Di Balik Layar Fun Camp: Antara Detak Cita dan Secangkir Empati

 


Mandakara - Beberapa waktu terakhir, pelaksanaan Fun Camp kita menjadi buah bibir. Berbagai kritik tajam dan "huru-hara" opini muncul ke permukaan, yang menghembus atas ketidakteraturan jadwal dan penundaan acara. Sebagai bagian dari dinamika mahasiswa, kritik adalah asupan bergizi. Namun, sebuah narasi tidak akan utuh jika kita hanya melihat apa yang tampak di depan panggung, tanpa memahami urgensi yang terjadi di balik layar.

Jika cita-cita organisasi adalah sebuah detak yang menuntut kita untuk terus bergerak mencapai tujuan, maka empati adalah secangkir kehangatan yang sederhana, namun personal. Ia tidak megah seperti gedung, tapi ia memberikan kenyamanan yang nyata bagi siapa pun yang "meminumnya".

Penundaan agenda yang terjadi bukan lahir dari sebuah kelalaian, melainkan dari pilihan sulit untuk sejenak berhenti mengejar detak cita demi menyuguhkan secangkir empati bagi nyawa yang sedang terancam.

Kita perlu meluruskan satu hal: kami tidak sedang melupakan tanggung jawab, kami hanya sedang memilih untuk menyelamatkan apa yang lebih berharga dari sekadar angka dan jadwal, yakni nyawa dan rasa sadar untuk menempatkan nilai nurani sebagai prioritas tertinggi.

Pada saat persiapan menuju lokasi, terjadi sebuah insiden kecelakaan yang menimpa salah satu rekanita kita. Sebagai manusia, nan sebagai sesama teman bertumbuh bersama, apalagi sebagai pelaksana, keselamatan nyawa anggota adalah prioritas absolut yang berada jauh di atas presisi jadwal acara sehebat apa pun.

Banyak yang beranggapan bahwa organisasi adalah sebuah "detak" yang tidak boleh berhenti. Kami sepakat. Namun, kita harus bijak memaknai detak tersebut. Organisasi bukanlah mesin yang berdetak kaku secara mekanis, melainkan organisme hidup yang memiliki perasaan. Ada saatnya detak itu berupa akselerasi agenda, namun ada kalanya detak itu harus beralih menjadi denyut solidaritas yang lebih hangat kencang di ruang darurat.

Saat itu, kami tidak sedang menghentikan organisasi. Kami justru sedang memastikan "jantung" organisasi ini tetap berfungsi dengan cara menjaga nyawa orang-orang di dalamnya. Sebagai keluarga di ruang tumbuh bersama moral dan operasional, harus mengambil keputusan cepat untuk mendampingi dan memastikan penanganan medis tersebut tuntas.

Dampaknya? Ya, kami sadar ada waktu yang terbuang. Ada teman-teman di lokasi acara yang merasa digantung, bingung, hingga akhirnya muncul berbagai spekulasi yang memicu miskomunikasi massal. Namun, mari kita berefleksi sebagai sesama mahasiswa yang katanya menjunjung tinggi nilai solidaritas.

Jika kita memaksakan acara tetap berjalan sesuai jadwal, sementara  ada yang sedang bertaruh nyawa di jalanan tanpa pendampingan dari penanggung jawabnya, di mana letak "persaudaraan" yang selalu kita gaungkan? Apakah sebuah Fun Camp masih bisa disebut "menyenangkan" jika dibangun di atas pengabaian terhadap keselamatan kawan sendiri?

Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan, kepanikan, dan kesalahpahaman yang terjadi di lapangan. Huru-hara yang muncul adalah akibat dari terputusnya arus informasi karena fokus kami sedang tersita sepenuhnya pada situasi darurat (emergency). Kami menerima segala kritik mengenai teknis komunikasi kami yang mungkin gagap saat itu.

Namun, melalui tulisan ini, kami ingin mengajak kawan-kawan semua untuk melihat dengan perspektif yang lebih luas. Bahwa kepemimpinan bukan hanya soal menjalankan rundown secara kaku, tapi soal tanggung jawab terhadap keselamatan setiap jiwa yang ada di dalamnya.

Kesalahpahaman adalah ruang untuk kita bertumbuh. Mari kita sudahi spekulasi yang tidak perlu dan kembali fokus pada esensi kebersamaan kita. Rekan kita sudah berangsur membaik, dan semoga kedewasaan kita dalam menanggapi masalah juga semakin baik.

Karena pada akhirnya, organisasi yang hebat bukan hanya soal seberapa cepat ia berlari mencapai cita, tapi soal memastikan tidak ada satu pun anggotanya yang tertinggal dalam kedinginan saat mereka sedang terluka.

Oleh: Rekanita Yusriza Natasya
Lebih baru Lebih lama