Kejepit K*nt*l: Agama Baru Bernama Algoritma

 


Mandakara - Ada satu posisi hidup yang hari ini banyak dialami manusia modern, tetapi jarang diakui dengan jujur: terjepit. Bukan terjepit oleh kekerasan negara, bukan pula oleh dogma agama klasik, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih halus, lebih licin, dan terasa sukarela—algoritma. Ia tidak memukul, tidak mengancam, bahkan tidak melarang. Ia hanya menyodorkan. Dan anehnya, manusia menurut (terbawa, red.).

Judul tulisan ini sengaja kasar. Bukan karena miskin kosakata, tetapi karena realitas yang hendak dibicarakan memang tidak sopan terhadap martabat manusia. Hidup hari ini berjalan di ruang sempit antara kehendak pribadi dan selera mesin. Kita masih merasa bebas, tetapi kebebasan itu bergerak dalam koridor yang telah ditentukan. Seperti tubuh yang kejepit: masih hidup, namun sulit mengubah posisi.

Algoritma bekerja seperti agama baru. Ia memiliki kitab suci berupa data, nabi berupa influencer, dan pahala berupa visibilitas. Ia menentukan mana yang layak muncul dan mana yang tenggelam. Ia memberi ganjaran pada yang patuh–konten yang mengikuti pola, emosi yang mudah dijual, narasi yang cepat viral. Sebaliknya, ia menghukum yang membangkang dengan sunyi: tidak muncul di beranda, tidak direkomendasikan, tidak dianggap ada.

Dalam kondisi seperti ini, manusia bukan lagi subjek penuh, melainkan partisipan yang dilatih. Setiap klik adalah pengakuan iman. Setiap scroll adalah kepatuhan kecil. Kita tidak dipaksa untuk mengikuti algoritma; kita melakukannya dengan senang hati, bahkan membelanya. Di sinilah letak kekuasaan paling efektif: ketika yang dikuasai merasa sedang memilih.

Kebiasaan busuk media sosial lahir dari relasi ini. Kita terbiasa bereaksi cepat, bukan berpikir dalam. Kita lebih nyaman mengutip daripada memahami. Emosi diperas menjadi komoditas: marah dijual, sedih dijadikan konten, empati dipaketkan dalam story berdurasi lima belas detik. Kehidupan batin dipercepat agar kompatibel dengan ritme mesin.

Yang lebih mengkhawatirkan, algoritma tidak hanya mengatur apa yang kita lihat, tetapi juga apa yang kita anggap benar. Kebenaran hari ini tidak selalu lahir dari argumentasi, melainkan dari pengulangan. Yang sering muncul terasa sah. Yang ramai dianggap penting. Yang viral dipercaya, bahkan sebelum diuji. Dalam kondisi ini, kritik bukan lagi soal benar atau salah, tetapi soal berani atau tidak melawan arus.

Manusia modern lalu berada pada posisi paradoks: merasa paling bebas sepanjang sejarah, tetapi justru paling mudah diarahkan. Kita berbicara tentang otonomi, tetapi menyerahkan perhatian–aset paling berharga–kepada sistem yang tidak kita pahami sepenuhnya. Kita bangga dengan ekspresi diri, tetapi ekspresi itu disesuaikan agar “engagement-friendly”.

Di titik ini, hidup terasa kejepit. Kehendak pribadi masih ada, tetapi terus digeser. Apa yang kita inginkan sering kali bukan hasil perenungan, melainkan akibat paparan berulang. Kita mengira sedang mengejar mimpi, padahal sedang meniru. Kita merasa berbeda, padahal bergerak dalam pola yang sama.

Algoritma, seperti institusi agama yang beku, cenderung membenci penyimpangan. Ia menyukai keteraturan, prediktabilitas, dan keseragaman rasa. Konten yang terlalu kompleks dianggap tidak efisien. Pemikiran yang lambat dianggap tidak relevan. Diam dicurigai sebagai kemunduran. Dalam sistem seperti ini, menjadi manusia sepenuhnya justru terasa tidak produktif.

Namun, berbeda dengan agama, algoritma tidak menawarkan keselamatan metafisik. Ia hanya menjanjikan keterlihatan. Eksistensi direduksi menjadi tampil. Yang tidak tampil dianggap tidak hidup. Maka, manusia berlomba-lomba hadir, berbicara, berpendapat–sering kali tanpa sempat memahami apa yang ia ucapkan. Kesunyian menjadi ancaman. Refleksi dianggap kemewahan.

Kelelahan yang kita rasakan hari ini bukan semata karena kerja fisik, melainkan karena kerja eksistensial yang tak pernah selesai. Kita bekerja untuk terlihat, berpikir untuk dibagikan, merasa untuk dikonsumsi. Tubuh lelah, pikiran penuh, tetapi jiwa kosong. Semua bergerak cepat, tetapi arah tidak pernah benar-benar dipilih.

Metafora “kejepit k*nt*l” menemukan relevansinya di sini. Ia tidak bermaksud merendahkan, justru sebaliknya: menamai rasa sakit yang selama ini disamarkan oleh bahasa sopan. Ada ketidaknyamanan yang terus-menerus, tetapi dianggap wajar. Ada tekanan yang konstan, tetapi dinormalisasi. Kita tidak sepenuhnya tertindas, tetapi juga tidak benar-benar merdeka.

Pertanyaannya bukan lagi apakah algoritma jahat atau baik. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sejauh mana kita masih berdaulat atas perhatian dan kehendak kita sendiri? Apakah kita masih mampu memilih untuk tidak bereaksi, untuk tidak mengikuti, untuk tidak tampil?

Sejarah menunjukkan bahwa setiap bentuk kekuasaan paling berbahaya adalah yang tidak disadari sebagai kekuasaan. Algoritma tidak mengklaim diri sebagai penguasa, tetapi dampaknya menyerupai itu. Ia membentuk selera, mengatur wacana, dan mendefinisikan normalitas. Dan manusia, tanpa banyak protes, menyesuaikan diri.

Tulisan ini tidak hendak mengajak perang frontal. Tidak ada romantisme pembangkangan heroik. Yang lebih mendesak justru kesadaran kecil: jeda. Kesediaan untuk diam di tengah kebisingan. Keberanian untuk berpikir lambat di dunia yang memuja kecepatan. Mengakui bahwa tidak semua yang muncul perlu ditanggapi, tidak semua yang ramai perlu dipercaya.

Mungkin di situlah awal pembebasan paling realistis hari ini. Bukan dengan keluar dari sistem, tetapi dengan tidak sepenuhnya larut di dalamnya. Mengambil kembali sebagian ruang batin yang telah lama diserahkan. Tidak sepenuhnya bebas, tetapi tidak lagi terus-menerus kejepit.

Dan barangkali, di zaman algoritma ini, sikap paling radikal bukanlah berteriak paling keras, melainkan berani berhenti sejenak–dan bertanya: ini kehendakku, atau kehendak mesin?

Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois
Lebih baru Lebih lama