Mandakara - Selama ini kita sering keliru menganggap bahwa ruang
kelas adalah ruang hampa politik yang netral. Kita datang, duduk, mencatat, dan
menghafal, dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah tangga otomatis menuju
kesejahteraan ekonomi. Namun, di balik ijazah dan gelar akademis yang kita
agungkan, tersimpan sebuah pertanyaan besar yang jarang diajukan: apakah
institusi pendidikan sedang membebaskan pikiran kita, atau justru sedang
menjinakkan kita agar patuh pada sistem mesin besar yang memang sudah
dirancang?
Oleh karenanya perlu kita pahami bentuk pendidikan saat
ini yang kita alami sebagaimana hal di atas. Pendidikan akademis konvensional
hadir sebagai sistem yang terstruktur untuk mewariskan ilmu pengetahuan dan
menyiapkan individu agar adaptif terhadap kebutuhan zaman, terutama kebutuhan
pasar tenaga kerja.
Di sisi lain, muncul arus pendidikan pritis yang
menggugat kemapanan tersebut. Pendidikan kritis memandang bahwa sekolah bukan
sekadar tempat transfer informasi, melainkan medan tempur politik. Jika
pendidikan akademis berfokus pada apa yang harus diketahui, pendidikan
kritis berfokus pada mengapa kita harus mengetahuinya dan siapa
yang diuntungkan dari pengetahuan tersebut.
Pendidikan Sebagai "Lini Produksi Pencetak Instan“
Realitasnya, sistem pendidikan konvensional sering
kali beroperasi layaknya pabrik. Siswa dipandang sebagai bahan baku yang harus
distandardisasi agar sesuai dengan spesifikasi industri. Keberhasilan seorang
pendidik diukur dari seberapa cepat lulusannya "terserap" oleh pasar
tenaga kerja.
Dalam konteks ini, pendidikan bukan lagi soal
memperluas cakrawala berpikir, melainkan soal efisiensi teknis. Kita dididik
untuk menjadi ahli dalam "cara" melakukan sesuatu, namun dilarang
bertanya "untuk siapa" dan "mengapa" hal itu dilakukan.
Menyangkut hal ini Ki Hajar Dewantara pernah
mengatakan bahwa “pendidikan itu seharus nya memerdekakan akan tetapi bukan
memperbudak!” Lantas mangapa sedemikian itu?
Di sinilah Ki Hajar Dewantara akan
mengkritik. Mereka melihat bahwa jika fokusnya hanya pasar kerja, maka
manusia direduksi menjadi sekadar "alat produksi" atau "skrup
dalam mesin industri", bukan manusia merdeka yang utuh. Merdeka menurut
beliau berarti kemampuan untuk memerintah diri sendiri dan berdiri tegak di
atas kaki sendiri.
Pendidikan yang hanya mengejar nilai akademis tanpa
kepekaan sosial adalah bentuk perbudakan mental modern. Bapak Pendidikan
Indonesia tersebut melalui sistem among mengingatkan bahwa sekolah harus
menjadi taman yang selaras dengan kodrat alam dan zaman, di mana kecerdasan
pikiran harus berbanding lurus dengan kehalusan budi dan keberanian bertindak.
Maka, seharusnya bentuk pendidikan bukan sekadar
transfer informasi, melainkan arena kontestasi ideologi. Saat sistem formal
sibuk mencetak individu yang patuh demi kebutuhan pasar, pendidikan kritis
bertugas membongkar pola subordinasi tersebut.
Alih-alih hanya terpaku pada kurikulum teknis hingga
bentuk administrasi, pendekatan ini
menggali dimensi politik di balik pengetahuan: siapa yang diuntungkan dan
mengapa ilmu itu diberikan? Ini adalah transformasi filosofis di mana tujuan
belajar bukan lagi nilai akademis, melainkan seharusnya keberanian intelektual
untuk meruntuhkan sekat elitis dan melawan ketimpangan nyata.
Dunia
akademis sering kali bangga dengan isolasinya di dalam "Menara
Gading"—sebuah ruang yang sibuk dengan teori-teori abstrak dan validasi
statistik, namun berjarak jauh dari jeritan realitas sosial di luar pagar
kampus. Ketika pendidikan hanya berhenti pada kemampuan menjawab soal ujian
atau mengejar indeks prestasi, ia sebenarnya sedang mematikan daya kritis. Kita
menjadi mahir menghafal definisi ketimpangan, namun lumpuh saat harus menggugat
ketimpangan itu sendiri
Perspektif pendidikan kritis menjadi sangat krusial
dalam konteks ini. Pendidikan semestinya melampaui sekadar transfer materi
dengan berani menggugat siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh struktur
kurikulum saat ini. Apabila institusi pendidikan hanya melahirkan individu
patuh yang gagap mempertanyakan ketimpangan kuasa, maka fungsi sekolah telah
bergeser menjadi sarana indoktrinasi terselubung.
Pendidikan yang membebaskan harus mentransformasi
kelas menjadi ruang kesadaran, di mana pendidik dan pelajar berkolaborasi
sebagai rekan dialog untuk membedah realitas sosial. Kita tidak boleh
membiarkan diri hanya menjadi komponen kecil yang melanggengkan mesin ekonomi
yang destruktif.
Pendidikan bukan sekadar mengisi bejana kosong,
melainkan menyalakan api kesadaran. Jika pendidikan hanya untuk menyesuaikan
diri dengan pasar, itu bukan pendidikan, melainkan penjinakan (domestikasi). Fokus
tertinggi dalam dunia pendidikan menurut Freire adalah mengembalikan martabat
manusia yang sempat hilang akibat penindasan.
Praktik tidak adil ini dianggap telah melukai sisi
kemanusiaan, tidak hanya bagi mereka yang tertindas, tapi juga bagi sang
penindas. Lewat pendidikan kritis, masyarakat yang terpinggirkan memiliki
sarana untuk membebaskan diri dan kembali berkuasa atas hidup mereka sendiri.
Esensi pendidikan bukanlah sekadar investasi
ekonomi, melainkan upaya memerdekakan nalar dari penjinakan sistemik. Jika
hanya fokus pada 'lini produksi' tenaga kerja, kita telah gagal memanusiakan
manusia dan hanya mencetak 'sekrup' industri.
Belajar dari Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire,
pendidikan utuh adalah pendidikan yang menyatukan akal dan budi. Tugas kita
adalah meruntuhkan sekat antara teori akademik dan realitas sosial, agar
pendidikan benar-benar menjadi alat pembebasan, bukan alat perbudakan modern.
Kita harus segera mengakhiri isolasi pendidikan di 'Menara Gading' dan mentransformasi kelas menjadi ruang refleksi yang kritis. Guru dan siswa perlu berkolaborasi sebagai mitra diskursus untuk membongkar struktur kuasa yang tersembunyi dalam kurikulum. Dan indikator mutu pendidikan semestinya digeser: bukan lagi soal seberapa cepat terserap pasar tenaga kerja, melainkan pada keberanian intelektual siswa untuk berpikir mandiri dan komitmen mereka dalam meruntuhkan sekat-sekat ketidakadilan sosial.
Oleh: Fahmi Ilham
