Lapangan itu
terletak di ujung kota. Tanahnya keras dan berwarna cokelat kusam, seperti
sudah lama tidak disentuh hujan yang cukup. Retakan kecil membelah
permukaannya, membentuk garis-garis acak seperti peta wilayah yang belum selesai
Digambar.
Di sisi
kanan lapangan, tiga drum besi berkarat disusun memanjang. Cat birunya sudah
mengelupas, memperlihatkan lapisan logam yang kusam dan tergores. Di
belakangnya berdiri papan-papan kayu setinggi dada orang dewasa. Pada papan itu
ditempel lingkaran hitam, Digambar dengan cat yang sudah mulai memudar.
Udara pagi
itu masih dingin. Tipis-tipis kabut menggantung rendah, bau tanah dan logam
bercampur samar. Mereka datang satu persatu. Pria pertama bertubuh tinggi,
kurus, dengan rambut yang dipotong terlalu pendek hingga kulit kepalanya
terlihat. Jaket hitamnya kebesaran, tangannya panjang, jari-jarinya ramping,
tapi ketika memegang senjata, gengamannya terlalu kuat–seolah takut benda itu
akan kabur.
Pria kedua
lebih pendek. Bahunya lebar. Kumisnya tipis tidak rata diatas bibirnya. Ia
mengunyah sesuatu–entah permen atau hanya kebiasaan menggertakkan rahang.
Tatapannya sering bergerak cepat, seolah sedang menghitung sesuatu di udara.
Yang lain
menyusul. Ada yang memakai kaos lengan panjang digulung sampai siku. Ada yang
mengenakan sarung tangan hitam tanpa jari. Tidak ada seragam. Tidak ada
lambang. hanya pakaian biasa.
Aku datang
terakhir.
Langkahku
tidak tegas. Sepatu menekan tahan hingga debu tipis terangkat. Tanganku
menggenggam senjata dengan posisi santai, tapi jari telunjuk tetap terasa kaku.
Di depan barisan, seseorang berdiri tegak. Usianya sekitar kurang lebih empat
puluh tahun. Wajahnya bersih, tanpa janggut. Rambutnya disisir rapi kebelakang,
ia menggenakan kemeja abu-abu yang dimaskukan ke dalam celana taktis warna
gelap. Lengannya digulung rapi, memperlihatkan tangan yang berurat.
Tatapannya
tidak keras, justru datar.
“Berdiri,”
katanya singkat. Tidak perlu suara tinggi. Semuanya langsung mengambil posisi.
Ia berjalan pelan di depan kami. Sepatunya menginjak selongsong lama yang
tertinggal, menghasilkan bunyi kecil–krek.
“kita ulang
seperti kemarin.” Tidak ada yang bertanya. Ia berhenti di depan pria bertubuh
tinggi. Menatap posisi kakinya. “Lebih lepar sedikit.” Pria itu menggeser
kakinya. Wajahnya tegang. Bibirnya sedikit terbuka.
“kamu
gemetar?” kata pria itu lagi.
“Tidak,
Pak.”
“Jangan
bohong pada tubuhmu sendiri.”
Kalimat itu
tidak di jawab. Aku memperhatikan tangan pria tinggi itu. Benar. Ada getar
halus di ujung jarinya. “Siap.” Barisan mengangkat senjata hampir bersamaan.
Gerakannya itu menghasilakn suara logam yang beradu ringan.
Klik.
Udara terasa
lebih padat. “Bidik” masing-masing mengarakan laras ke papan kayu. Lingkaran
hitam itu terlihaat kecil dari jarak ini. Diam. Tidak bergerak. Waja-wajah
berbuah. Pria berkumis tadi berhenti mengunyah, rahangnya mengeras. Alisnya
menyatu, nafasnya melambat. Disatu sisi pria tinggi itu menelan ludah.
Sedangkan aku merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali membidik, ada detik
kecil ketia semua suara lain hilang. Seolah dunia mengecil hanay sebesar
lingkaran hitam itu.
“Lepas.” Dor!
Tembakan pertama memecah pagi. Geam pendek memantul di dinding bangunan kosong
di sisi lapangan. Burung-burung yang tadi bertengger di kabel terbang mendadak.
Sayap mereka mengibaskan udara.
DOR! DOR! Tembakan berikutnya menyusul, tidak serempak. Serbuk kayu berterbangan,
bauk mesiu menyebar tipis, pahit. Tembakan dari pria tinggi itu meleset, pelurnya
menghantam tanah, menimbulkan debu kecil. Ia mengumpat pelan dari barisan.
“Ulangi!”
kata instruktur tanpa nada marah. Pria itu menarik nafas panjang. Kali ini
lebih pelan. Lebih terkontrol. DOR! Pelurunya mengenai tepi lingkaran
hitam. “lebih baik” kata pria tanpa jangut itu. Latihan berjalan terus. Tarik
napas, bidik, lepas.
Semakin
lama, Gerakan mereka semakin stabil. Wajah-wajah tadi yang tegang mulai datar.
Seperti hanya melakukan sesuatu yang sudah biasa dilakukan. Di sela jeda, pria
berkumis sedikit mendekat kepadaku. “kamu pernah berpikir,” katanya pelan tanpa
menoleh, “kita ini sebenarnya menembak apa?” “Target,” jawabku singkat tanpa
bas abasi. “maksudnya…. Selain papan itu.” Aku tidak langsung menjawab.
Ia tersenyum
tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “aku kadang merasa kita sedang
menembak sesuatu yang belum ada.” Sebelum aku sempat menanggapi, suara
instruktur memotong. “Fokus!” kami kembali ke posisi. DOR DOR DOR.
Setiap suara
itu kini tidak hanya terdengar di telingga. Ia terasa seperti mengetuk dari
dalam. Pelan tapi berulang. Tak terasa satu jam sudah berlalu. Target hampir
hancur. Lingkaran hitam itu kini berlubang banyak, seperti permukaan bulan yang
penuh kawah.
“Cukup.”
Semua menurunkan senjata. Beberapa orang langsung duduk di tanah. Mengusap
wajah dengan telapak tangan. Ada yang menghela napas panjang, bahunya turun
perlahan. Pria tinggi itu menatap tangannya sendiri, seperti ingin memastikan
betul kalau getarannya sudah benar-benar hilang.
“kalian
sudah terbiasa” intruktur berdiri memandangi papan kayu yang rusak. “Besok kita
ulangi lagi,” katanya. Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian tidak juga
seperti peringatan. “Besok lagi?” tanya pria berkumis. Instruktur menoleh
pelan, tatapannya tajam, tapi suaranya tetap datar “kalau bukan besok, kapan?”
tidak ada yang menjawab.
Angin
bergerak sangat bebas melewati lapangan. Selongsong peluru berkilat terkena
cahaya matahari pagi yang kini mulai naik. Kami pun bubar tanpa banyak bicara.
Aku berjalan menjauh, tapi setiap Langkah terasa seperti masih berdiri di
posisi tadi.
DOR.
Suara itu
muncul lagi. Padahal tidak ada yang menembak, aku berhenti, menutup mata
sebentar. Di dalam kepala, lingkaran hitam itu masih ada. Diam. Menunggu. Dan
untuk pertamakalinya aku sadar–latihan ini mungkin bukan untuk menghadapi musuh
di luar.
Tapi sesuatu yang setiap malam sudah lebih dulu membidik dari dalam. Di sela-sela istirahat malam.
Bersambung.
Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois
.jpeg)