Di Balik Tawa Negeri Haha-Hihi

 

Mandakara - Selamat datang di sebuah sandiwara besar yang saya sebut sebagai “Negeri Haha-Hihi”. Sebuah wilayah yang secara sosiologis sangat unik, di mana garis batas antara tragedi yang menyayat hati dan komedi yang mengocok perut telah lama lenyap ditelan absurditas.

Di negeri  ini, kita tidak butuh gedung teater untuk menonton drama, karena setiap hari kita disuguhi sirkus gratis di layar gawai masing-masing. Mulai dari korupsi yang dilakukan dengan wajah tanpa dosa, kebijakan publik yang terkadang sulit dinalar, hingga hukum yang bisa ditekuk-tekuk seperti plastisin.

Anehnya, reaksi kolektif kita bukan lagi amarah yang membakar, melainkan tawa yang meledak-ledak. Kita adalah bangsa yang paling produktif memproduksi meme di tengah penderitaan. Melihat ini, saya jadi ingat tulisan Neil Postman berjudul Amusing Ourselves to Death. Penguin Books. Tentang sebuah masyarakat yang perlahan hancur karena lebih memilih hiburan daripada kenyataan pahit. “Haha-Hihi” telah bermutasi dari sekadar reaksi emosional menjadi sebuah mekanisme pertahanan diri yang sistematik sekaligus menyedihkan.

Namun, tawa kita hari ini sebenarnya sedang berdiri di atas tumpukan luka yang enggan kita lihat secara jujur. Di balik riuhnya gelak tawa di layar gawai itu, ada suara-suara yang sengaja ditenggelamkan. Itulah suara buruh tani yang parau karena debu dan peluh.

Absurditas Negeri Haha-Hihi ini mencapai titik paling biadab ketika saya harus menyaksikan kenyataan di tanah kelahiran saya sendiri. Di saat layar gawai kita penuh dengan tawa, di desa saya, ada petani yang harus meregang nyawa bukan karena sakit, melainkan karena jeratan utang pupuk dan obat-obatan yang mencekik leher. Mereka gagal panen, martabatnya runtuh, dan akhirnya memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup karena tidak ada lagi pintu yang terbuka.

Data tidak bisa berbohong seindah lelucon di gawai kita. Laporan Nilai Tukar Petani (NTP) dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor tanaman pangan berada di angka kritis. Realitasnya jauh lebih brutal: saat harga beli gabah hanya berkisar di angka Rp. 6.000-an, petani harus berhadapan dengan harga pupuk nonsubsidi yang melambung hingga Rp. 800.000 per karung akibat langkanya jatah subsidi.

Secara teknis, biaya produksi yang mereka keluarkan sudah tidak lagi sebanding dengan hasil yang diterima. Secara manusiawi, ini berarti mereka sedang mensubsidi makanan kita dengan kemiskinan mereka sendiri.

Bagaimana mungkin kita masih bisa tertawa terbahak-bahak melihat komedi elit, sementara di tanah yang sama, orang-orang yang memastikan piring makan kita terisi justru mati karena kelaparan dan keputusasaan? Di sini, tawa kolektif kita seolah-olah menjadi musik pengiring bagi upacara pemakaman hati nurani kita sendiri yang telah mati rasa.

Kita jauh lebih berani bikin konten lucu tentang pejabat daripada berdiri tegak menuntut hak di depan mukanya. Kita lebih fasih menertawakan kemiskinan kita sendiri daripada menggugat sistem yang membuat hidup kian terjepit. Tawa kita bukan lagi senjata untuk melawan, melainkan selimut kotor untuk bersembunyi dari kenyataan yang sebenarnya sudah membusuk.

Seharusnya kita malu, karena di saat jempol kita sibuk mencari tombol share untuk sebuah lelucon, di sudut desa yang sunyi, satu lagi nyawa harus hilang karena tak sanggup membeli pupuk. Tawa kita telah menjadi tembok tebal yang memisahkan kita dari kenyataan pahit tetangga sendiri.

Kita sibuk menertawakan "kebodohan" elit, padahal diam-diam kita juga ikut membunuh mereka yang bekerja di tanah dengan pengabaian kita yang sangat riang. Ketidakadilan ini bukan bahan gurauan, ini adalah nyawa yang terenggut di depan mata kita.

Kini, tirai sudah seharusnya ditutup dan lampu panggung dimatikan. Sandiwara "Haha-Hihi" ini sudah kehilangan lucunya sejak kematian demi kematian di desa kita hanya berakhir sebagai sekadar bahan candaan di layar gawai. Kita tidak bisa terus-menerus tertawa di atas kapal yang sedang bocor, sambil pura-pura tidak melihat mereka yang di dek bawah sudah mulai tenggelam.

Selesai sudah tawanya. Sekarang, mau sampai kapan kita membiarkan kematian nurani ini terus berlanjut, sebelum akhirnya kita menyadari bahwa yang tersisa hanyalah nisan-nisan bisu yang tak sempat kita bela?

Oleh: Ihsan Ariel

1 Komentar

  1. setelah membaca, jadi refleksi bagi diri sendiri. lalu muncul pertanyaan di benak "lalu, bagaimana kiranya solusi untuk kondisi Haha-Hihi ini?"

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama