Refleksi Kritis Terhadap Eksekusi Fun Camp: Gagal Menciptakan Kesenangan

 


Mandakara - Kegiatan Fun Camp yang sejatinya dirancang sebagai ruang kebersamaan, penguatan karakter, dan penyegaran mental peserta, justru berakhir jauh dari ekspektasi. Alih-alih menghadirkan pengalaman yang menyenangkan dan berkesan, kegiatan ini malah menyisakan rasa kecewa, kebingungan, dan pertanyaan besar tentang kesiapan panitia dalam merancang sebuah agenda besar.

Pimpinan Komisariat (Perguruan Tinggi) Universitas Islam Ibrahimy Banyuwangi (PKPT UNIIB), Sabtu, 31 Januari hingga Minggu, 1 Februari, melakukan kegiatan yang katanya tempat untuk berekspresi dan bertukar ide, yakni Fun Camp. Kegiatan menyenangkan yang sudah dilakukan turun temurun dari generasi ke generasi, nyatanya gagal di tahun 2026.

Mustika Beach menjadi saksi kegagalan kegiatan ini. Jadwal kegiatan berjalan tidak sesuai rundown, banyak sesi yang molor bahkan dibatalkan tanpa penjelasan yang jelas. Peserta dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian, tanpa informasi mengenai perubahan agenda. Kekecewaan terdengar di seluruh penjuru pantai, banyak pertanyaan muncul apa faktor kegagalan ini. Kurang persiapan-kah panitia? Atau memang sengaja merusak martabat?

Kegiatan Fun Camp ini tidak disiapkan mendadak, tapi kenapa dikatakan gagal. Awal keberangkatan menuju tempat tujuan sudah disuguhi kejadian yang tidak mengenakkan. Salah satu peserta mengalami kecelakaan, tergores kulit cantiknya hingga terpaksa dipulangkan. Terpaksa peserta lain tetap melanjutkan perjalanan demi kesuksesan kegiatan yang belum pasti. Peserta yang sampai di sana, mulai memasang tenda tempat untuk mengaduh ketika malam mulai menyelimuti bumi, nyatanya tetesan hujan menghalangi.

Menurut kesaksian peserta yang tidak disebutkan namanya:

“Mulai bikin tenda itu malam banget. Malah hujan, ada angin juga, sampai terbang tendanya itu. Dari 5 tenda, 4 terbang. Ya Allah, capek banget.”

Menurut kesaksian peserta, dari membangun tenda saja sudah bisa dilihat berapa persen kegiatan ini berhasil. Bisa kita katakan 10% atau 5% atau bahkan 0%. Kegiatan yang seharusnya menyenangkan dan asik, malah naas membuat peserta dan panitia kelelahan. Tidak menyalakan persiapan, tapi apakah pantas kita menyalahkan Tuhan atas segala hal yang terjadi? Seharusnya kita juga memikirkan kemungkinan itu, bukan?

Januari kebanyakan orang menyebutnya hujan sehari-hari. Lalu, mengapa tidak kita pikirkan juga kemungkinan hujan itu? Tempat yang kita tuju adalah pantai, tempat yang teramat rawan ketika musim penghujan. Mustika Beach, syukurlah kami tidak terbawa arusmu yang sangat kuat.

Malam semakin larut, matapun sudah lelah, kantuk pun datang. Kegiatan yang seharusnya menjadi tempat bertukar ide dan gagasan, malah menjadi tempat curhat yang tidak jelas arahnya. Semua orang mengutarakan pendapat, kritik dan saran tentang kegiatan Fun Camp, yang katanya “berhasil” ini.

Dari pendapat salah satu peserta:

“Mau dibawa ke mana arahnya kegiatan Fun Camp ini? Terus mana ini yang mengundang kita untuk datang? Gimana persiapannya? Semua sudah meluangkan waktunya untuk ikut acara ini, mengapa (mereka, red.) tidak meluangkan waktu dengan alasan kerja? capek? Semua di sini juga capek dan lelah.”

Tidak malukah kegiatan yang digadang-gadang akan sukses besar dan jaya malah menjadi tsunami yang menelan banyak korban? Korban perasaan, korban waktu, bahkan korban biaya. Sulit jika mau mengatakan kegiatan ini berhasil, dari awal hanya kekecewaan yang menyelimuti.

Fun Camp seharusnya menjadi ruang tawa, kebersamaan, dan pembelajaran bermakna. Namun ketika perencanaan yang lemah dan eksekusi yang tidak maksimal dibiarkan, maka yang tersisa hanyalah kekecewaan.

Kritik yang muncul dari pelaksanaan Fun Camp ini menjadi pengingat bahwa kegiatan apapun tidak cukup hanya bermodal konsep dan semangat. Perencanaan yang matang, koordinasi yang solid, serta kesiapan teknis yang memadai merupakan kunci agar setiap kegiatan benar-benar memberi manfaat dan pengalaman bermakna bagi peserta.

Oleh: Asmara Bahtera
Lebih baru Lebih lama