Ada banyak cara sebuah daerah menjaga dan mengingat budayanya. Sebagian melakukannya lewat festival besar dan promosi wisata yang terencana. Banyuwangi termasuk daerah yang cukup berhasil dalam hal ini. Berbagai event budaya digelar secara rutin dan dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun di tengah keberhasilan tersebut, ada satu tradisi yang jarang muncul dalam ruang publik, terutama di kalangan generasi muda, yaitu Aljin. Ia tidak sering disebut dalam promosi budaya, tetapi memiliki akar yang kuat dalam sejarah masyarakat Osing.
Aljin di Tengah Keramaian Banyuwangi
Jika berbicara tentang budaya Banyuwangi, yang sering muncul pertama kali adalah Tari Gandrung. Pertunjukan massal seperti Festival Gandrung Sewu juga menjadi ikon tahunan yang menyedot perhatian publik. Begitu pula Banyuwangi Ethno Carnival yang memadukan konsep modern dan tradisi dalam satu parade besar.
Ritual seperti Seblang dan Kebo-Keboan juga masih dikenal dan terdokumentasi dengan baik. Secara umum, budaya-budaya tersebut memiliki kekuatan visual yang tinggi. Mereka mudah direkam, dipromosikan, dan disebarluaskan melalui media sosial.
Berbeda dengan itu, Aljin bukan tradisi visual. Ia adalah tradisi lisan masyarakat Osing yang berbentuk mocoan atau pembacaan Lontar Yusuf, yaitu kisah Nabi Yusuf yang dilantunkan dalam irama pacul gowang. Beberapa tulisan mengenai budaya Osing menyebutkan bahwa mocoan berkembang sebagai bagian dari proses Islamisasi kultural di Banyuwangi (lihat EastJava.com; Alif.id). Tradisi ini menjadi media penyampaian nilai-nilai agama melalui pendekatan seni dan bahasa lokal.
Dalam sejarahnya, pertunjukan ini berkembang kuat pada abad ke-20 dan dikenal luas melalui sosok seniman bernama Aljin, yang lahir di Genteng pada 1921. Beberapa catatan komunitas budaya lokal menyebutkan bahwa melalui dirinya, bentuk pertunjukan mocoan pacul gowang menjadi lebih terstruktur dan dikenal di berbagai wilayah Banyuwangi (lihat dokumentasi komunitas budaya Banyuwangi dan tulisan kanal3.wordpress.com tentang maestro mocoan). Tradisi ini kemudian diteruskan oleh pelaku-pelaku berikutnya yang menjaga keberlangsungannya meskipun ruang tampilnya semakin terbatas.
Yang menarik, meskipun tidak masuk dalam panggung festival besar, Aljin tetap hadir dalam konteks ritual masyarakat, salah satunya dalam kegiatan Petik Laut Grajakan. Dalam sejumlah liputan lokal dan dokumentasi kegiatan masyarakat pesisir, disebutkan bahwa pertunjukan Aljin menjadi bagian dari rangkaian acara yang bersifat simbolik dan spiritual. Artinya, keberadaannya masih dianggap penting dalam konteks tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa Aljin sebenarnya tidak hilang, tetapi mengalami pergeseran posisi. Ia tidak berada di pusat promosi budaya, namun tetap hidup dalam ruang yang lebih terbatas.
Perubahan Pola Konsumsi Budaya dan Tantangan Aljin
Salah satu faktor yang membuat tradisi seperti Aljin semakin jarang dikenal adalah perubahan pola konsumsi budaya. Saat ini, budaya sering kali dinilai dari seberapa kuat daya visualnya dan seberapa cepat ia bisa tersebar melalui media sosial. Tradisi yang memiliki unsur pertunjukan besar, kostum mencolok, dan koreografi massal lebih mudah menarik perhatian.
Sebaliknya, Aljin membutuhkan waktu dan kesabaran untuk dipahami. Ia berbasis pada suara, teks, dan penghayatan. Pembacaan Lontar Yusuf tidak bisa dipotong menjadi klip singkat tanpa kehilangan konteks cerita. Dalam format digital yang serba cepat, bentuk seperti ini memang kurang “ramah algoritma”.
Selain itu, sistem pewarisan tradisi lisan juga menghadapi tantangan regenerasi. Tanpa dokumentasi yang memadai dan tanpa ruang pembelajaran yang terstruktur, tradisi seperti mocoan lebih mudah redup dibandingkan bentuk seni yang telah masuk ke dalam kurikulum atau program festival rutin.
Namun persoalannya bukan pada relevansi nilai. Secara substansi, Aljin tetap memuat nilai religius, pendidikan moral, dan identitas budaya Osing. Ia adalah bagian dari sejarah Islam kultural di Banyuwangi yang berkembang melalui pendekatan seni, bukan melalui struktur formal semata.
Yang berubah adalah konteks sosialnya. Dulu, masyarakat berkumpul untuk mendengar. Hari ini, masyarakat lebih sering mengonsumsi budaya melalui layar. Pergeseran ini membuat tradisi berbasis lisan menghadapi tantangan yang lebih besar dibanding tradisi berbasis visual.
Refleksi: Apakah Semua Tradisi Harus Viral?
Di titik ini, pertanyaannya menjadi lebih mendasar. Apakah sebuah tradisi harus viral untuk dianggap penting? Jika ukuran keberhasilan budaya hanya dilihat dari jumlah penonton dan tayangan, maka tradisi seperti Aljin memang akan selalu kalah dibanding festival besar.
Namun jika budaya dipahami sebagai bagian dari memori kolektif dan identitas lokal, maka ukuran tersebut menjadi tidak cukup. Ada tradisi yang hidup dalam ruang besar, ada pula yang hidup dalam ruang terbatas tetapi bermakna.
Tantangannya hari ini bukan sekadar melestarikan dalam arti mempertahankan bentuk lama, tetapi juga memikirkan cara agar tradisi ini tetap dikenal tanpa kehilangan konteksnya. Dokumentasi, penulisan, kajian akademik, serta pengenalan melalui ruang pendidikan bisa menjadi langkah awal. Bukan untuk menjadikannya sekadar komoditas, tetapi untuk memastikan bahwa ia tetap tercatat dan dipahami.
Aljin mungkin tidak ramai. Ia tidak menjadi headline promosi wisata. Tetapi ia menyimpan jejak sejarah, nilai religius, dan dinamika sosial masyarakat Osing yang penting untuk dikenali.
Pada akhirnya, keberlanjutan sebuah tradisi tidak hanya ditentukan oleh panggung besar atau algoritma media sosial. Ia juga ditentukan oleh kesadaran kolektif untuk mengenali dan menghargai warisan budaya yang tidak selalu tampil mencolok.
Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois
Baca Juga
Alif.id. (n.d.). Tradisi mocoan dalam masyarakat Osing Banyuwangi. Diakses dari https://alif.id
EastJava.com. (n.d.). Mocoan Pacul Gowang – Traditional Art of Banyuwangi. Diakses dari https://www.eastjava.com
Kanal3.wordpress.com. (2016). Aljin, tokoh seniman tradisional Mocoan Pacul Gowang dari Banyuwangi. Diakses dari https://kanal3.wordpress.com/
Kanal3.wordpress.com. (2016). Mengenang Mak Onah, maestro Mocoan Pacul Gowang Banyuwangi. Diakses dari https://kanal3.wordpress.com
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. (n.d.). Festival Gandrung Sewu. Diakses dari https://banyuwangikab.go.id
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. (n.d.). Banyuwangi Ethno Carnival. Diakses dari https://banyuwangikab.go.id
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. (n.d.). Tradisi Petik Laut Muncar dan Grajakan. Diakses dari https://banyuwangikab.go.id
Saputra, H. S. P. (2007). Memuja Mantra: Sabuk Mangir dan Jaran Goyang dalam Tradisi Osing Banyuwangi. Yogyakarta: LKiS.
Setiawan, I. (2012). Tradisi lisan masyarakat Osing Banyuwangi. Jurnal Humaniora, 24(2), 145–156.
