Mandakara - Minggu, 8 Februari 2026, Aula Kantor LP Ma’arif NU Banyuwangi menjadi saksi berkumpulnya pelajar-pelajar Nahdlatul Ulama dalam satu ruang bernama Konferensi Anak Cabang ke-VI IPNU–IPPNU Srono. Sebuah ruang yang barangkali terlihat sederhana—kursi, meja sidang, dan palu musyawarah—namun sesungguhnya menyimpan banyak kegelisahan tentang arah gerak organisasi pelajar hari ini dan esok.
Konferensi ini mengusung tema “Ikhtiar Pelajar: Merawat Peradaban, Menjaga Keberlangsungan”. Tema yang terdengar ringkas, tetapi menyimpan makna yang dalam. Ikhtiar bukan sekadar usaha, melainkan kesungguhan yang disertai kesadaran, menuntut pelajar untuk tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terlibat secara pikiran dan sikap; tidak sekadar mengikuti alur, tetapi berani memikirkan arah.
Di ruang konferensi, ikhtiar itu hadir dalam berbagai bentuk: perdebatan yang hangat, perbedaan pandangan yang kadang melelahkan, juga kesediaan untuk mendengar dan menerima. Di sanalah pelajar belajar bahwa berorganisasi bukan semata soal jabatan dan struktur, tetapi tentang proses mendewasakan diri dan kolektif. Musyawarah bukan ajang memenangkan ego, melainkan ruang belajar tentang tanggung jawab dan kebersamaan.
Konferensi Anak Cabang ke-VI ini sekaligus menyadarkan bahwa IPNU dan IPPNU tidak hidup di ruang hampa. Organisasi pelajar hari ini berada di tengah tantangan zaman yang nyata: budaya instan, sikap pragmatis, dan melemahnya tradisi berpikir kritis. Dalam situasi seperti ini, organisasi tidak boleh hanya sibuk menggelar kegiatan, tetapi abai terhadap pembentukan nalar dan karakter kader.
Refleksi ini mengingatkan kita bahwa keberlangsungan IPNU–IPPNU tidak ditentukan oleh seberapa rapi struktur kepengurusan disusun, melainkan oleh seberapa kuat nilai dan kesadaran yang ditanamkan. Struktur bisa berganti, nama pengurus bisa berubah, tetapi nilai yang hidup di dalam kaderlah yang menentukan apakah organisasi benar-benar bergerak atau sekadar berjalan.
Konferensi juga menjadi ruang koreksi. Koreksi terhadap cara kita memaknai kaderisasi, terhadap pola gerakan yang mungkin terlalu nyaman, dan terhadap kebiasaan berorganisasi yang terjebak formalitas. Koreksi semacam ini memang tidak selalu nyaman, tetapi justru di situlah letak kedewasaan organisasi. Organisasi pelajar yang sehat adalah organisasi yang berani bercermin dan bersedia berbenah.
Regenerasi kepemimpinan yang lahir dari Konferensi Anak Cabang ke-VI IPNU–IPPNU Srono tidak semestinya dimaknai sebagai pergantian figur semata. Karena pemimpin adalah Khadimul Ummah (Pelayan Umat). Menjadi pemimpin pelajar berarti siap menjadi pelayan kader, penjaga nilai, dan penggerak gagasan. Kepemimpinan yang membumi bukan kepemimpinan yang merasa paling benar, melainkan yang mau berjalan bersama dan belajar bersama.
Dalam sambutannya, Ketua PJ MWCNU Srono, Bapak Saifudin Zuhri, menegaskan pentingnya kesinambungan kepemimpinan dalam tubuh organisasi. Beliau menyampaikan, “Semangat meneruskan estafet kepemimpinan, siapapun yang terpilih bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.”
Kutipan ini bukan sekadar pesan seremonial, melainkan pengingat bahwa setiap periode adalah kesempatan untuk memperbaiki, melanjutkan, dan menyempurnakan ikhtiar yang telah dirintis sebelumnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Cabang IPNU Banyuwangi, Rekan Dwi Ainul Hakiqy. Dalam sambutannya ia menyampaikan, “Saya sering menyampaikan kepada rekan-rekanita PAC bahwa momentum konferensi bukan hanya soal pemilihan ketua saja, tapi bagaimana arah gerak kepengurusan periode depan bisa dilanjutkan, bagaimana rumusan-rumusan saat pleno komisi bisa dimaksimalkan.”
Beliau juga menambahkan, “Kami paham betul bagaimana perjalanan PAC IPNU IPPNU Srono, kami paham betul bagaimana naik turunnya dinamika periodisasi IPNU IPPNU Srono. Dan kami di Cabang akan tetap dan terus membersamai rekan-rekanita PAC IPNU IPPNU Srono ke depan.”
Cuplikan sambutan tersebut mempertegas bahwa konferensi bukan hanya ruang pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang keberlanjutan gagasan dan komitmen bersama. Ada tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa hasil-hasil sidang, rumusan komisi, dan cita-cita bersama tidak berhenti di atas kertas, melainkan benar-benar dijalankan dalam kerja nyata.
Refleksi ini menjadi semakin relevan jika kita belajar dari pemikiran dan keteladanan tokoh NU. Gus Dur berulang kali menegaskan bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama tidak bertumpu semata pada struktur organisasi, melainkan pada kekuatan kultural dan kesadaran warganya. Dalam pandangannya, kaderisasi adalah kerja kebudayaan: proses panjang membentuk cara berpikir terbuka tanpa tercerabut dari akar tradisi. Karena itu, kaderisasi tidak cukup dipahami sebagai agenda organisatoris, tetapi sebagai ikhtiar merawat nilai dan kesadaran kolektif.
Pandangan ini sejalan dengan keteladanan KH. Tholchah Mansur. Dalam biografinya KH. Moh. Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU yang Terlupakan, tergambar sosok kiai yang teguh memegang prinsip, konsisten dalam kaderisasi, dan tidak tergoda jalan pintas. Bagi Tholchah Mansur, kader NU dibentuk melalui proses Panjang, yakni dengan menanamkan nilai-nilai, bukan sekadar melengkapi struktur organisasi semata.
Gus Dur dan KH. Tholchah Mansur sama-sama memberi teladan bahwa keberanian bersikap harus berbanding lurus dengan kesiapan untuk dikritik. Inilah etika gerakan yang relevan bagi IPNU–IPPNU; melangkah dengan kepala tegak, obyektif dalam evluasi dan senantiasa berorientasi pada transformasi–menuju lebih baik.
Pada akhirnya, Konferensi Anak Cabang ke-VI IPNU–IPPNU Srono bukanlah akhir dari sebuah periode kepengurusan. Ia adalah titik awal dari ikhtiar baru—ikhtiar untuk tetap relevan, tetap berpihak pada pelajar, dan tetap setia pada nilai. Dari aula sederhana itu, harapannya bukan hanya lahir kepengurusan baru, tetapi juga kesadaran baru bahwa menjadi pelajar NU berarti siap merawat peradaban dan menjaga keberlangsungan perjuangan, dengan sabar dan sungguh-sungguh.
Oleh: Moh. Izul Haq Adibulloh
