BAB III: Titik Kontak

 


Lapangan itu terletak di ujung kota. Tanahnya keras dan berwarna cokelat kusam, seperti sudah lama tidak disentuh hujan yang cukup. Retakan kecil membelah permukaannya, membentuk garis-garis acak seperti peta wilayah yang belum selesai Digambar.

Di sisi kanan lapangan, tiga drum besi berkarat disusun memanjang. Cat birunya sudah mengelupas, memperlihatkan lapisan logam yang kusam dan tergores. Di belakangnya berdiri papan-papan kayu setinggi dada orang dewasa. Pada papan itu ditempel lingkaran hitam, Digambar dengan cat yang sudah mulai memudar.

Udara pagi itu masih dingin. Tipis-tipis kabut menggantung rendah, bau tanah dan logam bercampur samar. Mereka datang satu persatu. Pria pertama bertubuh tinggi, kurus, dengan rambut yang dipotong terlalu pendek hingga kulit kepalanya terlihat. Jaket hitamnya kebesaran, tangannya panjang, jari-jarinya ramping, tapi ketika memegang senjata, gengamannya terlalu kuat–seolah takut benda itu akan kabur.

Pria kedua lebih pendek. Bahunya lebar. Kumisnya tipis tidak rata diatas bibirnya. Ia mengunyah sesuatu–entah permen atau hanya kebiasaan menggertakkan rahang. Tatapannya sering bergerak cepat, seolah sedang menghitung sesuatu di udara.

Yang lain menyusul. Ada yang memakai kaos lengan panjang digulung sampai siku. Ada yang mengenakan sarung tangan hitam tanpa jari. Tidak ada seragam. Tidak ada lambang. hanya pakaian biasa.

Aku datang terakhir.

Langkahku tidak tegas. Sepatu menekan tahan hingga debu tipis terangkat. Tanganku menggenggam senjata dengan posisi santai, tapi jari telunjuk tetap terasa kaku. Di depan barisan, seseorang berdiri tegak. Usianya sekitar kurang lebih empat puluh tahun. Wajahnya bersih, tanpa janggut. Rambutnya disisir rapi kebelakang, ia menggenakan kemeja abu-abu yang dimaskukan ke dalam celana taktis warna gelap. Lengannya digulung rapi, memperlihatkan tangan yang berurat.

Tatapannya tidak keras, justru datar.

“Berdiri,” katanya singkat. Tidak perlu suara tinggi. Semuanya langsung mengambil posisi. Ia berjalan pelan di depan kami. Sepatunya menginjak selongsong lama yang tertinggal, menghasilkan bunyi kecil–krek.

“kita ulang seperti kemarin.” Tidak ada yang bertanya. Ia berhenti di depan pria bertubuh tinggi. Menatap posisi kakinya. “Lebih lepar sedikit.” Pria itu menggeser kakinya. Wajahnya tegang. Bibirnya sedikit terbuka.

“kamu gemetar?” kata pria itu lagi.

“Tidak, Pak.”

“Jangan bohong pada tubuhmu sendiri.”

Kalimat itu tidak di jawab. Aku memperhatikan tangan pria tinggi itu. Benar. Ada getar halus di ujung jarinya. “Siap.” Barisan mengangkat senjata hampir bersamaan. Gerakannya itu menghasilakn suara logam yang beradu ringan.

Klik.

Udara terasa lebih padat. “Bidik” masing-masing mengarakan laras ke papan kayu. Lingkaran hitam itu terlihaat kecil dari jarak ini. Diam. Tidak bergerak. Waja-wajah berbuah. Pria berkumis tadi berhenti mengunyah, rahangnya mengeras. Alisnya menyatu, nafasnya melambat. Disatu sisi pria tinggi itu menelan ludah. Sedangkan aku merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali membidik, ada detik kecil ketia semua suara lain hilang. Seolah dunia mengecil hanay sebesar lingkaran hitam itu.

“Lepas.” Dor! Tembakan pertama memecah pagi. Geam pendek memantul di dinding bangunan kosong di sisi lapangan. Burung-burung yang tadi bertengger di kabel terbang mendadak. Sayap mereka mengibaskan udara.

DOR! DOR! Tembakan berikutnya menyusul, tidak serempak. Serbuk kayu berterbangan, bauk mesiu menyebar tipis, pahit. Tembakan dari pria tinggi itu meleset, pelurnya menghantam tanah, menimbulkan debu kecil. Ia mengumpat pelan dari barisan.

“Ulangi!” kata instruktur tanpa nada marah. Pria itu menarik nafas panjang. Kali ini lebih pelan. Lebih terkontrol. DOR! Pelurunya mengenai tepi lingkaran hitam. “lebih baik” kata pria tanpa jangut itu. Latihan berjalan terus. Tarik napas, bidik, lepas.

Semakin lama, Gerakan mereka semakin stabil. Wajah-wajah tadi yang tegang mulai datar. Seperti hanya melakukan sesuatu yang sudah biasa dilakukan. Di sela jeda, pria berkumis sedikit mendekat kepadaku. “kamu pernah berpikir,” katanya pelan tanpa menoleh, “kita ini sebenarnya menembak apa?” “Target,” jawabku singkat tanpa bas abasi. “maksudnya…. Selain papan itu.” Aku tidak langsung menjawab.

Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “aku kadang merasa kita sedang menembak sesuatu yang belum ada.” Sebelum aku sempat menanggapi, suara instruktur memotong. “Fokus!” kami kembali ke posisi. DOR DOR DOR.

Setiap suara itu kini tidak hanya terdengar di telingga. Ia terasa seperti mengetuk dari dalam. Pelan tapi berulang. Tak terasa satu jam sudah berlalu. Target hampir hancur. Lingkaran hitam itu kini berlubang banyak, seperti permukaan bulan yang penuh kawah.

“Cukup.” Semua menurunkan senjata. Beberapa orang langsung duduk di tanah. Mengusap wajah dengan telapak tangan. Ada yang menghela napas panjang, bahunya turun perlahan. Pria tinggi itu menatap tangannya sendiri, seperti ingin memastikan betul kalau getarannya sudah benar-benar hilang.

“kalian sudah terbiasa” intruktur berdiri memandangi papan kayu yang rusak. “Besok kita ulangi lagi,” katanya. Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian tidak juga seperti peringatan. “Besok lagi?” tanya pria berkumis. Instruktur menoleh pelan, tatapannya tajam, tapi suaranya tetap datar “kalau bukan besok, kapan?” tidak ada yang menjawab.

Angin bergerak sangat bebas melewati lapangan. Selongsong peluru berkilat terkena cahaya matahari pagi yang kini mulai naik. Kami pun bubar tanpa banyak bicara. Aku berjalan menjauh, tapi setiap Langkah terasa seperti masih berdiri di posisi tadi.  

DOR.

Suara itu muncul lagi. Padahal tidak ada yang menembak, aku berhenti, menutup mata sebentar. Di dalam kepala, lingkaran hitam itu masih ada. Diam. Menunggu. Dan untuk pertamakalinya aku sadar–latihan ini mungkin bukan untuk menghadapi musuh di luar.

Tapi sesuatu yang setiap malam sudah lebih dulu membidik dari dalam. Di sela-sela istirahat malam.

Bersambung.

Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois

Lebih baru Lebih lama