Mandakra - Hujan menguyur malam itu. Usaha
demi usaha kami lakukan. Saling memberi kabar, menjunjung tinggi komunikasi,
menerabas rintik hujan. Rasa lapar, dingin, dan mungkin mantra yang berulang
dalam diri: aku sehat, aku bisa, aku kuat. Dan mungkin, semua itu
hanyalah bualan kecil yang kita bisikkan pada diri masing-masing agar tetap
bertahan.
Entah dalam kalimat itu sudah
cukup disebut sebagai effort atau belum, yang jelas kami tetap
memperjuangkan pertemuan itu. Hingga akhirnya tiba di tempat. Setelah temu,
perihal titik refleksi, emosi yang saling bertaut, jarum jam tiba-tiba
menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
Aku selalu terdesak oleh pesan
ibu yang terus mengingatkanku: sayangi tubuhmu, tidur teratur. Selarut apa
pun, istirahatlah. Lupakan semuanya. Lanjutkan besok.
Pesan itu bergema di kepala. Namun, pernahkah kalian berpikir bahwa ada
pertemuan-pertemuan yang begitu jarang, hingga meninggalkannya terasa terlalu eman?
Kukira, malam itu adalah salah satunya.
Sebelum aku beranjak menuju tenda
untuk beristirahat, dua anjing di pinggir pantai menarik perhatianku. Aku
bergegas ke bibir pantai, sendirian. Hanya ada suara ombak, gerak anjing yang berlarian
ke sana ke mari, dan riuh yang memenuhi kepala.
Aku melontarkan kegaduhan batin
itu ke laut:
“Mengapa bertahan? Mengapa
mati-matian memperjuangkan?”
Kutarik ingatan ke belakang. Di
sana kutemukan ikatan emosional itu—mengakar di dalam diriku. Ia belum
sepenuhnya kokoh, tetapi ia terus bertumbuh. Dan pada titik itulah aku
menyadari: yang membuatku tetap bertahan bukan sekadar lelah yang dipaksa kuat,
melainkan nilai dan makna yang perlahan menemukan bentuknya.
Pemaknaan itu pernah kutemukan
dalam buku Pergulatan Wacana Kader Muda NU Ujung Timur Pulau Jawa: Kritik,
Refleksi, dan Cita (Cetakan Pertama, hlm. 133): dengan judul esai “The
Will of Khidmat: Finding Our True North Again” yang ditulis oleh Tri
Mardiansah sebagaimana berikut:
"Organisasi adalah kapal yang
berlayar di samudra zaman; ia hanya akan bertahan jika memiliki kompas nilai
yang jujur dan dijaga bersama. Bukan besar-kecilnya struktur yang menentukan,
melainkan makna yang dihidupi oleh para awaknya. Kapal tanpa makna hanyalah
bentuk yang terapung—bergerak, tetapi kehilangan arah."
"Nilai adalah kompas, kader
adalah pelaut, dan cita-cita adalah arah pelayaran. Ketiganya saling mengikat.
Kepemimpinan sejati bukan soal jabatan, melainkan kesetiaan menjaga arah layar
agar tetap tegak meski badai datang. Konflik, perbedaan, dan ketegangan bukan
ancaman, melainkan ujian kedewasaan kolektif—yang justru menguatkan bila
dihadapi dengan kesediaan belajar dan solidaritas."
"PKPT Universitas Islam
Ibrahimy Banyuwangi adalah ruang kaderisasi nilai: tempat membaca arah,
menguatkan layar, dan mewariskan ruh dedikasi lintas generasi. Kader sejati
bukan pewaris posisi, melainkan pewaris makna. Solidaritas menjadi jantung
kapal—memastikan setiap pelaut tetap berdiri dan berlayar bersama, meski dengan
cara yang berbeda."
"Pada akhirnya, khidmat bukan
tentang tiba di pelabuhan, melainkan tentang terus berlayar dalam arah yang
benar. Yang abadi bukan nama pengurus atau tumpukan laporan, melainkan kompas
nilai yang tetap menyala di dada kader. Selama nilai Aswaja, pengabdian, dan
perjuangan kolektif dijaga, kapal ini tidak akan tenggelam—ia akan terus
bergerak menuju cahaya."
*
Namun, sebelum ikut berlayar di
kapal organisasi, pemaknaan atas diri perlu diimbangi dengan kejelasan arah
hidup pribadi. Dalam buku karya Edward Suhadi, Panduan Lima Jari, hal
itu dijelaskan dengan sederhana namun mendalam:
Jari jempol: simbol
mengerjakan yang terbaik.
Jari telunjuk: pengingat bahwa
hidup harus terus bertumbuh.
Jari tengah: ajakan untuk
selalu bersyukur.
Jari manis: melambangkan
pentingnya membangun hubungan yang mendalam.
Jari kelingking: simbol
menanamkan benih kebaikan dalam kehidupan orang lain.
Edward mengajak kita memberi
makna pada hidup agar mampu menciptakan dan membawa perubahan. Setiap kali
melangkah menjalani hari, lihatlah jempol kita—ingat untuk selalu melakukan
yang terbaik. Ketika mindset jempol telah tertanam, jangan lupakan jari
telunjuk: hidup harus tumbuh, lebih baik dari hari kemarin. Ini bukan hal yang
mudah dan harus diupayakan terus-menerus.
Salah satu cara agar tetap
bertumbuh adalah dengan belajar hal baru—menanamkan keinginan untuk terus
belajar. Filosofi jempol dan telunjuk yang dilakukan secara telaten, insyaallah,
akan mengantarkan pada kesuksesan. Namun perlu diingat, kesuksesan setiap orang
tidaklah sama. Jangan menggunakan parameter orang lain; gunakan ukuran diri
sendiri, lakukan refleksi, dan syukuri proses—itulah makna jari tengah.
Jari manis mengajarkan kita
menjaga hubungan yang hangat, terutama dengan orang-orang terdekat. Rukun bukan
berarti tanpa perbedaan, melainkan keberanian membicarakan perbedaan dengan
baik dan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Kerukunan menghadirkan
keberkahan.
Sementara jari kelingking
mengingatkan bahwa kebaikan adalah investasi. Menanam kebaikan tidak selalu
soal uang; ia bisa berupa ilmu, keterampilan, atau dukungan bagi mereka yang
memiliki potensi untuk tumbuh. Inilah yang disebut berkah manfaat.
Sebelum mengolaborasikan diri
dengan banyak hal di luar, mari terlebih dahulu memberi makna pada diri
sendiri—menepis rasa kosong, rasa tertinggal, dan menyalakan kembali semangat
untuk memaknai hidup serta berkontribusi pada hal-hal baik.
Jika tulisan ini meninggalkan
kesan, terkhusus bagi jenengan semua—para kader yang sedang
bertumbuh—ketahuilah bahwa tulisan ini lahir dari ketakutan akan tanggung jawab
sebagai kader; dari rasa penasaran tentang bagaimana semestinya menjadi kader;
dari pencarian nilai dan makna.
Pertemuan demi pertemuan
membangun ikatan emosional itu. Dukungan mengakar kuat, menjadi obor di tengah
gelap, menjadi pegangan saat takut melangkah. Hingga akhirnya tumbuh rasa
ringan—tak ada beban—meski harus terus melaju saat hujan dan badai turun.
Ternyata yang paling nikmat adalah prosesnya. Semua hal ajaib tercipta dari proses dan benturan-benturan spektakuler. Dan ku kira: begitulah hidup—selalu disertai ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan. Namun, Allah menyediakan rasa cinta untuk bertahan dan rasa syukur sebagai sumber kekuatan.
Oleh: Hima Milaini Assyifa
