Perang itu tidak pernah benar-benar dimulai. Ia hanya disadari terlambat.
Sore itu udara terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena panas,
tapi karena keheningan yang terlalu sepi. Gang sempit tempatku berdiri tampak
biasa saja–dinding bata lembab, kabel listrik menggantung rendah, genangan air
bercampur oli di tanah. Tempat seperti ini harusnya ramai oleh suara manusia,
teriakan anak-anak, atau setidaknya radio tua yang diputar terlalu keras. Tapi
tidak ada apa-apa.
Dan itu selalu pertanda buruk.
Aku berdiri di balik sudut tembok, punggung menempel ke bata dingin.
Tanganku refleks meraba senjata di pinggang. Bukan karena ingin menembak,
tetapi karena tubuh sudah belajar satu hal: ketenangan yang tidak wajar selalu
mendahului kekacauan.
Aku menarik napas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Dar!
Bunyinya kecil. Hampir seperti
petasan murah. Tapi naluriku bereaksi lebih cepat dari logika. Aku menunduk
bersamaan dengan–
Der–dor!
Peluru menghantam dinding di samping kepalaku. Bata pecah. Serpihan beterbangan,
panas menyayat pipi kiri. Aku menjatuhkan diri ke lantai, lutut menghantam
keras. Napasku tercekat.
“Kontak!” teriak
seseorang dari belakang.
Trang! Trang!
Rentetan tembakan menyapu ujung gang. Cahaya moncong senjata berkedip
cepat, memantul di genangan air. Bau mesiu langsung memenuhi udara–tanjam,
pahit, familiar. Bau yang selalu datang sebelum Keputusan buruk.
Aku merayap ke balik drum besi berkarat. Logamnya dingin, tapi aku tahu
itu hanya sementara. Beberapa ditik lagi, drum ini akan panas seperti tungku.
“Dari mana?”
Suara itu bertanya lagi. Nafasnya terengah. Panik, tapi masih
terkendali.
“Tidak kelihatan,” jawabku.
“Seperti…. Dari mana saja.”
Dan memang begitu. Mereka tidak datang dari satu arah. Tidak ada garis
tembak yang jelas. Tidak ada pola. Seperti pikiran yang tiba-tiba menyerang
bersamaan–acak, tumpang tindih, dan tidak memberi waktu untuk memilah mana yang
harus di hadapi lebih dulu.
Trret tat tat tat!
Peluru beruntun menghantam drum. Logam bergetar hebat. Getarannya
merambat ke lenganku. Panas mulai terasa. Aku mengumpat pelan.
“Ini bukan penyergapan biasa,” kataku.
“Semua penyergapan selalu ‘biasa’.” Sahut suara itu
“Sampai kamu hampir mati karenanya.”
Aku mengintip dari sela drum. Di balik asap tipis, siluet bergerak.
Banyak. Terlalu banyak. Mereka tidak rapi. Tidak terkoordinasi. Tapi justru itu
yang membuatnya berbahaya.
Mereka bergerak sepertik kawan.
Bukan tentara.
Bukan pasukan resmi.
Ada yang berlari sambil menembak ke udara. Ada yang berhenti mendadak,
ragu, lalu menembak lagi ke kearah yang salah. Beberapa bahkan saling
berteriak, saling menyalahkan. Tapi peluru mereka tetap nyata. Tetap mematikan.
“Nekat,” gumamku.
“Nekat itu lebih berbahaya,” jawab suara di belakang.
“Karena mereka tidak takut kehilangan apa-apa.”
Trang!
Sesuatu mengantam tanah dekat kakiku. Aku menoleh.
Granat.
“Jatuh!”
Duarrrr!
Ledakan mengguncang ujung gang. Dunia berhenti sepersekian detik, lalu
runtuh. Telingaku berdenging keras, seperti ada mesin raksasa menyala di dalam
kepala. Pandanganku memutih, lalu berubah abu-abu pekat. Debu turun seperti
salju kotor.
Aku terlempar. Punggung menghantam tembok. Napasku terputus. Rasa sakit
datang belakangan, seperti laporan korban yang terlambat masuk.
Aku batuk. Debu masuk ke paru-paru. Mataku perih. Di balik asap,
bayangan bergerak cepat.
Aku sempat berpikir: jadi begini rasanya ketika kepalaku akhirnya
pecah sungguhan.
”Masih hidup?”
Sebuah suara baru datang dari atas.
Aku membuka mata dengan susah payah. Siluet berdiri di dinding gedung,
tiga lantai di atas tanah. Tenang. Terlalu tenang untuk ukuran medan seperti
ini. Seolah hujan peluru di bawahnya hanya gangguan kecil.
“Jawab!” katanya.
“Masih.” balasku
parau.
“Sayangnya.”
Ia melompat.
Bukan jatuh–meluncur. sepertinya dinding itu sendiri yang membantunya
turun. Ia mendarat di tengah asap tanpa suara berarti.
Trang!
Trang!
Dua tembakan. Cepat. Presisi. Dua siluet roboh bahkan sebelum sempat
berteriak.
“Siapa kamu?” tanyaku,
berusaha berdiri.
Ia menoleh. Wajahnya keras. Matanya dingin. Seperti seseorang yang sudah
lama hidup dimedan yang sama dan tidak lagi berharap apa pun dari akhir yang
baik.
“Yang datang kalau perang sudah terlanjur dimulai,” katanya.
“Dan yang tahu, ini baru pembukaan.”
Dar.
Der
Dor.
Tembakan kembali pecah dari kejahuan. Asap belum turun. Medan masih
hidup. Aku meraih senjata di tanah–entah sejak kapan senjata itu ada di sana.
Tanganku mengencang. Logam terasa berat, nyata.
“Kalau kamu berdiri di situ,” katanya lagi,
“Kamu mati.”
“Arahan bagus,” balasku.
“Solusinya?”
“Gerak.”
Kami bergerak bersamaan. Berlari menyusuri gang, menembus asap, melewati
tubuh-tubuh yang belum sempat memutuskan apakah mereka sudah mati. Peluru
berdesing di atas kepala.
Trret tat tat tat!
Trang! Trang!
Kami berlindung dibalik truk tua. Catnya mengelupas. Kaca pecah. Tapi
cukup tebal untuk menahan beberapa peluru.
“Siapa mereka?” tanyaku.
ia mengintip sebentar, lalu menunduk lagi.
“Bukan pasukan utama.”
“Lalu?”
“Ini umpan.”
Kalimat itu lebih dingin dari suasana tembakan.
“Umpan untuk apa?”
Ia menatapku. “Untuk melihat siapa yang masih bertahan.”
Duarrr!
Ledakan lain terdengar di kejauhan. Lebih besar. Lebih dalam. Aku tahu
suara itu. Bukan granat biasa. Itu sinyal.
“Kalau ini umpan,” kataku pelan,
“maka perang sebenarnya–”
“–belum dimulai,” ia menyelesaikan.
Aku menarik napas panjang. Tanganku gemetar, tapi bukan karena takut.
Karena sadar. Sadar bahwa medan ini bukan kebetulan. Bahwa karamaian di
kepalaku selama ini bukan gangguan.
Itu peringatan
Dar.
Der.
Dor.
Suara tembakan menjauh. Asap perlahan turun. Gang kembali
terlihat–rusak, berlubang, berantakan. Tapi tidak sunyi. Tidak akan pernah
benar-benar sunyi lagi.
“Namamu?” tanyaku.
Ia berjalan menjauh, tanpa menoleh.
“Nanti.” katanya.
“Kalau kamu masih hidup di bab berikutnya.”
Aku berdiri di tengah gang yang porak-poranda. Tubuh sakit. Napasku
berat. Tapi pikiranku justu jernih untuk pertama kalinya.
Baiklah.
Kalau ini perang,
Kalau ini akan berlangsung lama,
Kalau akhirnya baru datang di ujung–
Maka aku akan bertahan.
Bukan untuk menang.
Tapi untuk melihat siapa yang sebenarnya mengendalikan medan ini.
Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois
