Klik, Scroll, & Share

 


Aku Klik Maka Aku Ada

Saya sering bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali saya membaca sesuatu dengan benar-benar utuh? Bukan sekadar membuka, bukan sekadar melewati, tapi membaca dengan kesadaran penuh—pelan, sabar, dan memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja. Pertanyaan itu muncul bukan karena saya membenci teknologi, justru karena saya hidup di dalamnya setiap hari.

Jika Rene Descartes pada abad ke-17 pernah merumuskan keberadaan manusia melalui kalimat “aku berpikir, maka aku ada”, saya merasa hari ini rumus itu diam-diam telah berubah. Bukan lagi berpikir yang menandai eksistensi, melainkan aktivitas yang jauh lebih sederhana dan kasatmata: klik, geser, unggah, dan hadir di linimasa. Seolah-olah, selama kita masih terlihat aktif, selama jempol masih bergerak, keberadaan kita tetap sah.

Saya tidak sedang menertawakan generasi tertentu. Saya juga bagian dari itu. Bangun tidur, tangan refleks meraih ponsel. Sebelum benar-benar sadar, dunia sudah lebih dulu masuk ke kepala saya: notifikasi, pesan, potongan video, berita singkat, dan opini orang lain. Semua datang hampir bersamaan. Saya belum sempat berpikir, tapi sudah kebanjiran informasi.

Di titik ini, internet tidak lagi sekadar alat bantu. Ia telah menjelma menjadi ruang hidup. Tempat kita mencari tahu, menilai diri, membandingkan hidup, bahkan membuktikan bahwa kita masih ada. Tidak scroll terasa seperti tertinggal. Tidak tahu terasa seperti kalah. Tidak ikut bicara terasa seperti menghilang.

Saya mulai menyadari satu hal: membaca telah berubah makna. Membaca tidak lagi berarti duduk lama dengan satu teks, menunda kesimpulan, dan membiarkan pikiran berkelana. Membaca hari ini sering kali cukup dengan melihat judul, menonton cuplikan, atau membaca ringkasan yang disediakan algoritma. Kita merasa sudah tahu, padahal baru melihat permukaannya.

Padahal, dulu membaca adalah kerja pelan. Ada jeda. Ada ragu. Ada tafsir. Ada proses memahami yang tidak selalu nyaman. Kita bisa tidak setuju, bisa bingung, bisa kembali membaca ulang. Membaca memberi ruang bagi pikiran untuk tidak tergesa-gesa. Dan mungkin justru karena itu, membaca melatih kita untuk berpikir.

Kini, ritme itu terasa asing. Dunia bergerak cepat, dan kita dipaksa menyesuaikan diri. Kecepatan menjadi nilai. Yang lambat dianggap ketinggalan. Yang berhenti dianggap tidak produktif. Dalam kondisi seperti ini, berpikir pelan terasa seperti kemewahan—bahkan kesalahan.

Saya tidak menulis ini untuk mengajak kembali ke masa lalu. Saya juga tidak ingin terdengar seperti orang yang memusuhi layar dan teknologi. Dunia telah berubah, dan perubahan itu tidak bisa dibatalkan. Namun, di tengah perubahan ini, saya merasa ada sesuatu yang pelan-pelan terkikis: kemampuan kita untuk benar-benar berpikir, bukan sekadar bereaksi.

Ini bukan tentang menyalahkan siapa pun. Ini tentang kegelisahan yang mungkin juga dirasakan banyak orang, tetapi jarang dibicarakan. Tentang rasa lelah yang tidak selalu terlihat. Tentang kepala yang penuh, tetapi pikiran yang dangkal. Tentang rasa tahu yang cepat datang, namun cepat pula hilang.

Mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah kita hidup di dunia digital—karena jawabannya jelas iya. Pertanyaan yang lebih jujur adalah: di tengah semua klik dan geser itu, apakah kita masih memberi ruang bagi diri kita sendiri untuk berpikir?

Bab-bab berikutnya akan mencoba menelusuri pertanyaan itu lebih jauh. Tentang bagaimana scrolling menjadi kebiasaan. Tentang bagaimana cyber culture membentuk cara kita memahami dunia. Dan tentang kemungkinan sederhana namun sulit: bertahan sebagai manusia yang masih mau membaca, berpikir, dan meragukan—di tengah dunia yang terus meminta kita bergerak lebih cepat.

 

Hidup dalam Rezim Scroll

Saya mulai menyadari bahwa masalahnya bukan sekadar “terlalu sering main ponsel”. Masalahnya lebih dalam: cara saya—dan mungkin kita semua—berhubungan dengan pengetahuan telah berubah. Bukan hanya apa yang kita baca, tetapi bagaimana kita membaca, seberapa lama kita bertahan, dan seberapa dalam kita memberi perhatian.

Beberapa hari lalu, saya sempat berbincang singkat dengan Bang Sholeh. Percakapan itu tidak panjang, bahkan cenderung sederhana. Tapi, justru di situ saya merasa sedang berbicara tentang sesuatu yang penting. Saya bilang kepadanya, setengah bercanda, setengah jujur: “Hari ini aku lelah, Bang. Lelah karena aku tidak mampu mempertahankan fokusku. Lelah karena aku semakin sulit memahami tulisan orang.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa persiapan. Tapi setelahnya, saya terdiam. Saya sadar, itu bukan keluhan sepele. Itu pengakuan. Pengakuan bahwa ada sesuatu yang pelan-pelan berubah dalam diri saya. Bahwa membaca—yang dulu terasa akrab, kini sering terasa berat. Bukan karena tulisannya semakin sulit, tetapi karena saya sendiri semakin sulit bertahan di dalamnya.

Saya bisa membaca banyak hal dalam sehari, tapi jarang benar-benar tenggelam. Pikiran saya mudah teralihkan. Satu paragraf belum selesai, dorongan untuk membuka hal lain sudah muncul. Seolah-olah ada suara kecil yang terus berkata: cepatlah, masih banyak yang lain. Dan di situlah saya mulai curiga, jangan-jangan kelelahan ini bukan kelelahan fisik, melainkan kelelahan kognitif—kelelahan karena terlalu sering berpindah tanpa pernah benar-benar menetap.

Percakapan saya dengan Bang Sholeh itu terus mengiang di kepala saya beberapa hari kemudian, dan sampai tulisan ini terpublikasi. Dan baru pekan lalu, ketika saya main ke kontrakan salah satu organisasi tempat saya berkawan, saya menemukan fakta baru yang membuat percakapan itu terasa bukan sekadar curahan hati pribadi, tetapi bagian dari fenomena yang lebih besar.

Ketika itu saya sedang mengulang rutinitas kecil yang belakangan saya paksa untuk tetap hidup: membaca lima halaman buku sebelum tidur. Bukan target muluk, hanya upaya sederhana agar hari tidak sepenuhnya habis oleh layar. Di sela itu, saya sempat bercanda dengan salah satu teman di kontrakan. Nada saya mungkin terdengar sedikit sinis, atau terlalu jujur.

“Mas (Kreng), hidup kok gitu-gitu aja. Tidur, bangun, scroll. Tidur lagi, main game lagi, scroll lagi.”

Ia tertawa sebentar, lalu menimpali dengan kalimat yang katanya bercanda, tapi entah kenapa terasa menghantam cukup keras.

"Siap, si paling membaca!”

Saya terdiam. Bukan karena marah, tapi karena kalimat itu terasa seperti tamparan pelan. Bukan hanya pada saya, tapi pada ingatan saya sendiri. Dulu, di organisasi ini, membaca adalah kebiasaan yang hidup. Buku berpindah tangan, diskusi berlangsung lama, dan rujukan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Sekarang, membaca justru terdengar seperti identitas yang layak diledek—sementara obrolan tentang rank, lord, dan strategi Mobile Legends terdengar jauh lebih serius dan penuh gairah, dan juga meng-ghibah beberapa video fyp jauh lebih seru.

Mungkin kalimat saya memang terlalu kasar. Mungkin juga candaan itu tidak dimaksudkan untuk melukai. Tapi di titik itu saya sadar: ada sesuatu yang berubah. Bukan hanya pada individu, melainkan pada suasana kolektif. Budaya membaca yang dulu dirawat perlahan tergeser oleh budaya layar yang lebih cepat memberi kepuasan. Dan saya, entah sejak kapan, berada di tengah perubahan itu—sebagai saksi, sekaligus bagian darinya.

Rekam jejak data membantu memperjelas pengalaman itu. Di Indonesia, penetrasi pengguna internet terus melonjak. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan lebih dari 210 juta pengguna internet di 2022, dengan penetrasi usia muda yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 99% di kelompok 13–18 tahun dan lebih dari 60% di usia 5–12 tahun. Namun, peningkatan akses internet itu tidak diikuti oleh peningkatan budaya membaca—terutama pada kelompok di bawah 25 tahun—yang justru menunjukkan tingkat kegemaran membaca yang lebih rendah dibanding kelompok pekerja dewasa.

Fakta ini bukan hanya anekdot. Sejumlah penelitian lokal juga menguatkannya. Misalnya, studi yang meneliti dampak media digital terhadap literasi membaca pada siswa sekolah dasar yang menemukan bahwa penggunaan media digital memiliki efek ganda: di satu sisi memperluas akses, tetapi di sisi lain berpotensi menurunkan kemampuan membaca mendalam jika tidak diseimbangkan dengan strategi literasi yang tepat.

Kondisi ini mengingatkan saya pada satu istilah yang sering muncul dalam kajian literasi digital: attention economy. Konsep ini menyatakan bahwa di era digital, perhatian manusia menjadi komoditas yang diperebutkan platform digital. Sistem tidak hanya menyajikan informasi, tetapi memperpanjang durasi kita berada di dalamnya, kadang dengan cara yang hampir tanpa sadar. Desain infinite scroll, notifikasi yang tak henti, dan konten yang terus disesuaikan dengan preferensi kita semua bekerja untuk mempertahankan perhatian, bukan untuk memperdalam pemahaman.

Dengan kata lain, ketika teman saya bercanda dengan kalimat “paling membaca”, mungkin dia secara tidak sadar menunjukkan bahwa membaca panjang dan mendalam sudah menjadi sesuatu yang tidak biasa di lingkungan kita—bukan karena permusuhan terhadap teks, tetapi karena sistem digital telah membentuk kebiasaan yang baru: cepat, fragmen, dan selalu bergerak.

Sekarang saya tidak hanya lelah secara pribadi. Saya juga mulai melihat bagaimana pola itu tertanam di lingkungan sosial kita. Bukan hanya masalah kebiasaan individu, tetapi masalah struktur sosial yang menilai kecepatan lebih tinggi daripada kedalaman, reaksi lebih cepat daripada refleksi.

Ini yang kemudian membawa saya pada kesadaran baru: bahwa scrolling culture bukan hanya soal perilaku harian, tetapi juga soal bagaimana lingkungan sosial kita memberi makna kepada membaca itu sendiri—bahkan sampai dijadikan bahan gurauan di kontrakan, bukan sebagai kegiatan yang dihormati.

 

Baca Pelan, Kalah Viral

Saya semakin sadar bahwa membaca hari ini bukan sekedar soal kemapuan, tetapi soal posisi sosial. Ada satu momen kecil lain yang memperkuat keyakinan itu. Bukan peristiwa besar, bukan diskusi akademik, hanya kejadian sehari-hari yang mungkin juga dialami banyak orang.

Suatu sore, saya berada di sebuh warung kopi kecil. Beberapa anak muda duduk melingkar, Sebagian besar sibuk dengan ponsel masing-masing. Di Tengah obrolan, salah satu dari mereka memperlihatkan sebuah video yang sedang viral, atau masuk fyp-nya. Semua tertawa. Video berdurasi kurang lebih dari satu menit itu diputar berulang-ulang. Tidak ada yang salah. Saya ikut tersenyum. Tapi setelahnya percakapan langsung berpindah ke video lain, lalu ke topik lain, tanpa jeda.

Di tas saya ada sebuah buku, tebalnya sedang, tidak berat-berat amat. Saya sempat membukanya sebentar, membaca beberapa paragraf. Tidak sampai lima menit, salah satu dari mereka melirik dan bertanya, setengah heran, setengah bercanda, “serius amat bacanya. Emang lagi kuliah? dan untuk apa membacanya?”

Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi menyimpan makna. Membaca. Dalam ruang sosial seperti itu, terasa tidak sinkron. Seolah-olah ia datang dari ritme lain. Di Tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh tawa singkat, membaca tampak terlalu pelan, terlalu sunyi, terlalu tidak relevan.

Di situlah saya sadar: reading culture hari ini bukan hanya menurun, tetapi juga mengalami perubahan makna. Ia tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan bersama, melainkan pilihan personal yang sering kali harus dijelaskan. Bahkan dibela. Sementara scrolling tidak perlu alasan apa pun–ia otomatis, wajar, dan diterima.

Fenomena ini selaras dengan cara kerja attention economy. Konten viral dirancang untuk segera memancing emosi: lucu, marah, kagum, atau kesal. Emosi cepat jauh lebih bernilai daripada pemahaman mendalam. Nicholas Carr (2020) pernah mengingatkan bahwa lingkungan digital seperti ini melatih otak untuk terus merespons rangsangan baru, bukan untuk bertahan dalam satu gagasan. Akibatnya, membaca panjang terasa melelahkan, bukan karena isinya, tetapi karena ia menuntut jenis perhatian yang jarang kita gunakan.

Di Indonesia, situasi ini diperparah oleh budaya media sosial yang sangat kuat. Laporan APJII (2022) menunjukkan bahwa media sosial menjadi aktivitas internet utama masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Namun, tingginya konsumsi konten tidak otomatis berbanding lurus dengan kemampuan verifikasi informasi. Budaya viral sering kali berjalan lebih cepat daripada budaya klarifikasi. Yang ramai lebih dipercaya daripada yang tepat.

Maka, tidak mengherankan jika membaca panjang kemudian terdorong ke pinggir. Ia kalah bersaing bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak sensasional. Ia tidak memberi reaksi instan. Tidak mudah dibagikan. Tidak selalu bisa diringkas dalam satu tangkapan layar.

Namun, saya tidak ingin berhenti pada keluhan. Di titik ini, saya justru mulai melihat membaca sebagai sikap sadar. Sebuah keputusan kecil untuk tidak selalu tunduk pada logika kecepatan. Membaca bukan upaya kembali ke masa lalu, bukan romantisme buku cetak, melainkan cara sederhana untuk merebut kembali ruang berpikir yang kian sempit.

Membaca hari ini mungkin tidak membuat kita viral. Tidak menaikkan engagement. Bahkan mungkin membuat kita terlihat aneh. Tapi justru di situlah nilainya: ia memberi kita kesempatan untuk tidak selalu bereaksi, untuk menunda kesimpulan, dan untuk berpikir sebelum ikut arus. Dan mungkin, di tengah dunia yang terus berisik, itu sudah lebih dari cukup.

Kesadaran itu membawa saya pada satu pertanyaan lanjutan: jika membaca memang telah menjadi tindakan minor, lalu bagaimana kita bisa bertahan tanpa harus menjadi moralis? Tanpa merasa paling benar, tanpa menolak dunia digital sepenuhnya. Dari sini, saya ingin berbicara tentang cara-cara kecil untuk tetap waras di tengah arus—bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai manusia biasa.

 

Tsunami Samudra

Pada tahun 2025 kemarin, saya menyadari bahwa persoalannya bukan sekedar “terlalu sering main ponsel”. Masalahnya lebih dalam dan lebih sunyi. Cara–saya dan mungkin kita semua–berhubungan dengan pengetahuan mungkin telah berubah. Bukan hanya soal apa yang kita baca, tapi bagaimana kita membaca, berapa lama kita mampu bertahan, dan seberapa jauh perhatian benar-benar menetap sebelum berpindah lagi.

Kesadaran itu datang bukan dari buku teori, melainkan dari kelelahan yang terasa nyata. Saya bisa membuka banyak informasi dalam sehari, tetapi jarang benar-benar bisa tengelam di satu hal. Membaca beberapa halaman terasa lebih berat di bandingkan menonton deretan video pendek. Bukan karena isinya sulit, melainkan mungkin karena ritme pikiran saya sudah terbiasa bergerak cepat.

Saya tidak sedang menolak teknologi. Saya hidup dengannya. Saya bekerja, membaca berita, bahkan menulis melalui layar yang sama. Tetapi saya mulai menolak satu anggapan yang sering diam-diam kita terima: bahwa mengkritik cara kita memakai teknologi berarti anti–kemajuan atau bersikap moralis. Bagi saya, kritik justru tanda bahwa kita masih ingin beranjak, masih ingin berpikir.

Dalam kajian media digital, kondisi ini sering dijelaskan melalui konsep attention economy. Di sini, perhatian manusia menjadi komoditas utama. Platfom digital tidak dirancang untuk memperdalam pemahaman, melainkan untuk mempertahankan keterlibatan selama mungkin. Infinite scroll, video berdurasi pendek, dan rekomendasi yang terus muncul bukanlah fitur netral, melainkan bagian dari desain yang memaksimalkan retensi perhatian (Zuboof, 2019; Firth et al., 2019).

Yang menarik, di tengah arus besar itu, saya menemukan fakta kecil yang jarang dibicarakan. Ada orang-orang yang secara sadar memilih untuk tidak mengunakan aplikasi tertentu secara berlebihan–bahkan ada yang sama sekali tidak menggunakannya. Bukan karena anti, bukan pula karena merasa lebih suci secara digital, tetapi karena pengalaman pribadi yang melelahkan.

Dalam salah satu percakapan pribadi, seseorang kawan bercerita bahwa ia tidak lagi menggunakan TikTok dengan pertimbangan sederhana: terlalu mudah terdorong untuk scrolling tanpa sadar, terlalu banyak konten yang tidak memberi nilai, potongan video pendek yang mendorong kesimpulan instan tanpa pemahaman yang utuh. Mungkin inilah yang menyebabkan “capek sendiri”. Bukan capek moral, tapi capek kognitif. Pernyataan itu terasa jujur. Ia tidak sedang menghakimi pengguna lain. Ia hanya sedang menjelaskan batas dirinya.

Rasa penasaran saya mendorong saya melakukan hal kecil. Saya bertanya di media sosial: “kalian punya TikTok?” Tidak ada niat riset akademik. Tidak ada desain survei formal. Dari 103 penonton, hanya 4 orang menjawab punya, dan 7 orang menjawab tidak. Selebihnya memilih diam. Angka ini tentu tidak representatif secara statistik, tetapi cukup memberi sinyal: narasi bahwa “semua orang ada disana” tidak sepenuhnya benar. Ada yang hadir, ada yang menjaga jarak, dan ada yang memilih diam tanpa merasa perlu menjelaskan.

Fenomena ini selaras dengan temuan sejumlah studi literasi digital di Indonesia yang menunjukan bahwa penggunaan media digital bersifat ambivalen. Di satu sisi, ia memperluas akses informasi; di sisi lain, ia mendorong kebiasaan konsumsi membaca mendalam jika tidak disertai kesadaran kritis (Lim, 2017; Nugroho, 2020).

Di titik ini saya menyadari bawah bertahan di tengah arus bukan soal melawan teknologi, melainkan soal memilih ritme. Sebagian orang memilih hadir penuh. Sebagian lain memilih jarak. Dan sebagian lagi–mungkin yang paling banyak–, mereka terombang-ambing di antaranya.

Saya sendiri mulai merumuskan sebagian praktik kecil membaca. Tidak heroik. Tidak konsisten sempurna. Kadang gagal. Kadang kembali tergoda. Tetapi tetap dicoba. Membaca beberapa halaman sebelum tidur. Menunda membuka notifikasi saat membaca artikel panjang. Memberi jeda sebelum bereaksi. Kegagalan fokus, saya percaya, bukan tanda kelemahan moral. Ia adalah dampak manusiawi dari sistem yang dirancang untuk memecah perhatian. Yang berbahaya bukan kegagalan itu sendiri, melainkan ketika kita berhenti menyadarinya.

Di tengah arus yang terus menggulir, membaca panjang pelan-pelan menjadi tindakan minor. Tidak populer. Tidak viral, tetapi justru di situlah ia menemukan maknanya. Bukan pula sebagai pencitraan, melainkan sebagai cara paling sederhana untuk menjaga nalar tetap hidup–agar kita tidak hanya cepat tahu, tetapi juga sempat memahami. Dan mungkin, di zaman serba cepat ini. Itulah bentuk bertahan yang paling manusiawi.

 

Dipadatkan

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan yang berulang: rasa lelah karena terlalu banyak tahu tetapi sedikit memahami, terlalu sering hadir tetapi jarang benar-benar berpikir. Di tengah arus klik dan scroll, dunia terasa penuh informasi namun dangkal. Perubahan ini hadir perlahan—fokus kian rapuh, membaca makin berat—dan tidak lagi sekadar pilihan personal, melainkan bagian dari struktur ekonomi perhatian, algoritma, dan budaya viral yang mengutamakan reaksi cepat daripada refleksi.

Dalam rezim scroll, membaca panjang mengalami pergeseran makna: menjadi asing dan sering dianggap berlebihan. Membaca perlu dijelaskan, sementara scrolling diterima begitu saja. Namun tulisan ini bukan nostalgia atau penolakan teknologi, melainkan upaya menjaga nalar di tengah arus yang terus merebut perhatian. Kegagalan fokus bukan masalah moral, tetapi ketidaksadaran akan bagaimana perhatian kita diambil.

Bertahan tidak selalu berarti melawan, melainkan memilih langkah-langkah kecil yang sadar: memberi jeda, menunda reaksi, dan membaca pelan. Membaca bukan prestise, melainkan sikap untuk tidak selalu tunduk pada kecepatan. Mungkin kita tak sepenuhnya keluar dari dunia scroll, tetapi selama masih ada ruang untuk berpikir tanpa tergesa, membaca dapat menjaga kita tetap manusia.

 

Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois

 

Daftar Pustaka

APJII. (2022). Laporan Survei Internet Indonesia 2022. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.

Carr, N. (2020). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. New York: W. W. Norton & Company.

Firth, J., Torous, J., Stubbs, B., et al. (2019). The “online brain”: how the Internet may be changing our cognition. World Psychiatry, 18(2), 119–129.

Lim, S. S. (2017). Digital media literacy and young people: Perspectives from Asia. Singapore: Springer.

Nugroho, Y. (2020). Literasi Digital dan Tantangan Budaya Membaca di Indonesia. Jakarta: Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG).

Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. New York: PublicAffairs.


Lebih baru Lebih lama