Sekongkol: Dramaturgi Kuasa dan Kedok Spiritualitas


 

Mukadimah

“Waduh, di mana bukuku?” gumamku setiba di rumah. Selepas rapat evaluasi pelaksanaan kaderisasi formal GP Ansor, buku yang saya tenteng untuk segera dituntaskan hilang dari lubang klotok sepeda. Buku Sekongkol gubahan Dendy Wahyu Anugrah, yang sedikit lagi tuntas saya baca, raib ditelan malam. Tanpa tanda-tanda dapat ditemukan.

“Apa tertinggal di Warung Geprek? Atau aku terlalu kencang memutar gas sepeda?” Asumsi dalam batinku. Dengan kehilangan, saya terpikirkan untuk menuliskan resensi kecil-kecilan. Dengan bekal ingatan-ingatan yang masih menempel dalam otak, upaya membuat layout resensi dilakukan. Sekali lagi, kecil-kecilan.

Karena beberapa hal, penulis saya hubungi, untuk meminta beberapa keterangan. Alih-alih menjawab satu per satu kebutuhan–karena saya lupa–, si penulis justru mengirimkan softcopy buku keduanya itu. ”Tidak apa-apa, Kang. Anggap saja, selama bukunya belum kembali, itu (softcopy) buat pegangan dulu,” katanya selepas mengirim file berukuran 19 MB tersebut. Dengan ini saya ucapkan terimakasih, Cak!

Rencana awal yang hanya sekadar meresensi dengan akhir yang mengambang–sebab berbekal ingatan–, menjadi berubah. Dan dengan demikian, berefek untuk menyusun ulang layout-nya. Padahal, pikir saya, akan lebih menarik jika berakhir dengan tanda tanya. Tapi, bagaimana pun, niat menulis–walaupun bergeser untuk menulis secara lebih komprehensif–harus tetap ditunaikan. Apalagi, sudah terlanjur diberi pegangan–yang bukan uang.

Kendati demikian, resensi ini tidak akan ditulis secara sistematis sebagaimana pada umumnya sebuah resensi. Tidak akan ada pembahasan bagian-bagian yang runut sebagaimana tertuang dalam daftar isinya. Resensi Sekongkol ini lebih cenderung memberikan gambaran terhadap poin-poin yang ada dalam buku.

Sementara pegangan sudah di tangan, beberapa hari kemudian, tepatnya pada Minggu (11/1/26), saya berangkat ngopi, bertemu rekan-rekan, informasi mencengangkan saya terima. “Oh, iya, Bang. Buku sampean yang warna hitam, yang judulnya se-se, apa itu, Sekongkol. Itu di Basecamp, Bang,” ucap salah satu rekan. Saya terkejut.

Asumsi tertinggal di Warung Geprek meleset jauh. Yang lebih mendekati hanya terkaan bahwa buku itu jatuh. Hanya, saya kira jatuh karena terlalu kencang laju sepeda menuju rumah. Ternyata tidak. Buku jatuh tidak jauh dari–bukan pohonnya–tempat di mana sepeda saya terparkir saat rapat malam itu. Aneh. Tidak terasa sama sekali. Tapi, syukurlah, Sekongkol tetap menemui empunya. Kepada sang penemu dan sang pembawa, saya ucapkan terimakasih.

Lantas apakah ini yang dinamakan jodoh? Bagaimana pun berpisah, selalu ada jalan untuk berjumpa dan terus dimiliki. Entahlah dan syukurlah.

Tokoh yang Bernama Ali

Ali, mahasiswa jurusan Pendidikan Sejarah yang telah melahap banyak buku, adalah tokoh utama dalam cerita panjang berjudul Sekongkol ini. Dendy merasa tidak tepat jika buku ini disebut sebagai novel–sebab terlalu pendek–, pun juga tidak sepakat jika dikategorikan cerita pendek–sebab cukup panjang. Jadilah ia masukkan dalam kategori yang belum pernah saya dengar: cerita panjang.

Diceritakan bahwa Ali bersama kawan-kawan mahasiswanya memperbincangkan liburan. Sebuah aktivitas yang tidak pernah menjadi perhatian tokoh utama ini. Bagus, Arga, Harun dan Lily, adalah sirkel Ali yang selepas ujian pergi ke kantin, dengan liburan sebagai tema obrolannya.

Singkatnya, Arga akan berlibur di villa daerah puncak, Bogor. Harun melawat ke Malaysia. Dan Bagus ke Kediri, tepatnya Pare, untuk kursus Bahasa Inggris. Sedangkan Lily, mahasiswi blasteran Indonesia-Turki, yang tercatat sebagai mantan Ali, akan berlibur ke Yogyakarta.

Ali sendiri, sebagai seseorang yang gemar membaca, tidak tertarik dengan rutinan semester yang disebut liburan itu. Ia, seperti semester sebelumnya, menghabiskan waktu liburnya untuk melahap tumpukan buku. Meskipun, pada akhirnya menerima masukan Lily untuk berlibur ke kakeknya. Asal kelahiran ayahnya, Kartolo. Itu pun masih Ali pertimbangkan.

Aneh memang. Mahasiswa sudah sepantasnya suka membaca buku. Tapi, untuk tidak liburan. Kenapa tidak? Mereka, menurut pengalaman awam, tentu sangat lelah dengan segala aktivitas akademik itu. Tugas satu selesai, lanjut ke tugas yang lain. Malam hari adalah kesempatan untuk menuntaskan tugas-tugas kuliah. Terlebih lagi, saat mendekati deadline. Lebih seru, lebih tepat, dan tak jarang, otak lebih cemerlang.

Kendati demikian, seharusnya mereka lelah, dan terobsesi untuk menghabiskan waktu libur mereka dengan bersenang-senang. Sebelum nantinya, mereka kembali ke beranda kampus, masuk ruang kelas, dan menerima tugas-tugas membagongkan lagi.

Entahlah. Apakah penulis sedang menggambarkan dirinya sendiri–sebagaimana Multatuli dengan Max Havelaar-nya, mungkin–atau sedang menampilkan tokoh utopis–sebab kini sulit ditemukan. Untuk mendapat jawaban itu, cari saja akun instagramnya, lalu DM. Heuheuheu.

Selanjutnya, kita akan coba mendedah poin-poin pokok–yang bisa saya tangkap–dalam buku ini. Semampunya.

Dramaturgi Kekuasaan

Dalam cerita panjang ini, Pak Sukirin, selaku Kepala Desa Jati Klatak yang akan lengser–sebab hampir genap satu periode–akan maju lagi dalam kontestasi Pilkades. Kekuasaan memang candu. Mengandung unsur adiktif karena beberapa hal, terutama perihal citra. Semakin baik kinerja, semakin baik pula citranya, serta semakin dipercaya. Dan berpotensi semakin memperdaya warganya.

Melawan penantang baru bernama Pak Tukijan, tentu hal yang mudah bagi Pak Sukirin untuk kembali menduduki tampuk kekuasaan. Secara, ia sudah memiliki citra yang baik di masyarakat, apalagi kinerjanya juga berbanding lurus dengan nama baik yang didapat.

Menurut pengakuan Ali, semasa kecil ia berlibur di Jati Klatak, desa masih kumuh dan kondisi warganya masih jauh untuk bisa dikatakan sejahtera. Sedangkan, di masa ia berlibur kini–pada akhirnya Ali menerima masukan Lily–, sudah banyak yang berubah.

Desa semakin tertata, tidak lagi kumuh, dan warganya tampak sumringah. Dulunya yang terkenal banyak maling, kini sudah aman. Warga desa bergantian dalam aktivitas ronda malam. Sudah aman, sejahtera pula. Setidaknya, menurut keterangan Mbah Mad (kakek Ali), desa menjadi demikian sebab kinerja baik Pak Sukirin.

Dari sini kita melihat bahwa Pak Sukirin memiliki modal sosial yang cukup untuk maju lagi dalam Pilkades. Tanpa banyak ontran-ontran, seperti membeli jasa buzzer, membangun citra yang berlebihan, ataupun memasang bejibun baliho di setiap sudut desa dengan visi-misi yang melangit, Pak Sukirin sudah tentu tidak menjadi petahana yang akan dikalahkan oleh Pak Tukijan, yang konon tak tamat SD itu.

Nyatanya, plot twist dari citra yang tampak dari laku dedikasi Pak Sukirin ini sekadar dramaturgi. Sebuah teori sosial yang dikembangkan oleh Erving Goffman dalam bukunya yang berjudul The Presentation of Self In Everyday Life, yang menggambarkan manusia sebagai aktor dari drama (panggung) yang dibuatnya sendiri (1959). Apa yang tampak di mata manusia lain adalah bagian dari rencana, yang sengaja dibangun untuk mendapatkan atensi atau opini tertentu.

Kinerja Pak Sukirin untuk Jati Klatak bisa dikatakan memang dilakukan dengan sebaik-baiknya. Ini tidak bisa dipungkiri, sebab ada perubahan signifikan yang terjadi di desa, berikut kesejahteraan warganya. Namun demikian–di akhir cerita–ternyata ada praktik yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang pemimpin. Pak Sukirin meminta tolong kepada “orang pintar” untuk memenangkan dirinya. Orang pintar itu adalah Pak Lik Sudar alias Mbah Pekik, yang tidak lain merupakan paman Ali sendiri.

Dua hal yang menandakan bahwa praktik Pak Sukirin ini merupakan dramaturgi, yakni: pertama, Pak Tukijan meminta tolong kepada Mbah Pekik untuk dimenangkan dalam Pilkades, namun karena tidak dapat memenuhi ongkos yang diminta–oleh para leluhur, kata Mbah Pekik–ia tak berdaya, dan pasti kalah. Dan kekalahan itu disebabkan persekongkolan antara Pak Sukirin dan Mbah Pekik, dengan cara meminta ongkos yang tak mungkin dapat dipenuhi Pak Tukijan, dan; kedua, persekongkolan ini dilakukan sejak Pak Sukirin pertama kali mencalonkan diri, berhadapan petahana bernama Pak Soemantri.

Dalam teori Goffman, dramaturgi yang diejawantahkan sebagai tempat manusia berperan terbagi dalam tiga panggung (Goffman, 1959). Pertama, front stage atau panggung depan, di mana segala strategi atau skenario direalisasikan, citra dibangun dan dilakukan langsung di hadapan manusia lainnya. Pak Sukirin menjadikan desa sebagai panggungnya dan warga sebagai penontonnya. Di depan warga desa ia menampakkan sikap dan karakter selayaknya pemimpin yang dicintai; lembut, berwibawa, dan sangat populis.

Kedua, back stage atau panggung belakang. Di sini, Goffman menggambarkan aktor tengah bersantai, dan ia tak harus bersikap sebagaimana saat ia berada di panggung depan. Jadi, back stage ini merupakan tempat melatih teknis pembangunan citra. Rumah Pak Sukirin adalah back stage, sebagaimana rumah-rumah pejabat lainnya. Mereka hanya membangun citra saat dibutuhkan, yakni kala keluar dari rumah. Bukan hanya Pak Sukirin saja, tetapi banyak “oknum” lintas sektor yang juga demikian. Di forum akademik maupun ruang publik. Di depan meja pengadilan maupun mimbar pengajian. Dan sebagainya.

Dan ketiga, off stage. Panggung yang menjadi tempat seseorang sedang tidak menjadi siapa-siapa. Sifat seseorang yang sejati berada di sini. Inilah temuan Ali di menjelang akhir cerita, di mana ia tercengang dengan fakta bahwa ketika ritual yang dilakukan Mbah Pekik untuk kemenangan Pak Tukijan dilakukan, ternyata Pak Sukirin juga ada di sana (bersembunyi di kebun, belakang padepokan). Dan terkonfirmasi saat Mbah Mad menceritakan Pilkades sebelumnya, rivalitas antara Pak Soemantri dengan Pak Sukirin. Pak Soemantri mati tanpa diketahui sebabnya. Dan konon, Mbah Pekik yang membunuhnya.

Dalam front stage, Pak Sukirin merupakan pemimpin desa yang seolah benar-benar tulus. Bahkan di Padepokan Amung Gandul–milik Mbah Pekik–, ia mengaku sering berkunjung dan mengingatkan untuk berhenti dan kembali ke jalan yang benar, tapi tidak digubris oleh Mbah Pekik alias Pak Lik Sudar, anak Mbah Mad itu. Tapi, sejatinya, dalam off stage¸ Pak Sukirin adalah orang yang intens berkunjung ke Padepokan–pelataran neraka, kata Mbah Mad–, dan berkawan, atau lebih tepatnya bersekongkol dengan Mbah Pekik. Ndlogok!

Pembodohan Berkedok Spiritualitas dan Pembebasan Ali

Persekongkolan dalam Pilkades Jati Klatak sudah diketahui. Dramaturgi yang dilakukan oleh Pak Sukirin jelas bukan laku yang semestinya. Di masa modern, kemenangan kontestasi politik diupayakan dengan kampanye konkret, diukur dengan statistik, dan secara massif membangun opini publik. Kendati demikian, di masa teknologi yang sudah secanggih sekarang, ternyata upaya pemenangan dengan jalur mistik itu masih terus dilakukan.

Di Indonesia sendiri, Soeharto adalah salah satu presiden yang dikenal sebagai orang yang sangat percaya klenik. 32 tahun menjabat bukan hanya karena manajemen otoritariannya yang ketat, melainkan juga laku mistik yang ia lakukan. Beberapa laku spiritual, seperti berpuasa di waktu tertentu, mengadakan upacara selametan, serta mengunjungi makam atau tempat keramat tokoh-tokoh besar masa lalu, di-lakoni oleh pemimpin orde baru ini (Artha, 2007:88).

Penggambaran Mbah Pekik dalam membantu Pak Sukirin dan Pak Tukijan ini jauh dari praktik mistik di atas. Meskipun, sama-sama "meminta tolong" kepada hal atau orang yang seolah sakti atau keramat, tetapi ada hal yang cukup aneh, setidaknya bagi Ali, yang menurut saya bukan hanya tokoh utama, melainkan manifestasi dari pikiran rasional, sekaligus berlandas pembebasan.

Pak Tukijan, penantang petahana yang digambarkan tak punya citra apapun di mata masyarakat, menghabiskan uangnya untuk meminta Mbah Pekik memenangkan dirinya. Dengan berlagak serius, Mbah Pekik menangguhkan ritualnya, sebab belum yakin akan waktu pelaksanaannya. Sebab, lazimnya, hal-hal demikian berkaitan erat dengan pemilihan hari yang tepat.

Di waktu yang–katanya–tepat, ritual dilakukan. Ada syarat bagi Pak Tukijan agar ia benar-benar bisa memenangkan kontestasi, yakni bisyarah (ongkos/upah), yang diperuntukkan bagi para leluhur. Namun, ternyata Pak Tukijan sudah entek bebek-entek meri. Ia hanya membawa setengah dari bisyarah yang seharusnya, karena nominal yang diminta sangat besar.

Dengan dalih yang melulu atas arahan para leluhur, seolah mendapatkan wahyu kedaton–mandat langit–, dan juga dalih demi menjaga kondusivitas desa selayaknya resi di masa-masa kerajaan zaman dahulu, permintaan “ongkos spiritual” yang dilakukan Mbah Pekik adalah pemerasan berkedok spiritualitas. Terlepas dari pendekatan yang tidak masuk akal itu terbukti efektif atau hanya sugesti belaka, pemerasan terhadap Pak Tukijan juga merupakan pembodohan.

Dan di sinilah Ali sebagai manifestasi pembebasan hadir sebagai pembongkar status quo pamannya. Pengikut-pengikut Mbah Pekik dalam obrolan-obrolan ringan dengan Ali, tetap menampakkan kepatuhannya kepada pemimpin padepokan. Tanpa pernah bertanya, menginterupsi, apalagi melawan. Sam’an wa tha’atan, kata Dendy. Sampai pada titik Ali membangkang pun, mereka atau orang-orang yang ikut dalam ritual, tidak ada yang berkata-kata. Bisa jadi mereka takut kepada Mbah Pekik. Juga, bisa saja karena pukulan Ali benar-benar pukulan kebenaran.

Khatimah

Investigasi yang dilakukan sejak awal berlibur, dari temuan kejanggalan-kejanggalan di Jati Klatak yang citranya ditutupi dengan kedamaian warganya itu, Ali mengumpulkan pecahan-pecahan informasi. Penasaran demi penasaran timbul di dadanya, hingga akhirnya membuncah layaknya bom waktu. Ia, mungkin saja, masih belum memastikan praktik mistik sebagai hal yang salah. Tetapi, untuk pemerasan pamannya terhadap Pak Tukijan, ia pastikan sebagai kelakuan yang biadab.

Kemenangan kontestasi politik tidak diraih dari bilik padepokan atau pelataran ritual. Kemenangan diraih dengan membangun citra sebagaimana mestinya. Tidak berbohong kepada warga, keluarga dan bahkan sampai membohongi diri sendiri, seperti Pak Tukijan–sedih saya saat membaca bagian ini. Kentir!

Mengalahkan orang lain bukanlah kemenangan sejati. Kemenangan sejati adalah mampu mengalahkan (ego) diri sendiri.

Tabik!

Oleh: Bang Sholeh

Rujukan:

Anugrah, Dendy Wahyu. 2025. Sekongkol. Banyuwangi: Pena Laut

Artha, Arwan Tuti. 2007. Dunia Spiritual Soeharto. Yogyakarta: Galang Press

Goffman, Erving. 1959. The Presentation of Self in Everyday Life. Jakarta: Erlangga


Lebih baru Lebih lama