Mandakara - Semua orang, kata Gramsci, adalah intelektual. Tetapi
tidak semua orang, lanjut seorang neo-Marxis itu, menjalankan “fungsi
intelektual”-nya. Jika tidak berlebihan, menurut saya, salah satu fungsi
intelektual tersebut ialah “membangkang”. Terlepas dari bagaimana seorang
intelektual itu membangkang, secara “terbuka” atau “terselubung”. Paling tidak,
ia telah membangkang. Mengapa membangkang menjadi salah satu fungsi
intelektual? Sederhana saja, sebab nabi adalah seorang pembangkang.
Para nabi di dalam kitab suci Ibrani, menurut Chomsky,
adalah “intelektual pembangkang”. Mereka mengusik status quo, menabur
benih-benih keadilan, dan senantiasa membela kaum papa dan tertindas. Dalam
al-Qur’an, menurut Ziaul Haque, nabi-nabi itu memiliki tiga misi utama:
mengatakan kebenaran; melawan kebatilan dan penindasan; dan mewujudkan keadilan
di muka bumi.
Sehingga, dapat dipahami, bahwa tugas nabi-nabi itu
adalah “membangkang”. Tentu cara mereka membangkang tidak sama. Karena situasi
dan kondisi sosial, politik, dan budaya masing-masing nabi berbeda.
Namun, tujuan mereka tetap sama: mendengungkan kebenaran,
menumpas kebatilan, dan membela kelompok lemah. Saya kira, tafsir keagamaan
semacam ini sudah umum diketahui. Hanya saja, tidak semua orang memahami maksud
di balik kisah heroik mereka.
Tak semua orang, dalam hal ini pemeluk agama, niscaya
memahami “risalah pembebasan” nabi-rasul tersebut. Justru, kita kerap memandang
agama seperti “panoptikon” dan “guillotine”. Agama, di mata kita, tak lebih
dari emanasi fasisme Tuhan.
Belum lagi, dalam sebuah agama, terdapat sekte-sekte.
Setiap sekte, memiliki imam. Dan imam-imam itu, seolah memiliki otoritas
keagamaan (religious authority) untuk mengatur kita. Segala tafsir dan
hukum buatan mereka, seolah “memaksa” kita untuk tunduk dan patuh. Sami’na
wa atha’na. Sehingga, spirit dan nilai-nilai pembebasan, nyaris tak
terlihat dalam khazanah keagamaan kita.
Padahal, tidak semua imam itu sehat “jasmani” dan
“rohani”-nya. Para imam sontoloyo, imam kelamin, imam perusak
bumi, imam Qabil, dan imam-imam penindas, tak terhitung jumlahnya.
Penindasan imam-imam itu, dimulai sejak dalam “pikiran”
kita. Dalam memahami agama, kita disuruh memakai “kaca mata” mereka. Dalam
melakoni hidup, kita dituntun oleh mereka. Dalam membaca kitab suci, kita
diatur oleh mereka.
Dalam menalar Tuhan saja, kita dilarang oleh mereka. Padahal,
Tuhan itu “tan kena kinaya ngapa”—kata orang Jawa. Dia bisa dikenali dan
didekati dengan berbagai cara. Pemahaman tentang-Nya tidak tunggal. Oleh sebab
itulah, dalam kehidupan kita, agama demikian “warna-warni”.
Bagi saya, tidak ada “agama unggul”. Semua agama, di mata
saya, sama. Tidak ada ada konsep ya’lu wa la yu’la ‘alaih. Karena,
masing-masing agama, hendak memahami Tuhan mereka. Tidak ada finalitas. Tidak
ada kebenaran absolut, jika hal itu bikinan manusia. Kebenaran mereka,
dalam istilah Ali Harb, adalah “kebenaran minimal”. Sementara “kebenaran”
sejati, hanya dari Tuhan. Sungguh dari Tuhan. Kita sekedar menerka-nerka,
menduga-duga, dan meraba-raba “maksud” Tuhan itu.
Jika Islam itu benar, bukan berarti ia memiliki hak untuk
“menindas” kebenaran agama lain. Jika Kristen itu benar, bukan berarti ia
berhak “menerakakan” agama lain. Jika Buddha, Kong Hu Cu, Hindu, Katolik, dan
agama atau kepercayaan lain itu dipandang benar, bukan berarti manusia yang
tidak mengakui agama itu mesti salah. Sekali lagi, kebenaran menurut kita,
hanya bersifat minimal. Dan kebenaran maksimal, absolut, adalah “Kebenaran”
Tuhan. Memaksakan kebenaran kita kepada orang lain, tidak akan menjadikan
kebenaran itu menjadi absolut.
Silakan meyakini kebenaran masing-masing, asalkan tidak
lantas memberangus kebenaran orang lain. Silakan memandang agama masing-masing
benar, tetapi tidak lantas menghakimi agama lain salah. Sekali lagi, semua
memiliki kebenaran masing-masing. Tidak perlu bertikai “atas nama agama” atau
“atas nama Tuhan”. Buat apa membela Tuhan, kalau Dia sudah “Maha-nya Maha”?
Buat apa membela Tuhan, sementara tidak dibela pun, Dia tetap Tuhan?
Oleh: Dendy Wahyu Anugrah, Seorang Anak dari “Pernikahan Silang” Abangan
dan Santri
*) Tulisan ini dibuat secara spontan pada 14 Oktober 2025,
di Mato Kopi, Selokan, Yogyakarta
Rujukan
Gramsci, Antonio. Selections from The Prison Notebooks
(New York: Internasional Publishers, 1971)
Harb, Ali. Kritik Kebenaran (Yogyakarta: LKiS, 1995)
Haque, Ziaul. Revelation & Revolution in Islam
(Pakistan: Vanguard Books, 1987)
Chomsky, Noam. Who Rules The World? (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2016)
