Mandakara - Di tengah riuhnya dunia yang gemar memberi cap dan label, suara Diogenes terdengar seperti desir angin dari lorong waktu: “Bukannya aku gila, hanya saja isi kepalaku berbeda dengan isi kepalamu.” Kalimat itu bukan sekadar pembelaan, melainkan pernyataan merdeka. Ia seperti lentera yang diangkat di siang hari—simbol pencarian kejujuran di antara manusia yang sibuk berpura-pura.
Berbeda sering kali dianggap menyimpang. Pikiran yang tak
sejalan mudah dicurigai, seolah keseragaman adalah satu-satunya jalan menuju
kebenaran. Padahal, dalam keberagaman itulah manusia bertumbuh. Jika semua
kepala berisi hal yang sama, dunia akan kehilangan percik dialog, kehilangan
perdebatan yang menajamkan akal.
Diogenes, dengan kesederhanaannya yang radikal, menolak
kemewahan dan kemunafikan. Ia tidak ingin hidup sebagai bayangan harapan orang
lain. Ia memilih menjadi dirinya—meski harus dianggap aneh. Dalam
keberaniannya, ia mengajarkan bahwa kewarasan bukan soal mengikuti arus,
melainkan tentang konsistensi pada nurani.
Setiap manusia membawa semesta kecil di dalam pikirannya.
Ada pengalaman, luka, bacaan, keyakinan, dan mimpi yang membentuk cara pandang.
Maka, wajar bila isi kepala kita tak pernah benar-benar sama. Yang tidak wajar
adalah memaksa keseragaman dan menyebut perbedaan sebagai kegilaan.
Barangkali, dunia justru membutuhkan lebih banyak “kepala
berbeda”. Sebab, dari situlah lahir inovasi, seni, dan perubahan. Kita tidak
harus sepakat untuk saling menghargai. Cukup memahami bahwa perbedaan bukan
ancaman, melainkan warna yang memperkaya kemanusiaan.
Saya melihat kecenderungan hari ini: siapa pun yang berpikir
tidak sejalan dengan mayoritas mudah dicap aneh, radikal, atau bahkan tidak
waras. Media sosial memperparah keadaan. Diskusi berubah menjadi ajang saling
serang, bukan ruang bertukar gagasan.
Kita seperti lupa bahwa setiap orang dibentuk oleh latar
belakang yang unik—keluarga, pendidikan, budaya, bahkan luka dan kegagalan
hidupnya. Bagaimana mungkin isi kepala semua orang harus sama?
Menurut saya, keberanian untuk berpikir berbeda justru tanda
kesehatan intelektual. Tanpa perbedaan, dunia akan stagnan. Sejarah
membuktikan, gagasan besar sering lahir dari orang-orang yang dianggap
menyimpang pada zamannya. Kalau semua orang hanya mengikuti arus, tidak akan
ada perubahan berarti.
Namun, saya juga percaya bahwa berbeda bukan berarti bebas
dari tanggung jawab. Opini tetap perlu diuji dengan logika, etika, dan data.
Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan atau menyakiti orang
lain. Kebebasan berpikir harus berjalan seiring dengan kebijaksanaan.
Bagi saya, pesan Diogenes sangat relevan di tengah
masyarakat yang majemuk seperti Indonesia. Kita hidup dalam perbedaan agama,
budaya, dan pandangan politik. Jika setiap perbedaan dianggap ancaman, kita
hanya akan membangun tembok yang memisahkan satu sama lain. Sebaliknya, jika
kita mengakui bahwa “isi kepala” memang tidak pernah sama, kita belajar untuk
lebih sabar dan terbuka.
