Makesta Tanpa Basis: Rekontruksi Pelajar Nahdliyyin di Tingkat Anak Cabang

 


Catatan Reflektif Setelah Makesta PAC Genteng oleh Kader Genteng

Berbicara tentang kaderisasi IPNU dan IPPNU di tingkat Anak Cabang hari ini tidak bisa lagi dimulai dari wacana ideal atau kerangka teoritis yang terlalu jauh dari realitas. Persoalan yang dihadapi bersifat nyata dan mendesak: krisis sumber daya manusia. Kader pelajar semakin sulit ditemukan, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.

Lebih dari itu, basis kultural yang selama ini dianggap menjadi kekuatan Nahdliyin perlahan memudar. Banyak pelajar—bahkan yang lahir dari keluarga NU—tidak lagi mengenal tradisi, nilai, maupun organisasi pelajarnya sendiri. NU tidak lagi hadir sebagai pengalaman hidup, melainkan sekadar nama. Dalam kondisi seperti ini, IPNU dan IPPNU di tingkat Anak Cabang bekerja di ruang yang hampir kosong.

Pelaksanaan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) yang baru saja selesai digelar oleh PAC Genteng lahir dari kesadaran atas situasi tersebut. Bukan sebagai agenda yang serba ideal, melainkan sebagai upaya bertahan di tengah krisis. Di saat kaderisasi beresiko berhenti total, MAKESTA menjadi langkah minimal untuk memastikan bahwa proses masih berjalan, meski dengan segala keterbatasan.

Kaderisasi di Tengah Realitas yang Menyusut

Secara struktural, koordinasi dan komunikasi telah diupayakan. Hubungan dengan Majelis Wakil Cabang berjalan, instruksi diteruskan ke bawah, dan mekanisme organisasi dijalankan sebagaimana mestinya. Namun, realitas lapangan tidak selalu bergerak seiring dengan alur struktural. Keterlibatan pelajar tetap minim, bukan karena abai, tetapi karena memang sulit ditemukan.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan kaderisasi IPNU-IPPNU di tingkat Anak Cabang tidak bisa dibaca semata sebagai persoalan teknis atau kinerja pengurus. Ia adalah problem sosial-kultural yang lebih dalam: menyusutnya basis pelajar Nahdliyin itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, kaderisasi sering kali harus dimulai dari titik paling dasar, bahkan dari nol.

Di tengah keterbatasan tersebut, Anak Cabang IPNU-IPPNU memikul tanggung jawab yang tidak ringan. PAC tidak hanya dituntut menghidupkan organisasinya sendiri, tetapi juga memiliki beban untuk menumbuhkan dan menopang pimpinan di bawahnya—mulai dari ranting hingga komisariat.

Ketika ranting dan komisariat belum tumbuh kuat, beban itu otomatis kembali ke Anak Cabang. PAC harus mencari pelajar, membangun minat, mendampingi proses awal kaderisasi, sekaligus menjaga kesinambungan organisasi di seluruh jenjang. Kondisi ini menjadikan PAC sebagai ruang paling strategis, tetapi juga paling rentan dalam mata rantai kaderisasi IPNU-IPPNU.

Generasi Baru dan Tantangan Kaderisasi

Tantangan kaderisasi hari ini semakin kompleks ketika berhadapan dengan karakter Gen Z dan Gen Alpha. Mereka tumbuh dalam budaya serba cepat, visual, dan instan. Mudah bosan, enggan terikat lama, dan tidak akrab dengan ritme organisasi yang kaku. Jika IPNU-IPPNU masih memaksakan pola kaderisasi lama tanpa adaptasi, jarak dengan pelajar akan semakin lebar.

Namun, kondisi ini tidak bisa dijadikan alasan untuk menyerah. Sebaliknya, ia menuntut rekonstruksi cara kaderisasi tanpa kehilangan nilai. MAKESTA harus diposisikan sebagai indoktrinasi nilai dan juga ruang awal ideologisasi yang kontekstual—mengenalkan kembali nilai Aswaja dengan bahasa dan pendekatan yang bisa diterima generasi baru, bukan sekedar sebagai acara seremonial semata.

Dalam berbagai buku kaderisasi IPNU-IPPNU dan literatur NU, MAKESTA ditempatkan sebagai pintu masuk penanaman nilai Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai manhaj berpikir dan bersikap. Indoktrinasi nilai di sini bukan untuk menutup nalar kritis, melainkan memberi arah agar pelajar tidak tumbuh tanpa pegangan dan terutama mereka mau untuk meneruskan estafet perjuangan Nahdlatul Ulama nantinya.

Belajar dari Gus Dur dan KH. Tholchah Mansur

Gus Dur berulang kali menekankan bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama tidak bertumpu semata pada struktur organisasi, melainkan pada kekuatan kultural dan kesadaran warganya. Dalam sejumlah tulisannya, ia memandang kaderisasi NU sebagai kerja kebudayaan: proses panjang yang membentuk cara berpikir terbuka, tanpa tercerabut dari akar tradisi. Karena itu, kaderisasi tidak cukup dipahami sebagai agenda organisatoris, tetapi sebagai upaya merawat nilai dan kesadaran kolektif warga Nahdliyyin.

Pandangan ini sejalan dengan keteladanan KH. Tholchah Mansur. Dalam biografinya, KH. Moh. Tolchah Mansoer: Biografi Profesor NU Yang Terlupakan, tergambar sosok kiai yang teguh memegang prinsip, konsisten dalam kaderisasi, dan tidak tergoda jalan pintas. Bagi Tholchah Mansur, kader NU harus dibentuk melalui proses panjang penanaman nilai, bukan sekadar pengisian struktur.

Keteladanan ini relevan untuk dibaca ulang oleh IPNU-IPPNU di tingkat Anak Cabang hari ini. Di tengah krisis SDM dan memudarnya kultur, kaderisasi tetap harus berjalan—meski dimulai dari sedikit orang, dengan proses yang pelan, tetapi bernilai.

Mungkin dalam pelaksanaan kegiatan MAKESTA ini ada suara yang terdengar, bahkan menjadi sebuah kontroversi. Salah satunya perihal legitimasi kepengurusan. Dinamika yang menyertai pelaksanaan MAKESTA tersebut sudah semestinya dibaca sebagai konsekuensi dari keberanian bergerak di tengah keterbatasan. Dalam sejarah NU, kader sering lahir bukan dari kondisi ideal, melainkan dari kegelisahan dan keberanian mengambil resiko.

Gus Dur dan KH. Tholchah Mansur sama-sama memberi contoh bahwa keberanian bersikap harus dibarengi dengan kesiapan dikritik. Inilah etika gerakan yang relevan bagi IPNU-IPPNU hari ini: berani melangkah, jujur mengevaluasi, dan terus memperbaiki diri.

Merawat dan Menjaga Masa Depan

Dalam situasi krisis seperti ini, kaderisasi IPNU-IPPNU di tingkat Anak Cabang tidak bisa lagi bertumpu pada orientasi kuantitas. Yang lebih mendesak adalah kualitas dan keberlanjutan. Merawat yang sedikit, menjaga yang bertahan, dan menanam nilai secara konsisten menjadi pilihan yang paling realistis.

MAKESTA mungkin hanya menghasilkan segelintir kader. Namun, dari segelintir itulah masa depan IPNU-IPPNU dipertaruhkan. Sebab, kader ideologis tidak lahir dari keramaian, melainkan dari proses yang mengedepankan kejujuran.

Rekonstruksi kader muda Nahdliyin di tingkat Anak Cabang menuntut kejujuran membaca realitas, keberanian beradaptasi dengan generasi baru, dan keteguhan menjaga nilai. Karena masa depan IPNU-IPPNU, dan keberlanjutan NU itu sendiri, sangat ditentukan oleh siapa yang hari ini bersedia bertahan dan berproses di tengah krisis persimpangan zaman.

Wallahua'lam bisshowab.

Oleh: Akid Waliyudin

Lebih baru Lebih lama