Mandakara - Masyarakat Indonesia digegerkan oleh berita yang tengah panas. Oknum berseragam menuduh tanpa bukti perihal jajanan anak-anak, yakni “es gabus” yang terbuat dari spons. Tanpa bukti, tanpa surat keterangan, dengan angkuhnya mereka menodongkan fitnah penjual es gabus yang menggunakan bahan dasar spons.
Bagaimana
Indonesia? Orang yang seharusnya mengayomi kini malah mempermalukan rajanya
sendiri. Penjual es itu hanya seorang ayah yang berusaha menghidupi keluarga
dengan uang halal, tapi mengapa kau dengan mudahnya menginjak-injak
martabatnya. Katanya Indonesia-ku kaya. Katanya Indonesia ku emas. Nyatanya,
itu hanya formalitas sebuah negara, bukan hal yang disikapi sampai tuntas.
Menyadur
Kompas.com, Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat,
Aiptu Ikhwan Mulyadi, mengaku salah dan meminta maaf usai sempat menuduh
pedagang es gabus atau es kue di Kemayoran menggunakan bahan spons.
"Kami,
Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas dan membuat video tentang penjual es
kue yang diduga berbahan spons di wilayah Kemayoran, menyampaikan permohonan
maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul
akibat video yang sempat beredar luas di media sosial," ujar Ikhwan dalam
video yang dibagikan humas Polres Metro Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Bagaimana
Indonesia? Apakah hal seperti akan terus-menerus dibiarkan? Sedangkal itukah
otak oknum berseragam kita?
Dengan mudahnya
ia mengucapkan permintaan maaf setelah menginjak-injak martabat seorang ayah
yang berusaha tetap bangkit, di kala ekonomi Indonesia yang tidak tau arahnya
mau kemana. Tidak adakah tindakan hukum untuk orang berseragam.
Mengapa raja
sebuah negara yang mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan malah dibiarkan.
Apakah Indonesia benar-benar akan menyerah oleh kebodohan? Aparat penegak hukum
saja bisa lolos setelah melakukan fitnah, tapi mengapa rakyat yang membela
kebenaran harus mendekam di balik jeruji besi. Serendah itukah sumber daya
manusia kita, Pak.
Mengutip Serambinews.com,
sosok anggota TNI yang memaksa seorang penjual es gabus memakan dagangan
miliknya sendiri akhirnya terungkap. Oknum TNI tersebut bernama Heri, yang
diketahui bertugas sebagai Babinsa Kelurahan Utan Panjang, Kemayoran.
Aksi Heri
menjadi sorotan publik setelah sebuah video memperlihatkan dirinya memaksa
Suderajat (49), pedagang es gabus, untuk memakan es kue jadul yang dijualnya.
Video tersebut viral di berbagai platform media sosial dan menuai
kecaman warganet.
Menanggapi
kasus es gabus yang viral ini, beberapa influencer sampai memberikan
tutorial membuat es gabus yang benar-benar tidak menggunakan gabus. Es gabus
hanya berbahan dasar tepung hankwe dan santan. Bagaimana bisa spons dimasak dan
dimakan?
“Seorang
pedagang kecil, tangan gemetar, dagangannya sederhana, tapi hari itu
martabatnya di pertontonkan kepada orang luas, dituduh menjual es berbahan
spons,” kata salah satu influencer.
“Katanya hasil
laboratorium tidak ada spons dalam es gabus. Saya tidak kaget, tapi lebih kaget
ada orang yang mengira spons bisa dimakan,” kata Gerald, seorang influencer.
Dari kasus ini,
kita bisa belajar bahwa tidak apa-apa kita tidak berseragam, tidak membawa
pistol kemana-mana, asalkan otak kita waras. Percuma jika berseragam, tapi
malah mempermalukan diri sendiri dengan menuduh tanpa bukti.
Itulah
Indonesia, negara kecil yang berusaha menjadi raksasa, tapi tidak mau belajar
dari kesalahan. Indonesia emas 2045 mungkin tidak akan terwujud jika sumber
daya manusianya tetap seperti ini. Tetap semangat, stay save Indonesia
kita.
Oleh: Durotun
Nafisah
Rujukan
https://aceh.tribunnews.com/news/1008939/sosok-heri-oknum-tni-yang-paksa-pedagang-es-gabus-makan-dagangan-hingga-viral
