melainkan
melalui perlombaan mendapatkan klik, likes, dan shares. Akhirnya,
masyarakat lebih akrab dengan sensasi daripada substansi.
Ironisnya,
semua itu berlangsung di tengah upaya sekolah mengajarkan berpikir kritis. Guru
meminta siswa memeriksa sumber informasi, membaca berbagai referensi, dan
menyusun argumen secara logis. Akan tetapi, ketika bel sekolah berbunyi, mereka
kembali memasuki ruang digital yang bekerja dengan logika yang berbeda. Di
sana, informasi tidak dinilai dari proses verifikasinya, melainkan dari
seberapa besar kemampuannya menarik perhatian. Sekolah mengajarkan kesabaran
dalam berpikir, sementara algoritma menghadiahi kecepatan dalam bereaksi.
Di
sinilah pendidikan Indonesia menghadapi tantangan yang sesungguhnya.
Persoalannya bukan bahwa generasi muda terlalu banyak menggunakan media sosial,
melainkan bahwa ruang digital telah menjadi "guru" yang tidak pernah
tidur. Ia hadir saat sarapan, menemani perjalanan ke sekolah, muncul ketika
waktu istirahat, bahkan menjadi teman terakhir sebelum seseorang memejamkan
mata. Tidak ada institusi pendidikan yang mampu bersaing dengan intensitas
kehadiran seperti itu.
Karena
itu, pertanyaan "siapa yang mendidik generasi Indonesia hari ini?"
tidak bisa lagi dijawab hanya dengan menyebut keluarga, sekolah, atau negara.
Ketiganya memang masih memiliki peran penting. Namun, mereka kini harus berbagi
ruang dengan algoritma yang setiap hari memperebutkan perhatian, membentuk
preferensi, dan perlahan memengaruhi cara generasi muda memahami dunia.
Di tengah
situasi tersebut, pemerintah sedang berupaya membangun generasi yang lebih
sehat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini merupakan ikhtiar
penting untuk memastikan anak-anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang cukup
agar tumbuh dan berkembang secara optimal. Namun, di balik upaya memenuhi gizi
tubuh, ada pertanyaan lain yang tidak kalah mendesak: siapa yang sedang
memastikan gizi informasi yang dikonsumsi generasi Indonesia setiap hari?
Sebab
tubuh yang sehat memang membutuhkan protein, vitamin, dan mineral. Akan tetapi,
pikiran yang sehat membutuhkan kemampuan membedakan fakta dari opini,
pengetahuan dari propaganda, serta informasi dari sensasi. Kita mungkin
berhasil mengurangi stunting pada tubuh, tetapi akan menghadapi persoalan yang
jauh lebih rumit apabila membiarkan stunting nalar tumbuh di ruang digital.
Pada
akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang tersaji di
atas piring makan anak-anaknya, tetapi juga oleh apa yang setiap hari memenuhi
layar telepon genggam mereka. Jika algoritma telah menjadi guru baru bagi
generasi Indonesia, maka tugas keluarga, sekolah, negara, media, dan masyarakat
bukanlah memusuhi teknologi, melainkan memastikan bahwa di tengah derasnya arus
informasi, manusia tetap memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa
kebenaran, dan memilih pengetahuan secara sadar. Sebab bangsa yang besar bukan
hanya bangsa yang berhasil mencerdaskan kehidupan warganya, tetapi juga bangsa
yang mampu menjaga akal sehat mereka di tengah kebisingan zaman digital.
Oleh: Aldi
Asy Syaikh Ar Rois
Bahan
Bacaan
APJII.
(2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. Asosiasi Penyelenggara
Jasa Internet Indonesia.
Berger,
P. L., & Luckmann, T. (2016). The Social Construction of Reality: A
Treatise in the Sociology of Knowledge. Penguin Books. (edisi cetak
ulang)
Han,
B.-C. (2022). Infocracy: Digitalization and the Crisis of Democracy.
Polity Press.
Ki Hadjar
Dewantara. (2013). Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka. UST
Press.
McIntyre,
L. (2018). Post-Truth. MIT Press.
Reuters
Institute. (2025). Digital News Report 2025. Reuters Institute for the
Study of Journalism.
Zuboff,
S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. PublicAffairs.
Cotter,
K. (2019). Playing the visibility game: How digital influencers and algorithms
negotiate influence on Instagram. New Media & Society, 21(4),
895–913.
Cinelli,
M., Morales, G. D. F., Galeazzi, A., et al. (2021). The echo chamber effect on
social media. Proceedings of the National Academy of Sciences, 118(9).
Sunstein,
C. R. (2018). #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media.
Princeton University Press.
