Dinamika Tarawih: Transformasi Saf Belakang Menjadi Kanvas Kehidupan

 


Mandakara - Baru saja aku melipat sajadah, melangkah pelan keluar dari barisan saf (shaf, ed.) malam pertama di bulan suci Ramadhan ini. Ada getaran magis yang masih tersisa di dada, sebuah orkestra spiritual yang dimainkan serentak di seluruh penjuru bumi.

Saf-saf masjid tadi tak hanya meluber hingga ke teras, tetapi juga terasa meresap hingga ke dalam sanubari. Aroma sarung yang masih kaku karena baru keluar dari lipatan setahun sekali, serta gema takbir yang membasuh dahaga spiritual, terasa seperti air mata rindu yang akhirnya menemukan muaranya.

Masjid, pada malam hari ini, bukan sekadar bangunan mati, ia adalah rumah tempat rindu dan harapan bertemu, tempat setiap kepala tertunduk rendah, dan setiap hati bersimpuh pada pengampunan yang tak bertepi.

Namun, di balik lanskap kekhusyukan yang sedang kita rajut tadi, selalu ada sebuah “pertunjukan” tak terencana yang tak pernah absen dari panggung agung ini. Di sana, tepat di barisan paling belakang tempat aku sempat menoleh, sebuah fenomena transendental sedang terjadi: saf yang seharusnya menjadi gerbang sujud, secara ajaib menjadi kanvas kehidupan yang penuh warna. Ia menjelma menjadi arena festival bagi para “tamu kecil” Allah yang datang dengan kepolosan dan energi yang seolah tak terbatas.

Fenomena ini mengingatkanku pada pemikiran Ibnu Khaldun dalam mahakaryanya, Muqaddimah. Beliau menjelaskan bahwa keberadaban sebuah masyarakat sangat bergantung pada bagaimana interaksi sosial di dalamnya terbangun, termasuk bagaimana generasi muda menyerap nilai-nilai dari lingkungannya.

Di masjid malam ini, kita melihat sebuah mikrokosmos dari teori tersebut. Ada perbenturan dua dunia di satu ruang yang sama: jamaah dewasa yang mengejar kesalehan formal melalui keheningan, menghadapi anak-anak yang menyerap nilai agama melalui kegembiraan yang eksplosif. Saf belakang bukan lagi sekadar barisan shalat, melainkan ruang “asabiyah” atau solidaritas awal dimana anak-anak mulai merasa memiliki bagian dalam komunitas besar umat Islam, meski dengan cara yang paling riuh.

Mereka berlarian tanpa beban, seolah tiang-tiang masjid yang kokoh adalah hutan rimba tempat petualangan dimulai. Punggung-punggung kita yang sedang ruku’ atau sujud, dengan polosnya dijadikan rintangan dalam permainan imajinasi mereka yang luas. Suara tawa yang belum ternoda dosa, derap langkah kecil yang riang, hingga teriak-teriakan lembut itu bersahutan dengan syahdunya bacaan aamiin dari sang imam.

Di setiap momen itu, seolah alam semesta sedang berpihak kepada kita: bahwa hidup ini tidak selalu tentang sunyi yang kaku, terkadang ia juga tentang keriuhan yang menghidupkan. Di sinilah kita, para pencari khusyuk di malam pertama, sering sekali terjebak dalam dilema batin yang begitu manusiawi.

Di satu sisi, ada keharuan mendalam menyaksikan rumah Allah tidak sepi dari napas generasi mendatang, sebuah bisikan harapan bahwa estafet keimanan ini tidak akan mati ditelan zaman. Namun di sisi lain, benang-benang kekhusyukan kita sering kali putus berkeping-keping. Fokus kita dipaksa terbelah antara meresapi ayat-ayat cinta Tuhan dan upaya menjaga keseimbangan agar tidak tersungkur ditabrak “bocil” yang sedang asyik berekplorasi di pojokan.

Puncak dari ironi ini adalah saat kita mencoba mengambil peran sebagai “penjaga moral dadakan”. Dengan tatapan yang dianggap beribawa atau kode “sssttt!” yang penuh penekanan, kita berharap mereka mereda. Namun, bagi mereka, isyarat itu sering kali hanya dianggap sebagai aba-aba baru untuk memulai permainan yang lebih seru. Mereka mungkin makin girang, atau yang lebih epik dan membuat kita serba salah, tangisan kencang mereka justru memecah kenyusian malam.

Pada momen itu, tiba-tiba saja kita merasa menjadi sosok antagonis di hadapan Allah dan para hamba-Nya, seolah- olah ketegasan kita bentuk alienasi terhadap bibit-bibit keimanan yang sedang  tumbuh. Fenomena malam pertama ini sesungguhnya jauh melampaui sekedar gangguan teknis atau persoalan kebisingan ruang. Ia adalah sebuah ujian tarbiyah, sebuah refleksi kolektif tentang bagaimana kita memperlakukan masa depan kita sendiri.

Masjid harus tetap menjadi tempat yang paling ramah bagi tawa anak-anak. Jangan sampai mereka tumbuh dengan memori bahwa agama dogma kaku, penuh bentakan, dan menakutkan. Memori buruk tentang rumah Allah di masa kecil bisa menjadi alasan terkuat bagi mereka untuk menjauh saat mereka beranjak dewasa nanti.

Namun, di waktu yang sama, kita juga tidak bisa membiarkan hak setiap hamba untuk menghadap Tuhannya dalam ketenangan terenggut begitu saja. Solusinya bukan terletak pada larangan absolut atau pengusiran yang menyakitkan, melainkan pada bimbingan yang penuh dengan hikmah. Orang tua adalah garda terdepan, navigator yang harus mengenalkan adab bukan sebagai aturan yang mengekang, melainkan sebagai bentuk cinta.

Kehormatan sebuah masjid malam ini bukan hanya terletak pada sunyinya yang magis. Kehormatan sejatinya terletak pada kemampuannya merangkul tunas-tunas baru tanpa membuat mereka yang sedang bersujud merasa terpinggirkan. Biarkan tawa mereka tetap ada sebagai tanda kehidupan, namun ajari mereka secara perlahan bahwa sujud adalah puncak dari segala cinta manusia kepada Tuhannya.

Oleh: Ihsan Ariel

Ig: sannriel_
Lebih baru Lebih lama