Mandakara - Ada masa ketika kajian menjadi ruang yang dirindukan. Orang-orang datang lebih awal, duduk rapat, menyimak dengan antusias, bahkan rela berlama-lama demi mendapatkan pemahaman yang lebih dalam. Namun kini, pemandangan itu perlahan berubah. Lantai Keraton (Basecamp, red.) semakin lengang, banyak ruas keramik yang tidak tertutupi manusia. Sementara undangan kajian tak lagi disambut dengan semangat yang sama. Pertanyaannya sederhana, tapi mengusik: ada apa dengan kita?
Kajian pernah menjadi jantung
aktivitas. Ia bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang bertumbuh,
berdiskusi, dan menyatukan visi. Namun belakangan, geliat itu terasa meredup.
Sebagian orang mungkin akan langsung menyalahkan waktu. Katanya, sibuk mengurusi
masalah perkuliahan, nyatanya mereka hanya menyembah rasa malas yang sebenarnya
tidak pantas untuk didewakan.
Faktor lain yang tak kalah
penting adalah budaya organisasi. Apakah kajian ditempatkan sebagai prioritas
atau hanya pemenuhan kalender kerja? Jika pimpinan dan pengurus tidak
menunjukkan keteladanan dalam menghadiri dan menghidupkan kajian, pesan yang sampai
ke anggota menjadi kabur. Kajian kehilangan posisi strategisnya, bergeser
menjadi kegiatan opsional yang mudah ditinggalkan.
Di sisi lain, anggota juga perlu
membenahi pandangan tentang Halaqah Pelajar (Hajar) bukan sekadar agenda
organisasi, melainkan investasi diri. Ia mungkin tidak selalu memberikan hasil
instan, tetapi justru di situlah letak nilainya membangun cara berpikir,
memperluas perspektif, dan memperkuat nilai, meningkatkan intelektual.
Namun, menyederhanakan persoalan
hanya pada pemimpin dan anggota juga tidak adil. Topik kajian apakah sesuai
dengan eranya? Atau malah terbalik? Topik harus meningkatkan rasa tahu para
peserta kajian. Akibatnya, anggota hadir bukan karena ingin tahu, tetapi karena
merasa perlu dan ketika rasa “perlu” itu hilang, kehadiran pun ikut menghilang.
Pada akhirnya, pertanyaan “ada
apa dengan kita?” bukanlah tudingan, melainkan ajakan untuk upgrade
diri. Jika kajian dalam organisasi mulai kehilangan daya tariknya, bisa jadi
itu bukan karena kajian itu sendiri, tetapi karena cara kita mengelola,
memandang, dan memaknainya. Dan selama itu belum berubah, kajian akan terus
berjuang mencari tempatnya di tengah hiruk-pikuk aktivitas organisasi.
Oleh: Asmara Bahtera
