Dari Andalusia ke Nahdliyin Muda: Ibnu Rusyd dan Genealogi Nalar Kritis

Catatan Kader Muda Nahdliyin Dari Buku Biografi Ibnu Rusyd Dan Intisari Filsafatnya Karya Iklil Paradigta



Kawitan

Sebuah dinamika kejumudan yang terjadi di dalam internal organisasi kaum muda Nahdiyin memang tidak bisa di hindari. Dalam beberapa bulan terakhir, saya dengan beberapa kanca-kanca muda Nahdiyin, sempat gesah ngalor-ngidul, mulai dari keperempuanan yang membingungkan hingga pada kenegaraan yang sangat menyedihkan. Dan tak tertinggal pula terkait dinamika kader muda Nahdiyin. Ada beberapa sambatan hingga wacana untuk menyengat ghiroh organisatoris Kader-kader muda Nahdiyin yang kami perbincangkan, Namun dalam hal ini saya tidak ingin mengeluarkan kalimat-kalimat keluh kesah atau ndakik-ndakik panjang terkait hal itu., di sisi lain keluh kesah yang mereka semua khawatirkan sudah terlebih dahulu ditulis oleh sesepuh kaum muda nahdliyin yang di kumpulkan dalam bentuk buku dengan judul “Pergulatan Wacana Kader Muda NU Ujung Timur Jawa”. Selain sambat bareng ngalor-ngidul mulai dari keperempuanan hingga kenegaraan ada beberapa yang saya garis bawahi yakni kemunduran bepikir kritis dan dan adanya sebuah drama yang memiliki paradoks besar di tengah dunia kontemporer ini,salah satunya terkait dengan simbolik-simbolik keshalehan dan keamanan terkait kebebasan, lihat di (https://share.google/NIXHCaq5KrDQabOWc).

Kita sering melihat adanya formalisme agama yang begitu masif. Namun disisi lain dari adanya formalisme agama tersebut, seringkali direduksi untuk sebuah legitimasi penindasan dan ketidakadilan bagi kaum proletar, kita juga sering menyaksikan sebuah ironi: nalar kritis yang tidak patuh, akan dicurigai sebagai  pembangkangan dan  “benalu” yang mengancam stablitas, serta kepatuhan kaku tanpa dialektika menjadi sebuah penghargaan yang di puja.

Disinilah salah satu relevansi sosok ibnu Rusyd dan buku; biografi dan intisari flsafatnya, karya ikil pradigta sangat penting untuk kita sebagai kader muda nahdliyin. Karena buku tersebut hadir sebagai cermin, peringatan bahkan tamparan bagi kita. Penulis buku tersebut, mengajak kita untuk kembali melihat sosok ibnu rusyd, seorang ulama – filusuf yang menjadikan akal sebagai jalan pengabdian sekaligus menjadikan pembangkangan sebagai etika moral dalam melawan kebodohan dan ketidakadilan.

Buku tersebut menguraikan perjalanan hidup ibnu rusyd dalam konteks sosial-politik andalusia (sependek pengetahuan saya ada di daerah spanyol selatan) yang penuh intrik kekuasaan dan konflik pemikiran. Ibu rusyd tidak digambarkan sebagai filusuf menara gading, melainkan intelektual publik yang terlibat langsung dalam perdebatan zaman. Ia menghadapi kelompok keagamaan yang menutup rasio.

Hal yang sebenarnya, tulisan saya ini hanya untuk membangkitkan diri saya sendiri dari masa-masa hibernasi yang sudah kelampuan lama, dan tulisan ini hanya sebuah semi resensi enteng-entengan semata dengan sependek pengetahuan saya tanpa adanya ndakik-ndakik yang lain karena pendek nya pengetahuan Al-Faqir ini, dan saya tegaskan kembali, hanya ntuk menyengat diri saya sendiri dari masa hibernasi.

Namun dalam perjalanan menulis terbesit untuk dijadikan sebuah opini perihal relevansi buku di tengah hiruk-pikuk kehidupan ini. Maka akhirnya saya putuskan tulisan ini sebagai semi opini dan resensi dengan hanya sependek pengetahuan saya, yang ingin mencoba membaca realitas untuk membangkitkan jiwa kader pembangkang dalam diri saya.

Wallahu a’lam bhisshawab.

Ibnu Rusyd dan Genealogi Nalar Kritis

Membaca buku Biografi Ibnu Rusyd dan Intisari Pemikiran dan Filsafatnya karya Iklil Paradigta bagi saya bukan sekadar aktivitas membaca sejarah seorang filsuf besar Islam. Buku ini justru menghadirkan kegelisahan yang sangat aktual: tentang ke mana perginya nalar kritis umat, dan mengapa agama—yang seharusnya membebaskan—sering kali hadir sebagai legitimasi penindasan.

Iklil Paradigta memperkenalkan Ibnu Rusyd bukan hanya sebagai tokoh Andalusia abad pertengahan, tetapi sebagai simbol keberanian intelektual. Ia adalah seorang faqih, qadhi, sekaligus filsuf yang menolak dikotomi antara akal dan wahyu. Bagi Ibnu Rusyd, berpikir bukanlah pilihan, melainkan kewajiban moral manusia berakal. Akal tidak ditempatkan sebagai ancaman terhadap iman, tetapi sebagai sarana untuk memahami kehendak Tuhan secara lebih jernih dan bertanggung jawab.

Sebagai pembaca—dan sekaligus bagian dari Kader Muda Nahdiyin, hari ini—saya merasa buku ini seperti cermin. Ibnu Rusyd hidup di tengah masyarakat yang mencurigai filsafat dan menyanjung kepatuhan tanpa tanya. Situasi itu terasa tidak asing. Kita pun hari ini sering terjebak dalam formalisme keagamaan tetapi gagap ketika harus menjawab problem nyata kemanusiaan. Di titik inilah, Ibnu Rusyd tampil sebagai antitesis dari nalar beku tersebut.

Melalui penjelasan yang ringkas namun padat, Iklil Paradigta menunjukkan bahwa inti pemikiran Ibnu Rusyd terletak pada keselarasan antara akal dan wahyu (ittishāl al-‘aql wa al-naql). Teks suci, bagi Ibnu Rusyd, tidak pernah menutup pintu tafsir rasional. Justru akal diperlukan agar agama tidak jatuh menjadi sekadar rutinitas kosong. Pandangan ini terasa sangat relevan ketika saya menyaksikan bagaimana agama hari ini sering dipraktikkan lebih sebagai identitas dan simbol, ketimbang sebagai etos berpikir dan bertindak.

Maka, bagi saya, buku ini bukan hanya biografi atau ringkasan filsafat Ibnu Rusyd. Ia adalah pancingan intelektual yang memaksa pembacanya bertanya: apakah kita masih berani menggunakan akal sebagai alat pembebasan, atau justru nyaman berlindung di balik ritual dan kepatuhan formal? Ibnu Rusyd, sebagaimana ditampilkan oleh Iklil Paradigta, seolah mengingatkan bahwa kemunduran umat bukan bermula dari kurangnya ibadah, tetapi dari mati surinya keberanian berpikir.

Sub pembuka ini menjadi pijakan penting bagi pembacaan selanjutnya: bahwa krisis nalar yang kita hadapi hari ini sesungguhnya adalah pengulangan sejarah. Dan Ibnu Rusyd—melalui buku ini—hadir bukan sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai tantangan bagi saya, dan kita semua, untuk kembali menyalakan nalar yang kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Filosofi Pembangkangan Etis: Menolak Tirani Kebodohan

Istilah pembangkangan kerap dimaknai secara negatif—sebagai sikap liar, destruktif, dan anti-otoritas. Namun, setelah membaca buku Biografi Ibnu Rusyd dan Intisari Pemikiran dan Filsafatnya karya Iklil Paradigta, saya justru menemukan makna lain yang jauh lebih substantif: pembangkangan sebagai tanggung jawab etis nalar. Dalam konteks inilah, tulisan ini merumuskan apa yang disebut sebagai Pembangkangan Etis (Ethical Dissension)—keberanian intelektual untuk berkata “tidak” pada kebodohan dan ketidakadilan yang dilegitimasi atas nama agama.

Melalui penelusuran biografis dan pemetaan ringkas pemikiran Ibnu Rusyd, Iklil Paradigta menunjukkan bahwa pembangkangan bukanlah sikap pinggiran dalam sejarah Islam, melainkan bagian dari denyut intelektualnya. Ibnu Rusyd tidak membangkang terhadap wahyu, melainkan terhadap cara berpikir yang mematikan akal. Ia menolak nalar beku yang menjadikan teks sebagai dogma tertutup dan menyingkirkan akal dari ruang tafsir. Dalam kerangka ini, pembangkangan Ibnu Rusyd justru merupakan pengabdian pada kebenaran yang bersumber dari keselarasan antara akal dan wahyu.

Buku ini menjadi penting dibaca di tengah krisis nalar kontemporer, khususnya di kalangan Kader Muda Nahdlatul Ulama. Sebab, sebagaimana dipotret secara implisit dalam perjalanan hidup Ibnu Rusyd, krisis peradaban sering kali bermula dari kebodohan yang terlegitimasi. Ketika narasi agama yang dangkal, bias, dan penuh kebencian disebarkan atas nama kebenaran, nalar kritis justru dicurigai. Dalam situasi semacam ini, pembangkangan etis menjadi keniscayaan: kader muda harus berani melawan kemalasan berpikir dengan menghadirkan narasi keagamaan yang berbasis ilmu, metodologi, dan adab intelektual—bukan sekadar pengulangan dalil.

Selain itu, buku ini juga memberi pelajaran penting tentang ketidakadilan yang berjubah kesalehan. Pengalaman Ibnu Rusyd yang dikucilkan menunjukkan bagaimana kekuasaan politik dan otoritas keagamaan dapat bersekutu untuk membungkam pikiran kritis, sambil tetap mempertahankan citra kesalehan. Simbol agama digunakan untuk menyingkirkan yang berbeda, bukan untuk membela kemanusiaan. Di titik inilah, pembangkangan etis menemukan relevansinya bagi Kader Muda Nahdiyin hari ini: keberanian moral untuk membongkar kedok kesalehan palsu, meskipun harus berhadapan dengan tekanan sosial dan stigma.

Yang menarik, sebagaimana ditunjukkan secara reflektif oleh Iklil Paradigta, tragedi pembakaran buku-buku Ibnu Rusyd justru berbalik menjadi berkah historis bagi peradaban lain. Api yang membakar karya-karyanya di dunia Islam berubah menjadi cahaya yang menerangi Renaisans Eropa. Ironi ini menyiratkan pesan keras: peradaban tidak runtuh karena terlalu banyak berpikir, tetapi karena takut berpikir. Dan buku ini, secara tidak langsung, mengajak pembacanya untuk belajar dari kegagalan sejarah tersebut.

Dalam konteks NU, pesan ini menjadi sangat relevan. Tradisi besar seperti bahtsul masail, tasywir, dan ushul fiqh sejatinya adalah ruang pembangkangan etis yang dilembagakan—ruang di mana perbedaan dipelihara demi kebenaran. Namun ketika tradisi ini direduksi menjadi ritual formal dan kepatuhan struktural, maka yang lahir adalah kader yang patuh secara simbolik tetapi lumpuh secara intelektual. Buku tentang Ibnu Rusyd ini, bagi saya, berfungsi sebagai alarm intelektual agar Kader Muda NU tidak mengulangi kesalahan sejarah: memusuhi akal atas nama kesalehan.

Dengan demikian, Biografi Ibnu Rusyd dan Intisari Pemikiran dan Filsafatnya tidak berhenti sebagai buku biografi atau pengantar filsafat Islam. Ia dapat dibaca sebagai manifesto sunyi tentang keberanian berpikir. Melalui sosok Ibnu Rusyd, buku ini mengingatkan bahwa pembangkangan etis bukan ancaman bagi agama, melainkan syarat bagi keberlanjutan peradaban. Bagi Kader Muda NU, membaca buku ini berarti dihadapkan pada pilihan eksistensial: menjadi penjaga ritual yang nyaman, atau menjadi pewaris nalar kritis yang berani menolak tirani kebodohan demi kemanusiaan.

Transformasi Aswaja: Dari Label Identitas Menuju Metodologi Hidup

Selama ini, Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) kerap dipahami sebatas label identitas—penanda kelompok, afiliasi mazhab, atau bahkan sekadar slogan ideologis. Dalam praktik keseharian, Aswaja sering berhenti pada klaim “siapa kita”, bukan “bagaimana kita berpikir dan bersikap”. Padahal, jika membaca ulang tradisi intelektual para ulama klasik, Aswaja sejatinya adalah manhaj al-fikr—sebuah metode berpikir dan cara hidup.

Bagi saya, transformasi Aswaja menjadi metodologi hidup adalah prasyarat agar Kader Muda Nahdliyin tidak terjebak pada romantisme identitas tanpa daya emansipatoris. Aswaja sebagai metodologi menuntut kemampuan melakukan dialektika yang matang antara tiga unsur fundamental: nash, ‘aql, dan waqi’.

Pertama, nash (teks). Aswaja tidak pernah memusuhi teks. Justru ia berdiri di atas penghormatan mendalam terhadap wahyu dan khazanah klasik. Namun, penghormatan ini bukanlah pembekuan. Teks dibaca dengan perangkat keilmuan, sejarah, dan maqashid—bukan dijadikan mantra untuk membungkam pertanyaan.

Kedua, ‘aql (rasio). Nalar dalam Aswaja bukan aksesoris, melainkan instrumen utama. Tanpa rasio, teks kehilangan daya hidupnya. Kader Nahdliyin yang menanggalkan nalar kritis akan mudah tergelincir menjadi radikal, kaku, dan alergi terhadap perbedaan. Di titik inilah, Aswaja berjumpa dengan semangat Ibnu Rusyd: bahwa akal adalah mitra wahyu, bukan musuhnya.

Ketiga, waqi’ (realitas). Inilah unsur yang paling sering diabaikan. Membaca teks tanpa membaca realitas akan melahirkan kesalehan menara gading—indah dalam wacana, nihil dalam kebermanfaatan. Aswaja yang hidup harus sanggup menjawab problem nyata: ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, kekerasan simbolik atas nama agama, dan krisis kemanusiaan kontemporer.

Ketiganya tidak boleh berdiri sendiri. Teks tanpa nalar melahirkan fanatisme. Nalar tanpa teks melahirkan kekosongan spiritual Dan pengetahuan tanpa kepekaan realitas melahirkan intelektualisme steril. Kader Nahdliyin yang tangguh adalah mereka yang mampu merajut ketiganya menjadi kesadaran praksis.

Pungkasan

Menjadi Subjek yang Memahat Sejarah

Menghidupkan tradisi tidak berarti memuja tumpukan abu, melainkan menjaga agar api pemikiran tetap menyala. Tradisi Aswaja bukan museum yang beku, melainkan energi intelektual yang menuntut pembaruan terus-menerus. Dalam kerangka inilah, Kader Muda Nahdliyin dipanggil bukan untuk menjadi pengikut yang bisu di tengah kerumunan, melainkan Subjek Sejarah yang aktif memahat arah zaman.

Bagi saya, mengkhianati akal adalah bentuk pengkhianatan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Dan diam di hadapan ketidakadilan yang menggunakan nama Tuhan adalah bentuk pengkhianatan tertinggi terhadap ketidakadilan yang menggunakan nama Tuhan adalah bentuk pengkhianatan tertinggi terhadap iman. Sikap kritis, keberanian berdialog, dan kesediaan mengoreksi diri bukan ancaman bagi tradisi—justru itulah cara paling setia untuk menjaganya.

Di tengah dunia yang semakin nyaman dengan kepatuhan massal tanpa nalar, keberanian untuk berpikir, berdiskusi, dan mengkritik adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi, namun paling bermakna. Mari kita jadikan tradisi sebagai landasan untuk melompat, bukan sebagai jangkar yang menahan kita untuk berlayar.

Oleh: Akid Waliyudin (Nahdliyin Muda Banyuwangi)

Lebih baru Lebih lama