Mandakara - Saya percaya dengan pendapat yang mengatakan bahwa; menjadi aktivis zaman sekarang itu mudah. Misalnya, cukup kiri, kritis dan menjadi korban penyiraman air keras, “kun-fayakun” jadilah aktivis. Yang susah itu yang lucu, seperti Mahbub Djunaidi.
Barangkali mungkin, jika ia yang menjadi korban, ia hanya
akan menulis dan melawak. Orang lucu bak dirinya, seperti sudah melewati fase
kebijaksanaan. Sangat senada dengan quote ini:
"Pada Akhirnya semua hanyalah lelucon belaka,"
Charlie Chaplin.
Siapa saja punya potensi untuk melucu. Bahkan ada profesi
khusus yang berhubungan dengan lelucon itu. “Pelawak” adalah mereka yang
melangsungkan hidup dengan cara melucu dan menghibur orang lain dengan anomali.
Macam-macam saja gaya melawaknya: via gerakan, via bahasa mimik, via perkataan
atau ucapan, via tulisan, termasuk via teror dari negara. Ia juga termasuk
belakangan ini.
Sebuah profesi langka dan tidak semua orang mampu
mengerjakannya. Barangkali sangat sedikit dan terlalu beresiko, diantara yang
sedikit dan menerima konsekuensi logis itu, adalah Mahbub Djunaidi. Dia penulis
kondang nomor wahid. Kolumnis generalis yang mirip tukang loakan, sebab ia
menulis apa saja, dengan cara bagaimana saja, dan dalam keadaan apa saja.
Kolom-kolomnya mengalir deras membuat pembaca terberak-berak menahan ketawa.
"Saya punya kecemburuan pada Mahbub. Bagaimana dia bisa
menulis hingga orang tertawa, padahal isinya cukup serius? Kelebihan Mahbub
pada kolom-kolomnya, yang belum tertandingi oleh siapa pun, ialah bahwa ia bisa
mengatasi mempergunakan bahasa Indonesia dengan kecakapan seorang mime yang
setingkat Marcel Marcau. Kata dan kalimat, ia gerakkan dalam pelbagai
perumpamaan yang tidak pernah membosankan karena selalu tak terduga,"
demikian Goenawan Mohamad saat memberi kata pengatar dalam buku Kolom Demi
Kolom.
Barangkali Mahbub Djunaidi adalah kecerdasan, kelucuan, dan
kejenakaan yang berwujud manusia. Adonan ungkapan yang blak-blakan yang diracik
dengan metafor prosaik tinggi adalah kekuatan yang kerap dijadikan sebagai
arsenal ampuh yang pada saat tertentu berhasil membuat pembaca terguncang
perutnya menyelebrasikan kegembiraan yang disulut oleh kelucuan kolom bikinan
Mahbub Djunaidi.
"Gagasan dan kejutan yang diajukan dalam esai-esainya
sulit dibayangkan bisa ditulis dengan gaya penulisan lain. Pendek kata, bagi
saya, Mahbub adalah penyihir kata-kata," demikian Ahmad Makki dari Majalah
Historia menulis.
Barangkali, selain dipengaruhi oleh lingkungan asal yang
nyablak dan juga kental dengan tradisi dongeng, kekuatan tulisan Mahbub
Djunaidi terletak pada kemampuannya untuk 'bersastra ria'. Suatu ketika ia
pernah bilang bahwa:
Ia lebih nyaman dipanggil seorang sastrawan, daripada aktivis. Dengan menjadi sastrawan barangkali ia akan bebas melakukan eksperimen bahasa, tanpa harus disiram air keras. Ia akan beroleh licencia potica atau yang oleh sebagian ahli bahasa disebut sebagai deviasi bahasa. Sastrawan memperoleh semacam keistimewaan yang memperbolehkannya bereksperimen terhadap bahasa yang digunakannya.
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Mengembus diri dalam memercaya mau berpaut.
Dalam sajak Senja di Pelabuhan Kecil itu Chairil Anwar
menulis "ini kali" yang mestinya menurut aturan bahasa yang lumrah
adalah kali ini. Demikianlah yang disebut dengan deviasi bahasa. Sastrawan
dimungkinkan untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan dengan tujuan untuk men-
dapatkan nuansa bahasa yang lebih gereget dan segar.
Demikian pula Mahbub Djunaidi dalam tulisan-tulisannya. la
kerap melakukan akrobat bahasa. Ia tidak taat ejaan, urakan, dan pemberontak.
Semua aturan baku bahasa ia buang jauh ke tong sampah. Ia menulis dengan bahasa
yang hidup dalam pergaulan sehari-hari. Masa bodoh dan peduli setan dengan
aturan, yang penting tulisannya bisa dibaca dan membuat orang mengernyitkan
dahi sembari terkencing- kencing menahan ketawa, habis perkara.
Suatu ketika dalam kolomnya yang bertajuk "Buku
Petunjuk Pendidikan Politik Sejak Dini", begini cara Mahbub menggebuk
habis pemerintahan tanpa disiram air keras:
“Agar lebih memudahkan, paling utama berhentilah barang
setengah jam di depan kandang monyet. Monyet jenis apa saja pun, jadilah. Kamu
lihat monyet paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin
monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan pemimpin itu, bisa
disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling
pintar. Tapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa,
paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan
takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah kenal
sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan."
Kolom ini ditulis pada Maret 1981 saat Orde Baru berada di
puncak kulminasinya. Menohok, menusuk, namun kocak, menyentil, dan lucu. Untuk
meraciknya, tentu saja bahan baku utamanya adalah kecerdasan dan selera humor
yang tinggi.
Lain kesempatan, ia juga jago berolok-olok dengan tanpa
membuat yang diolok-olok marah. Alih-alih, yang ada malah kepingkal-pingkal
dibuatnya. Dalam kolomnya bertajuk “Wajah" ia menulis begini:
"Ambillah contoh di negeri awak. Idham Chalid itu,
siapa yang tidak kenal dia? Perawakannya tipis, tak ubahnya dengan umumnya
pedagang batu permata dari Banjar. Tapi dialah yang pegang rekor paling lama
menduduki kursi kekuasaan politik negeri ini sejak 1956, dan yang paling lama
pula menjabat pimpinan NU. Dari wajah dan posturnya, Abdurrahman Wahid
merupakan kebalikan yang mencolok. Orang yang disebut belakangan ini bertubuh
gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum, berkacamata tebal, bisa tidur di mana
saja, toh bisa sama-sama jadi ketua NU. Idham memiliki kelincahan yang tinggi,
dan Abdurrahman Wahid punya kebolehan humor yang megejutkan, seakan dia jambret
begitu saja dari laci."
Demikianlah Mahbub Djunaidi. Sabron Aidit menulis bahwa barangkali sebagai seorang sastrawan dan jurnalis sekaligus, sosok Mahbub Djunaidi sama belaka dengan Mochtar Lubis. Saya menolak dan tidak setuju dengan perbandingan ini. Pasalnya perbedaan keduanya sangat mencolok: yang satu kepalang lucu, sementara yang satunya lagi kelewat serius. Dan korban-korban aktivis sekarang, cenderung yang kedua itu.
Sekitar 8 tahun lalu, saya masih ingat, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember menyelenggarakan simposium pemikiran Mahbub Djunaidi, pematerinya Bapak-bapak gaul klub motor bernama Bang Isfandiari. Itu bagus dan tidak ada salahnya. Tapi lain kali menurut saya, PMII Banyuwangi juga bolehlah menggelar simposium soal selera humor dan kelucuan Mahbub Djunaidi ini, agar tidak kaku jadi aktivis dan gak disiram air zam-zam di tengah malam.
Oleh: Mahasin Haikal Amanullah (Lurah Mukadimah Institute)
