Mandakara - Tulisan ini bukan sekadar naskah seremonial. Ia adalah sebuah helaan napas panjang bagi kita yang seringkali merasa asing di rumah sendiri. Di tengah daerah setengah urban yang serba cepat, menjadi nakhoda IPNU-IPPNU seringkali terasa seperti memeluk bara api dalam sunyi.
Kita
lelah, kita jenuh, dan terkadang kita ingin menyerah pada angka-angka
pengaderan yang tak kunjung memuaskan. Namun, melalui tulisan ini, mari kita
berhenti sejenak. Bukan untuk berhenti berjuang, tapi untuk menemukan kembali
"kenapa" kita memulai. Ini adalah surat cinta bagi para pejuang
esensi yang tetap memilih khidmat meski di serang badai eksistensi.
Menata Shaf di Tengah Badai
Mbah
Tolchah Mansoer tidak sedang mewariskan sebuah gedung megah, beliau mewariskan
sebuah "frekuensi tradisi intelektual kalangan pelajar dan santri".
Di tengah konfrontasi arus dunia yang hari ini begitu bising, kita seakan
dipaksa untuk memilih: hanyut menjadi debu yang terbang tak tentu arah, atau
berdiri kokoh sebagai batu karang yang tak terlihat, namun menentukan arah.
Wirid
pelajar Nahdliyyin bukanlah sekadar komat-kamit di bibir saat tahlil atau "ber-janjenan",
melainkan sebuah resistensi batin—sebuah "perlawanan halus" terhadap
dunia yang semakin memaksa kita untuk menjadi seragam dan superfisial. Di usia
ke-72 ini, kita tidak sedang merayakan angka, kita sedang merawat nyawa
organisasi yang mulai sesak napas oleh kepungan budaya luar.
Penyakit "Kulit" di Tengah Hegemoni Visual
Kita
hari ini, di Anak Cabang yang tanahnya mulai tertutup aspal dan beton urban,
sedang didera penyakit yang disebut Cak Nun sebagai "Budaya
Superfisial". Kita seringkali lebih peduli pada layout poster Harlah
daripada output pemikiran kader. Kita hobi sekali bersolek; jas hijau
disetrika licin, lencana dipasang tegak, foto kegiatan diunggah dengan caption
paling "langit", tapi batin kita seringkali compang-camping.
Kita
lebih takut jumlah like di media sosial menurun daripada takut jika
santri-santri kita kehilangan arah di meja tongkrongan. Kita sibuk membangun
"prejengan" agar terlihat gagah di depan orang, namun lupa
membangun "kedalaman" agar tidak hanyut arus dunia yang mulai gila.
Padahal, IPNU-IPPNU adalah rumah bagi para pencari esensi, bukan panggung bagi
para pemburu eksistensi.
Tragedi Pejuang yang Kehilangan Arah Pulang
Kita
ini seringkali menjadi pejuang yang kehilangan arah pulang. Kita merayakan
Harlah dengan gegap gempita, tapi di pojok ruangan, ideologi kita sedang
sekarat dan hampa. Banyak warga NU di sekitar kita, tapi mereka mungkin hanya
"NU KTP" yang belum tentu paham mengapa IPNU itu ada. Mereka tidak
tahu bahwa kita ada, mereka tidak tahu kita sedang berbuat apa-apa, bahkan kita
sendiri bingung mau apa selain sibuk bersolek di ruang digital?
Inilah
konfrontasi nyata kita. Kita dikepung oleh massa, namun kesepian dalam makna.
Menjadi pengurus di daerah urban adalah sebuah perjuangan menjaga
"syahadat pelajar" agar tetap murni. Jangan sampai organisasi kita
terlihat megah secara struktur, namun kerontang secara hakikat.
Wirid Kesunyian: Kekuatan Diam sebagai Benteng Esensi
Mungkin
kita lelah, apalagi bagi jiwa-jiwa pendiam yang merasa energinya habis dihisap
keriuhan organisasi. Namun, di sinilah letak keajaiban "Wirid
Pelajar" itu. Wirid adalah kekuatan dalam kesunyian. Menjadi pendiam di
tengah riuh organisasi ini bukan kutukan, melainkan sebuah posisi strategis
untuk tetap "sadar" di tengah mabuk panggung.
Kader-kader
hanya jadi angka dalam daftar anggota atau dekorasi dalam foto pengurus. Dunia
urban akan terus menggoda kita untuk menjadi manusia "pajangan"—yang
bagus di luar, tapi kosong di dalam. Kita butuh orang-orang yang mau "diam"
untuk berpikir, yang mau "tenang" untuk merenung, dan yang mau
"setia" pada esensi, meski tanpa tepuk tangan. Khidmat yang paling
tulus adalah khidmat yang tetap berjalan meski lampu panggung telah padam.
Syahadat di Ujung Khidmat
Mari
kita kembali ke barak batin kita masing-masing. Mari kita tanyakan lagi: Kita
ini sedang ber-IPNU untuk menginternalisasikan ideologi, atau hanya untuk
terlihat keren di depan gawai?
Sebab,
jika jas ini dilepas, jika jabatan ini dicopot, dan jika semua validasi duniawi
itu dihilangkan, yang tersisa hanyalah sisa-sisa makanan yang kita
internalisasikan, yakni berupa ideologi. Sejauh mana ideologi itu mendarah
daging dalam menemani langkah kita.
*
Selamat Harlah ke-72 dan ke 71. Jangan lelah menjadi manusia "isi" di tengah dunia yang makin gila pada "kulit".
Belajar, Berjuang, Bertakwa. Sudahkah kita sampai pada titik takwa, atau baru sebatas hobi bergaya?
