Bab II: Titik Kontak

 


Mandakara - Beberapa tahun sebelum tembakan pertama terdengar, tempat itu masih terlihat aman. Tidak ada barikade. Tidak ada kawat berduri. Jalanan dilewati orang-orang dengan langkah biasa, bukan langkah yang siap berlari. Tidak ada wajah tegang. Tidak ada mata yang menoleh terlalu sering ke belakang.

Suara paling keras datang dari kendaraan tua yang dipaksa tetap hidup. Mesinnya meraung setiap pagi, menjadi penanda waktu bagi siapa saja yang terbiasa bangun lebih awal. Tidak ada sirene. Tidak ada peringatan.

Jika seseorang menyebut kata perang saat itu, orang-orang hanya akan tersenyum. Perang selalu terasa jauh. Terlalu jauh untuk dipikirkan. Terlalu asing untuk ditakuti. Perang, bagi mereka, adalah cerita di tempat lain.

Aku berdiri di tepi tanah kosong yang retak-retak. Matahari baru naik. Udara pagi dingin, tapi masih ramah di kulit. Nafasku tidak tergesa. Tidak ada alasan untuk tergesa.

Burung-burung bertengger di kabel listrik. Diam. Tenang. Seolah tidak ada apapun yang salah. Seolah dunia akan baik-baik saja hari itu.

Dan memang, saat itu, tidak ada yang merasa perlu bersiap.

“Tidak ada apa-apa hari ini” seseorang berkata di belakangku. Aku tidak menoleh “Biasanya memang begitu.” Ia tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, hanya kebiasaan. Tawa orang-orang yang terlalu sering mengulang rutinitas sampai lupa bahwa sesuatu bisa berubah.

Kami tidak bersenjata lengkap waktu itu. Hanya perlengkapan ringan, sekedar formalitas. Tidak ada yang benar-benar percaya perlengkapan itu akan di pakai. Bahkan Latihan pun dilakukan setengah hati. Lebih banyak berdiri, menunggu, dan mengobrol tentang hal-hal sepele.

“Katanya wilayah ini rawan.”

Orang itu melanjutkan.

“Katanya,” ulangku.

Kata itu sering di pakai, katanya. Tidak pernah ada sumber yang jelas. Tidak pernah ada perintah tertulis. Semua bergerak lewat bisik-bisik dan asumsi. Siang datang tanpa kejutan, matahari naik. Lapangan menjadi lebih panas. Debu menempel di sepatu. Kami bergeser sedikit demi sedikit, bukan karena instruksi, tapi karena bosan berdiri di tempat yang sama.

“Jangan terlalu kesana!”

Sesorang memperingati.

“Kenapa?”

“Bukan wilayah kita.”

“Wilayah siapa?”

Ia diam terlalu lama.

“Ya… bukan kita.”

Kalimat itu menggantung di udara lebih lama dari seharusnya. Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang bertanya lagi. Semua orang paham, meski tidak ada yang bisa menjelaskan.

Sore hari, sebuah kendaraan melintas perlahan. Kacanya gelap. Tidak berhenti. Tidak menyapa. Tapi kehadirannya cukup untuk membuat obrolan terhenti.

“Kamu lihat?”

Bisik seseorang.

Aku mengganguk.

“Sudah mulai.” Katanya.

“Mulai apa?”

Ia mengangkat bahu.

“Ya… mulai.”

Tidak ada tembakan.

Tidak ada ledakan.

Hari itu berakhir seperti hari-hari lain.

Dan justru karena itu, ia berbahaya.

Beberapa minggu kemudian, rutinitas berubah sedikit. Tidak drastis, tidak cukup mencolok untuk disebut ancaman. Tapi cukup untuk membuat orang-orang berbicara dengan nada yang lebih rendah. Pos pemeriksaan kecil muncul di ujung jalan. Hanya meja lipat dan dua orang berjaga. Mereka terlihat sama bingungnya dengan orang-orang yang diperiksa.

“Ini cuman sementara.”

Kata seseorang yang tampak lebih senior.

“Untuk apa?”

“Biar rapi.”

Rapi selalu jadi alasan yang aman.

Hari hari berikutnya, daftar mulai dibuat. Nama-nama dicatat. Barang-barang diperiksa lebih lama. Bebrapa orang diminta kembali tanpa penjelasan. Tidak ada yang ditahan. Tidak ada yang dipukul. Tidak ada alasan untuk marah.

Tidak ada rasa nyaman tumbuh pelan-pelan.

“Kalau ini bukan perang,”

Seseorang berbisik padaku suatu malam, “kenapa rasanya seperti menunggu sesuatu meledak?”

Aku tidak punya jawaban.

Aku hanya tahu, setiap malam terdengar suara kendaraan lewat lebih sering. Setiap pagi, ada satu-dua wajah yang tidak muncul lagi. Tidak ada pengumuman. Tidak ada kabar resmi. Orang-orang hanya mengisi kekosongan itu dengan dugaan. Dan dugaan adalah bahan bakar paling murah untuk konflik.

Potongan waktu itu terputus tiba-tiba.

Dar.

Suara tembakan menarikku keluar dari ingatan. Bukan satu. Beberapa. Beruntun.

Der–dor!

Trrer tat tat tat!

Aku kembali ke masa kini. Bau mesiu memenuhi udara. Asap menutup pemandangan tubuhku refleks merunduk di balik dinding runtuh.

“Kontak lagi!”

Seseorang berteriak.

Trang! Trang!

Peluru menghantam beton. Pecahan beterbangan. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Hanya bergerak, berlindung, bertahan.

Duarrr!

Ledakan membuat tanah bergetar. Telingaku berdenging. Aku menekan tubuh ke lantai, menunggu detik-detik berlalu.

Semua ini–aku sadar–

Berakar dari hari-hari yang dulu terasa aman.

“Gerak!”

Teriak seseorang.

Kami bergerak. Lari pendek. Berhenti. Tembak. Berlindung lagi. Tidak ada strategi besar. Hanya bertahan dari menit ke menit.

Trret tat tat tat!

Aku membalas tembakan tanpa benar-benar melihat sasaran. Tanganku bekerja lebih cepat dari pikiranku. Dan di sela kebisingan itu, pikiranku kembali melompat ke masa lalu.

Hari itu hujan turun ringan. Lapangan kosong berubah jadi lumpur. Orang-orang berdiri lebih rapat, mencari kehangatan dari tubuh lain.

“Ada perubahan.”

Kata seseorang dengan suara datar.

“Perubahan apa?”

“Kita digeser.”

“Ke mana?”

Ia menunjuk arah yang sebelumnya dilarang.

“Ke sana.”

Tidak ada yang bertanya kenapa. Tidak ada yang menolak. Perintah tidak tertulis selalu lebih efektif. Ia memberi ilusi pilihan, padahal tidak ada. Kami bergerak. Langkah demi langkah. Tidak ada perlawanan. Tidak ada sambutan. Hanya tanah basah dan bangunan kosong.

“Ini aman?”

Seseorang bertanya.

“Sejauh ini,” jawab yang lain.

Kalimat itu terdengar terlalu sering. Sejauh ini.

Malam datang lebih cepat hari itu. Lampu-lampu tidak semua menyala. Beberapa padam tanpa alasan. Jalanan terasa lebih panjang. Suara langkah terdengar lebih keras.

“Aku nggak suka tempat ini.”

Seseorang berbisik.

“Kenapa?”

“Terlalu sunyi.”

Sunyi selalu datang sebelum suara yang lebih keras.

Kembali ke masa kini.

Dar.

Der.

Dor.

Aku berguling ke balik puing. Nafasku berat. Tangan pegal. Tapi tubuhku masih bergerak. Masih bertahan.

“Peluru tinggal sedikit!”

Teriak seseorang.

Tidak ada jawaban. Tidak ada solusi instan. Semua orang tahu, saat seperti ini, setiap detik adalah hutang.

Duarrr!

Ledakan lagi. Lebih jauh, tapi cukup untuk menggetarkan dada. Aku menutup mata sebentar, lalu membukanya lagi.

Aku masih hidup.

Dan itu membuatku marah–bukan pada musuh, tapi pada hari-hari lama
yang membiarkan semua ini tumbuh tanpa perlawanan. Malam terakhir sebelum semuanya benar-benar berubah, seseorang duduk di sampingku. Tidak bicara lama.

“Kamu sadar nggak?” katanya pelan, “kita sudah berdiri di garis ini terlalu lama.”

“Garis apa?” tanyaku.

Ia tidak menjawab. Hanya menatap ke depan, ke arah gelap yang belum bernama. Beberapa hari setelah itu, tembakan pertama terdengar. Dan tidak pernah benar-benar berhenti.

Garis itu akhirnya ditarik. Bukan di peta. Bukan di dokumen resmi. Tapi di tubuh orang-orang yang terlalu lama mengira mereka masih punya waktu.

Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois
Lebih baru Lebih lama