F*cklentine: Valentine Bukan Budaya Kita

 


Mandakara - Setiap Februari, etalase berubah warna. Merah muda menggantikan debu. Boneka beruang berdiri lebih tegap dari buruh yang pulang malam. Cokelat dibungkus rapi, seolah cinta bisa diawetkan di plastik mahal.

Valentine datang seperti brosur promo. Bukan dari tanah ini. Bukan dari sejarah kita. Ia datang bersama diskon, algoritma, dan kalender global.

Kita diajari mencintai lewat tanggal. Disuruh romantis oleh iklan. Dipaksa percaya bahwa satu hari lebih penting dari tiga 364 hari lainnya. Padahal cinta tidak pernah minta jadwal.

Ia hidup di nasi hangat yang dibagi dua. Di ojek malam yang tetap menunggu hujan reda. Di ibu yang bangun paling pagi. Dan ayah yang pulang paling terakhir. Tapi, kapitalisme lebih suka simbol daripada makna. Lebih suka mawar daripada keberanian. Lebih suka status Instagram daripada komitmen.

Valentine menjual perasaan seperti barang musiman. Dan kita, pelan-pelan, ikut antre. Mall berubah jadi gereja baru. Kasir jadi imam. Struk jadi kitab suci. Cinta dipatok harga. Semakin mahal hadiahnya, semakin dianggap serius perasaannya. Kalau tidak beli apa-apa, kamu dianggap gagal mencinta.

Aneh. Padahal banyak pasangan bertahan bukan karena cokelat, tapi karena sabar. Banyak rumah tangga berdiri bukan karena bunga, tapi karena saling mengalah.

Valentine mengajarkan cinta instan: scroll, beli, unggah. Tidak ada ruang untuk sunyi. Tidak ada tempat untuk luka yang disembuhkan perlahan. Yang ada hanya foto tangan saling menggenggam dengan caption manis.

Cinta direduksi jadi konten. Dan yang tidak ikut, dianggap tidak romantis. Kita lupa bahwa kita punya tradisi sendiri. Kita punya tahlilan, punya kenduri, punya gotong royong, punya mudik, punya duduk lama di teras sambil minum kopi pahit.

Di kampung, cinta itu tetangga yang pinjam beras. Di kota, cinta itu teman yang mau dengar keluh tanpa menghakimi. Di jalanan, cinta itu solidaritas. Budaya kita tidak pernah merayakan cinta dengan kemewahan. Kita merayakannya dengan kebersamaan.

Valentine datang membawa konsep asing: cinta eksklusif, privat, berdua saja. Padahal kita diajari, hidup itu kolektif.

Fucklentine bukan soal membenci cinta. Fucklentine tentang menolak manipulasi. Tentang bilang perasaan tidak boleh dijadikan komoditas. Tentang sadar romantisme impor tidak harus kita telan mentah-mentah.

Fucklentine adalah sikap. Sikap melawan standar palsu. Sikap menjaga makna. Sikap kembali ke akar.

Kita tidak anti kasih sayang. Kita anti eksploitasi emosi. Cinta tidak butuh panggung besar. Ia butuh kejujuran.

Valentine jarang bicara tentang buruh. Tentang tukang parkir. Tentang ibu tunggal. Tentang anak kos yang makan mi lagi. Siapa yang merayakan mereka? Hari itu hanya milik yang punya pasangan. Yang lain disuruh tersenyum sendiri. Padahal cinta juga milik yang sedang bertahan hidup.

Media sosial memperparah segalanya. Feed penuh bunga. Story penuh kejutan. Perasaan jadi kompetisi. Siapa paling romantis? Siapa paling bahagia? Tidak ada yang unggah pertengkaran. Tidak ada yang pamer luka. Semua harus terlihat sempurna. Padahal cinta nyata itu berisik. Kadang marah. Kadang capek.

Valentine menyensor kenyataan. Cinta tidak perlu likes. Tidak perlu repost. Tidak perlu hashtag. Cinta cukup hidup di tindakan kecil. Di chat “sudah makan?” Di jaket yang dipinjamkan. Di diam yang menemani.

Kita manusia, bukan market segment. Perasaan kita bukan data penjualan. Valentine memperlakukan kita seperti dompet berjalan.

Fucklentine mengembalikan martabat. Kalau mau merayakan cinta, lakukan tiap hari. Hari Senin yang melelahkan. Hari Selasa yang biasa saja. Hari Jumat yang macet.

Cinta tidak tunggu Februari. Ia hadir di konsistensi. Fucklentine bukan akhir. Ia awal kesadaran. Bahwa kita boleh mencinta tanpa mengikuti skenario luar. Bahwa kita berhak menentukan cara kita sendiri. Cinta yang tidak dibungkus plastik. Cinta yang tidak dijual. Cinta yang membebaskan. Karena cinta sejati tidak datang dari kalender. Ia tumbuh dari keberanian untuk tetap peduli di dunia yang sibuk menjual segalanya.

Oleh: Bagas Husron Jillyansyach
Lebih baru Lebih lama