Salat Ritual dan Salat Sosial: Visi Pembebasan Islam dalam Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad

 


Mandakara - Merupakan sebuah kepongahan diri jika orang tidak mau memahami sejarah, belajar dari sejarah, dan berkesadaran sejarah. Tanpa itu orang akan terus terjerembap dalam lubang kesalahan yang sama, terjebak dalam pengulangan tragedi yang melelahkan karena gagal membaca pola dan ritme peradaban. Sebagaimana kata George Santayana bahwa mereka yang tidak mampu mengingat masa lalu maka mereka dikutuk untuk mengulanginya.

Serupa dengan itu pula, Mahbub Djunaidi pernah berucap kalau setolol-tololnya orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah. Tentu, yang dimaksudkan Mahbub ini tak sekadar meromantisasi atau mengenang kejayaan suatu peristiwa (sejarah), tapi juga dimaksudkan untuk menghidupkan sejarah itu sendiri. Mempelajari dan memahaminya, untuk kemudian digunakan panduan dan spirit manusia dalam menjalani kehidupannya.

Demi visi menghidupkan itu, kemudian muncullah pola pikir (paradigma) dekonstrukstif sebagai alat atau cara untuk membongkar dan menyingkap makna di balik peristiwa sejarah. Sebab, sejarah bukanlah entitas statis yang sudah final, melainkan sebuah diskursus yang senantiasa terbuka untuk dimaknai ulang.

Cara pandang yang demikian inilah yang diperlukan kita untuk memperingati sebuah peristiwa bersejarah, tak terkecuali peristiwa besar Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.

 

Isra Mikraj

Secara harfiah, Isra merujuk pada perjalanan horizontal dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa (yang sekarang berada di Palestina), sementara Mikraj adalah perjalanan vertikal dari bumi menuju langit ketujuh hingga mencapai Sidratul Muntaha, titik tertinggi yang tak mampu dijangkau oleh makhluk apa pun kecuali Nabi Muhammad.

Bagi sebagian umat Islam, peristiwa ini bermula saat Nabi Muhammad didatangi oleh Malaikat Jibril yang membawakan Buraq, sesosok makhluk menyerupai cahaya yang kecepatannya digambarkan melebihi kilat. Dalam sekejap, Nabi tiba di Baitul Maqdis untuk memimpin Salat bersama para nabi terdahulu. Dari sana, perjalanan berlanjut menembus lapisan-lapisan langit. Di setiap tingkatan, Nabi Muhammad bertemu dengan para nabi sebelumnya—seperti Nabi Isa, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim—sebelum akhirnya berdialog langsung dengan Allah SWT untuk menerima perintah Salat lima waktu.

Tentu saja, narasi yang demikian ini tidak terlepas dari berbagai perdebatan dan kontroversi. Dalam kajian teologis (ilmu kalam), misalnya, perdebatan pun muncul mengenai apakah perjalanan ini dilakukan secara fisik (jasmani) ataukah hanya berupa visi spiritual (ruh). Secara fisik dalam artian, jasad nabi memang benar-benar menembus lapisan-lapisan langit itu dengan mengendarai Buraq, seperti yang digambarkan di atas. Secara spiritual dalam artian perjalanan Mikraj nabi bukan secara fisik, melainkan sebuah pengalaman batiniah.

Namun, terlepas dari hal itu, satu hal yang wajib bagi umat Islam ialah meyakini sepenuhnya bahwa Isra Mikraj itu benar dialami oleh Nabi Muhammad, terlepas dari perdebatan mengenai teknis peristiwanya.

Dengan demikian, dalam upaya menyelami kedalaman makna peristiwa sejarah ini, bagi saya setidaknya ada tiga poin penting yang bisa kita petik: pertama, soal kesadaran profetik; kedua, keistikamahan dan kesederhanaan, dan; ketiga, salat ritual dan salat sosial.

 

Kesadaran Profetik

Dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer, Muhammad Iqbal, dalam karya monumentalnya The Reconstruction of Religious Thought in Islam, memberikan pembacaan yang provokatif mengenai peristiwa Isra Mikraj ini. Baginya, momen Isra Mikraj adalah titik tolak dimensi pembebasan dalam Islam. Momen kembalinya Nabi dari puncak perjumpaan dengan Sang Khalik itu dimaknai oleh Iqbal sebagai sebuah simbolisme visi pembebasan Islam (Kuntowijoyo, 2006:98).

Melalui pembacaannya itu, kemudian Iqbal membagi kesadaran menjadi dua hal. Yaitu, kesadaran mistis dan kesadaran profetik.

Bila peristiwa Isra Mikraj itu dibaca dalam kacamata kesadaran ini, maka bagi seorang yang berkesadaran mistis, mencapai sidratul muntaha—puncak tertinggi perjumpaan dengan Tuhan—adalah pencapaian akhir. Jika mereka telah sampai pada kedamaian absolut di sisi-Nya, mereka cenderung ingin menetap dalam keheningan mistis tersebut, luruh dalam fana yang melenakan.

Namun, Nabi Muhammad SAW bukan bertindak demikian. Justru pasca beliau bertemu dengan Allah SWT di langit tertinggi, beliau memilih untuk kembali ke bumi. Kepulangan Nabi itu bukan karena beliau gagal menetap di langit, melainkan karena didorong oleh dorongan etis untuk membenahi realitas dunia yang carut-marut. Kepulangan Nabi dari langit ke bumi adalah sebuah pesan epistemologis bahwasanya tugas manusia bukan hanya untuk menjadi suci secara privat, melainkan untuk menjadi agen perubahan (khalifatullah fil ardh). Inilah yang disebut Iqbal sebagai kesadaran profetik.

Dalam, kesadaran profetik manusia dituntut untuk mampu membaca realitas secara utuh—melihat kesenjangan, kemiskinan, ketidakadilan, hingga degradasi moral—lalu memberikan respons solutif melalui tindakan konkret. Sehingga, melalui kesadaran profetik ini kita dituntut untuk menyadari sepenuhnya tanggung jawab manusia; sebagai hamba dan sebagai khalifatullah.

Kita tidak boleh terjebak dalam mistisisme egosentris yang hanya mementingkan keselamatan spiritual pribadi, dan tak peduli terhadap jeratan kemiskinan atau ketidakadilan melanda lainnya (Mu'amar, 2025: 174).

 

Keistikamahan dan Kesederhanaan

Gus Mus (KH. Mustofa Bisri), dalam bukunya “Saleh Spiritual, Saleh Sosial”, memberikan tamsil yang sangat mendalam mengenai kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad dalam perjalanan ber-Mikraj-nya, Buraq. Bagi Gus Mus, Buraq digambarkan memiliki kaki yang bisa "mulur-mungkret" (memanjang-memendek) sesuai medan yang dilalui. Jika jalan mendaki, kaki belakangnya memanjang; jika menurun, kaki depannya yang menyesuaikan. Tujuannya satu, yaitu menjaga agar penumpangnya tetap “jejeg”—tegak, lurus, dan stabil. Ke-”jejeg”-an inilah yang dimaknai oleh Gus Mus, sebagai sebuah metafora tentang nilai keistikamahan.

Sejatinya, perjalanan hidup kita adalah sebuah "mikraj" yang tak henti-hentinya menuntut keistikamahan. Betapa telah banyak kita lihat adanya diskontinuitas dalam cara kita beragama. Di dalam keheningan, kita mendaku Allah sebagai Yang Maha Besar, namun saat melangkah ke ruang profan, orientasi ontologis kita bergeser menjadi pemujaan terhadap keuntungan material maupun jabatan. Tuhan seolah berganti rupa sesuai dengan kepentingan ego kita.

Kita sembah dan minta-minta saat kondisi kita krisis, namun terlupakan begitu saja saat keadaan sedang baik-baik saja. Bersujud saat merasa rendah, namun seketika mendongak angkuh saat merasa memiliki kuasa. Padahal, esensi dari tauhid adalah pernyataan bahwa tidak ada orientasi lain selain Allah, baik dalam kesunyian maupun di tengah keriuhan massa.

Dalam konteks inilah, perlunya kita berefleksi dan melatih kemampuan kita untuk tetap “jegeg”, istikamah di jalur kebenaran. Mengendarai Buraq, yang berwujud dalam bentuk keistikamahan.

Lalu, bagaimanakah cara untuk mengendarai Buraq itu? Bagi Gus Mus, jawabannya terletak pada prinsip "sak madyo", secukupnya. Mencintai harta, secukupnya. Mencintai kekuasaan, secukupnya. Mencintai keluarga, secukupnya. Mencintai diri sendiri, secukupnya. Dan mencintai lainnya dengan secukupnya. Secukupnya, tidak kurang dan tidak lebih.

Inilah yang kemudian disebut kesederhanaan. Kesederhanaan bukan tentang naik sepeda butut, bukan pula tentang punya rumah yang kumuh, tapi tentang kedalaman ilmu, ketenangan batin, yang berwujud dalam kesadaran se-"cukup"-nya. Hal ini, barangkali terasa relevan jika dihadapkan dengan arus kapitalisme yang terus menggerus hasrat kepemilikan.

 

Salat Ritual dan Salat Sosial

Puncak dari peristiwa Isra Mikraj adalah diterimanya perintah Salat lima waktu. Secara simbolik, Salat adalah "Mikraj"-nya orang beriman (as-Salatu Mikrajul mu’minin). Jika Nabi Muhammad SAW melakukan Mikraj secara fisik dan spiritual ke langit, maka kita diberikan kesempatan untuk naik berjumpa, berkeluh kesah, dan menemui Tuhan melalui sujud-sujud kita.

Itulah mengapa salat merupakan tiang penyangga agama, pilar dan fondasi agama. Namun, apakah kita sudah benar-benar Salat? Gus Mus memaknai salat sebagai perjalanan dari tempat sujud yang suci (Masjidil Haram) menuju ke puncak tempat sujud (Masjidil Aqsha). Artinya, seluruh hidup kita haruslah merupakan rangkaian sujud. Salat ritual yang dilakukan dalam hitungan menit seharusnya menjadi pengisian energi untuk melakukan salat sosial di sisa waktu dua puluh empat jam kita (Bisri, 2019:78).

Itulah salat yang sejatinya. Sebagaimana jelas termaktub dalam Al-Qur’an, bahwa salat itu tanha anil fahsyai wal munkar, mencegah dari perbuatan keji (fahsyai) dan mungkar (munkar). Bahwa orang-orang yang lalai terhadap salatnya adalah orang-orang yang lupa membantu sesamanya. "Maka celakalah orang-orang yang melalaikan salatnya, (yaitu) orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan." (QS. Al-Ma'un, 107: 4-7)

Salat ritual adalah komitmen formal antara hamba dan Khalik. Namun, keberhasilan salat ritual diukur dari dampaknya pada ruang sosial. Jika salat kita tidak membuahkan kepekaan terhadap penderitaan sesama, maka salat itu hanyalah sebuah simbolisme ritualistik. Melalui salat, seharusnya lahir pribadi yang tawadhu’, jujur, adil, dan menebar Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Kesadaran untuk memadukan salat ritual dan salat sosial inilah yang merupakan hal esensial dalam ajaran Islam. Kesadaran bahwa Tuhan yang kita sembah di dalam tiap sujud kita adalah Tuhan yang sama yang memerintahkan kita untuk membela mereka yang dilemahkan, mereka yang dimiskinkan, mereka yang tertindas.

*

Begitulah kiranya, peristiwa Isra Mikraj selayaknya dimaknai. Dimaknai bukan sebagai sebuah perjalanan nostalgia untuk dikagumi secara pasif. Melainkan sebuah panggilan eksistensial bagi setiap muslim untuk melakukan perjalanan naik menuju Tuhan melalui perbaikan kualitas ibadah personal, dan kemudian melakukan perjalanan turun menuju kemanusiaan melalui aksi sosial yang konkret.

Sebab, tak dielakkan dunia saat ini sedang krisis orang-orang semacam ini; yakni mereka yang hadir membawa solusi atas krisis moral, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan, alih-alih sibuk menghakimi dan mengkafir-kafirkan liyan.

Akhirul kalam, jika ibadah kita belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, barangkali kita perlu memeriksa kembali, jangan-jangan kita tidak benar-benar bersujud kepada-Nya, melainkan sedang bersujud kepada citra kesalehan kita sendiri di hadapan manusia. Jangan-jangan kita tidak benar-benar menyembah Sang Khalik itu, melainkan sedang menyembah berhala-berhala material-egosentrisme. Bukankah esensi penyembahan kepada-Nya adalah menyembah—meminjam istilah Dendy—Tuhan yang "Di sana" lalu dimanifestasikan "Di sini"?

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 77).

Tabik!

 

Oleh: Muhammad Hilmi Hafi Ramadhani

 

Sanad Literatur:

Arfan Mu'amar. 2025. Nalar Kritis Pendidikan. IRCiSoD.

Dendy Wahyu. 2025. Islam Blambangan, Islam Pembebasan. Penalaut Publishing.

Kuntowijoyo. 2007. Islam sebagai Ilmu. Tiara Wacana.

Mustofa Bisri. 2019. Saleh Ritual, Saleh Sosial. Diva Press.


Lebih baru Lebih lama