Mandakara - Suasana koridor kampus lagi ramai-ramainya, ada yang sibuk debat soal idealisme, ada juga yang lagi ambisius banget ngejar mimpi akademiknya, sehingga menimbulkan sebuah narasi yang selalu kita rawat bersama: pengabdian. Bagi kami, IPPNU di lingkungan Universitas Ibrahimy Banyuwangi, melihat rekan-rekan IPNU bukan hanya sekedar melihat organisasi "saudara laki-laki". Melainkan, kami melihat sebuah cermin, tempat di mana gagasan diuji dan kerja-kerja peradaban dimulai.
Rekanan, Bukan Atasan
Dari
sudut pandang kacamata kami, keberadaan IPPNU di kampus itu mitra strategis
yang nyata. Mahasiswa hari ini nggak bisa cuma fokus belajar di kelas atau cuma
sibuk urusan pribadi saja. Maka dari itu, ketika kami melihat IPNU mampu
menyatukan pemikiran kritis secara intelektual tanpa menghilangkan jati diri
santri, membuktikan bahwa “anak sarungan” juga bisa progresif di kampus. Di situlah
kami merasa itu sebuah pencapaian yang luar biasa.
Sudah bukan zamannya lagi kita melanggengkan dikotomi kolot yang
membagi peran berdasarkan stigma: bahwa urusan taktis-strategis adalah domain
mutlak "rekan", sementara "rekanita" (baca: kader IPPNU, ed.)
hanya dijatah untuk mengurusi detail estetik dan hal-hal yang sifatnya luwes
semata. Di medan kampus, identitas kita melebur menjadi satu: aktivis.
Ketajaman
nalar rekanita dalam membedah diskursus sosial hingga isu keagamaan bukanlah
ancaman, melainkan aset intelektual yang seharusnya diberi ruang
seluas-luasnya, bukan justru dipangkas atau dibatasi oleh sekat-sekat peran
tradisional. Kita harus merayakan kemandirian berpikir ini sebagai kekuatan
kolektif, bukan sekadar pelengkap ornamen organisasi.
Kesetaraan Intelektual: Bukan Cuma Pemanis Struktur
Menyambung
kegelisahan tadi, kita perlu sepakat kalau urusan "otak" itu nggak
ada hubungannya sama gender. PKPT itu kan wadahnya mahasiswa, tempatnya
orang-orang terpelajar dibuat. Jadi, rasanya agak miris kalau cara main kita
masih terjebak di pola lama yang seolah-olah menempatkan rekanita cuma buat
urusan administrasi atau "divisi sibuk" di belakang layar.
IPNU
menjadi jauh lebih hebat ketika ia tidak merasa paling dominan. Sinergi di PKPT
itu baru bakal bener-bener dapet “ruh”-nya ketika rekan-rekan IPNU mau membuka
telinga mendengarkan perspektif dari sudut pandang kami. Rekanita bukan sebagai
pelengkap konsumsi atau pemanis struktur saja, melainkan sebagai kawan diskusi
yang memiliki ketajaman analisis yang setara.
Maskulinitas yang Memberdayakan
Di saat
banyak orang bicara soal kesetaraan, dan kami melihat IPNU mempunyai cara
tersendiri itu udah keren banget. Toh, IPNU membuktikan kalau jadi laki-laki
itu nggak harus berkuasa tetapi harus bisa berdaya bagi sesama, atau biasa
disebut “maskulinitas yang tidak mendominasi”. Kami melihat kalian adalah garda
terdepan yang mampu merangkul dan menjaga nilai Ahlussunnah wal Jama’ah,
lewat riset, diskusi literasi, bahkan mampu membela turun tangan sebagai suara
hak mahasiswa.
Suara
hati kecil kami, IPPNU untuk IPNU adalah sebuah harapan agar IPNU tetap menjadi
ruang pulang untuk ide-ide kreatif yang berani, dan menjadi pembuktian kalau
orang pinter itu nggak harus tinggi hati. Semoga di sini, intelektualitas dan
kesantunan bisa selalu jalan beriringan.
Selamat Hari Lahir IPNU Ke-72, Rekan.Oleh: Yusriza Natasya
