Anekdotal Harlah 66 PMII: Aktivis Yang Lucu, Itu Perlu

 


Mandakara - Saya percaya dengan pendapat yang mengatakan bahwa; menjadi aktivis zaman sekarang itu mudah. Misalnya, cukup kiri, kritis dan menjadi korban penyiraman air keras, “kun-fayakun” jadilah aktivis. Yang susah itu yang lucu, seperti Mahbub Djunaidi.

Barangkali mungkin, jika ia yang menjadi korban, ia hanya akan menulis dan melawak. Orang lucu bak dirinya, seperti sudah melewati fase kebijaksanaan. Sangat senada dengan quote ini:

"Pada Akhirnya semua hanyalah lelucon belaka," Charlie Chaplin.

Siapa saja punya potensi untuk melucu. Bahkan ada profesi khusus yang berhubungan dengan lelucon itu. “Pelawak” adalah mereka yang melangsungkan hidup dengan cara melucu dan menghibur orang lain dengan anomali. Macam-macam saja gaya melawaknya: via gerakan, via bahasa mimik, via perkataan atau ucapan, via tulisan, termasuk via teror dari negara. Ia juga termasuk belakangan ini.

Sebuah profesi langka dan tidak semua orang mampu mengerjakannya. Barangkali sangat sedikit dan terlalu beresiko, diantara yang sedikit dan menerima konsekuensi logis itu, adalah Mahbub Djunaidi. Dia penulis kondang nomor wahid. Kolumnis generalis yang mirip tukang loakan, sebab ia menulis apa saja, dengan cara bagaimana saja, dan dalam keadaan apa saja. Kolom-kolomnya mengalir deras membuat pembaca terberak-berak menahan ketawa.

"Saya punya kecemburuan pada Mahbub. Bagaimana dia bisa menulis hingga orang tertawa, padahal isinya cukup serius? Kelebihan Mahbub pada kolom-kolomnya, yang belum tertandingi oleh siapa pun, ialah bahwa ia bisa mengatasi mempergunakan bahasa Indonesia dengan kecakapan seorang mime yang setingkat Marcel Marcau. Kata dan kalimat, ia gerakkan dalam pelbagai perumpamaan yang tidak pernah membosankan karena selalu tak terduga," demikian Goenawan Mohamad saat memberi kata pengatar dalam buku Kolom Demi Kolom.

Barangkali Mahbub Djunaidi adalah kecerdasan, kelucuan, dan kejenakaan yang berwujud manusia. Adonan ungkapan yang blak-blakan yang diracik dengan metafor prosaik tinggi adalah kekuatan yang kerap dijadikan sebagai arsenal ampuh yang pada saat tertentu berhasil membuat pembaca terguncang perutnya menyelebrasikan kegembiraan yang disulut oleh kelucuan kolom bikinan Mahbub Djunaidi.

"Gagasan dan kejutan yang diajukan dalam esai-esainya sulit dibayangkan bisa ditulis dengan gaya penulisan lain. Pendek kata, bagi saya, Mahbub adalah penyihir kata-kata," demikian Ahmad Makki dari Majalah Historia menulis.

Barangkali, selain dipengaruhi oleh lingkungan asal yang nyablak dan juga kental dengan tradisi dongeng, kekuatan tulisan Mahbub Djunaidi terletak pada kemampuannya untuk 'bersastra ria'. Suatu ketika ia pernah bilang bahwa:

Ia lebih nyaman dipanggil seorang sastrawan, daripada aktivis. Dengan menjadi sastrawan barangkali ia akan bebas melakukan eksperimen bahasa, tanpa harus disiram air keras. Ia akan beroleh licencia potica atau yang oleh sebagian ahli bahasa disebut sebagai deviasi bahasa. Sastrawan memperoleh semacam keistimewaan yang memperbolehkannya bereksperimen terhadap bahasa yang digunakannya.

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

Di antara gudang, rumah tua, pada cerita

Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

Mengembus diri dalam memercaya mau berpaut.

Dalam sajak Senja di Pelabuhan Kecil itu Chairil Anwar menulis "ini kali" yang mestinya menurut aturan bahasa yang lumrah adalah kali ini. Demikianlah yang disebut dengan deviasi bahasa. Sastrawan dimungkinkan untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan dengan tujuan untuk men- dapatkan nuansa bahasa yang lebih gereget dan segar.

Demikian pula Mahbub Djunaidi dalam tulisan-tulisannya. la kerap melakukan akrobat bahasa. Ia tidak taat ejaan, urakan, dan pemberontak. Semua aturan baku bahasa ia buang jauh ke tong sampah. Ia menulis dengan bahasa yang hidup dalam pergaulan sehari-hari. Masa bodoh dan peduli setan dengan aturan, yang penting tulisannya bisa dibaca dan membuat orang mengernyitkan dahi sembari terkencing- kencing menahan ketawa, habis perkara.

Suatu ketika dalam kolomnya yang bertajuk "Buku Petunjuk Pendidikan Politik Sejak Dini", begini cara Mahbub menggebuk habis pemerintahan tanpa disiram air keras:

“Agar lebih memudahkan, paling utama berhentilah barang setengah jam di depan kandang monyet. Monyet jenis apa saja pun, jadilah. Kamu lihat monyet paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan pemimpin itu, bisa disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling pintar. Tapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa, paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah kenal sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan."

Kolom ini ditulis pada Maret 1981 saat Orde Baru berada di puncak kulminasinya. Menohok, menusuk, namun kocak, menyentil, dan lucu. Untuk meraciknya, tentu saja bahan baku utamanya adalah kecerdasan dan selera humor yang tinggi.

Lain kesempatan, ia juga jago berolok-olok dengan tanpa membuat yang diolok-olok marah. Alih-alih, yang ada malah kepingkal-pingkal dibuatnya. Dalam kolomnya bertajuk “Wajah" ia menulis begini:

"Ambillah contoh di negeri awak. Idham Chalid itu, siapa yang tidak kenal dia? Perawakannya tipis, tak ubahnya dengan umumnya pedagang batu permata dari Banjar. Tapi dialah yang pegang rekor paling lama menduduki kursi kekuasaan politik negeri ini sejak 1956, dan yang paling lama pula menjabat pimpinan NU. Dari wajah dan posturnya, Abdurrahman Wahid merupakan kebalikan yang mencolok. Orang yang disebut belakangan ini bertubuh gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum, berkacamata tebal, bisa tidur di mana saja, toh bisa sama-sama jadi ketua NU. Idham memiliki kelincahan yang tinggi, dan Abdurrahman Wahid punya kebolehan humor yang megejutkan, seakan dia jambret begitu saja dari laci."

Demikianlah Mahbub Djunaidi. Sabron Aidit menulis bahwa barangkali sebagai seorang sastrawan dan jurnalis sekaligus, sosok Mahbub Djunaidi sama belaka dengan Mochtar Lubis. Saya menolak dan tidak setuju dengan perbandingan ini. Pasalnya perbedaan keduanya sangat mencolok: yang satu kepalang lucu, sementara yang satunya lagi kelewat serius. Dan korban-korban aktivis sekarang, cenderung yang kedua itu.

Sekitar 8 tahun lalu, saya masih ingat, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember menyelenggarakan simposium pemikiran Mahbub Djunaidi, pematerinya Bapak-bapak gaul klub motor bernama Bang Isfandiari. Itu bagus dan tidak ada salahnya. Tapi lain kali menurut saya, PMII Banyuwangi juga bolehlah menggelar simposium soal selera humor dan kelucuan Mahbub Djunaidi ini, agar tidak kaku jadi aktivis dan gak disiram air zam-zam di tengah malam.


Oleh: Mahasin Haikal Amanullah (Lurah Mukadimah Institute)

Lebih baru Lebih lama