Mandakara – Musibah besar sebuah bangsa tidak selalu bersumber
dari agresi asing, melainkan dari penguasa di dalam negeri yang menjelma
sebagai penjajah internal. Berkedok sebagai pemangku kebijakan, merekalah yang
justru mendatangkan penderitaan bagi rakyatnya sendiri. Sejak awal, akar
masalah dan kebutuhan dasar warga negara jarang benar-benar dipahami. Rakyat
tidak ditempatkan sebagai pemegang kedaulatan, melainkan sekadar penerima pasif
yang dipaksa untuk selalu patuh.
Tidak sedikit elite politik yang memperlakukan rakyat
kecil bukan sebagai warga negara berdaulat, melainkan sekadar komoditas
pameran. Wajah rakyat dipercantik di atas deretan statistik dan klaim
keberhasilan untuk disajikan di panggung internasional demi menjaga gengsi
kekuasaan.
Ketika program bagi-bagi bantuan berhasil dijalankan,
para elite menepuk dada paling kencang di depan kamera seolah-olah telah
mencapai puncak kejayaan. Sebaliknya, ketika demokrasi dan hukum diinjak-injak,
mereka mendadak cuci tangan dan membiarkan rakyat menanggung seluruh
kesengsaraannya. Novel yang di tulis oleh Boris Pasternak dalam cengkeraman
totalitarian Soviet ini bukan sekadar arsip sejarah Rusia pada awal abad 20-an.
Pasternak lewat jalan cerita novelnya menelanjangi tiga mekanisme bagaimana
kekuasaan bekerja merusak batin dan akal sehat warga negara, bentuk penindasan
dan penjinakan batin semacam inilah yang ditelanjangi oleh Boris Pasternak
lewat novel legendarisnya, Doctor Zhivago.
Novel ini bercerita tentang Yuri Zhivago, seorang
dokter sekaligus penyair yang mungkin merupakan gambaran ideal warga negara
terdidik. Yuri pintar, berdedikasi menyembuhkan orang, dan selalu menjaga
kedamaian batinnya. Tapi, di balik idealisme dan kebaikan dalam hidupnya itu,
Yuri menanggung beban ekspektasi raksasa dari rezim politik yang berkuasa di
Rusia pada masa Perang Dunia I hingga Perang Saudara. Bahkan, saking beratnya
tekanan ideologi dan pembungkaman itu, Yuri sampai mengalami alienasi jiwa yang
amat dalam.
Tekanan tersebut perlahan membawa Yuri pada kondisi
yang tak sederhana. Saat ia berusaha mempertahankan ketulusan cintanya kepada
Lara dan kejujuran puisi-puisinya, perjalanan hidup itu membuka mata kita akan
bobroknya sebuah sistem yang menggilas nilai kemanusiaan. Bersama Lara, Yuri
berusaha memahami bagaimana manusia bisa tetap menjadi manusia utuh sebelum
mereka dihancurkan oleh mesin propaganda.
Kisah Yuri Zhivago barangkali memang merupakan cerita
fiksi berlatar masa lalu. Tapi, persoalan yang dihadapinya sudah barang tentu
ada dalam kehidupan nyata kita hari ini. Masih banyak rakyat yang tumbuh di
bawah bayangan tuntutan untuk selalu patuh. Kita didorong untuk menerima
penyeragaman, dibebani narasi stabilitas buatan, dan perlahan dibuat percaya
bahwa kesejahteraan kita hanya ditentukan oleh seberapa banyak bantuan instan
yang berhasil kita terima.
Doctor Zhivago adalah sebuah cermin alegoris yang sangat dingin jika
dihadapkan pada realitas Indonesia hari ini di bawah rezim gemuk yang secara
konsisten menggunakan narasi stabilitas, bagi-bagi logistik, dan populisme
paternalistik untuk meninabobokan rakyatnya.
Diktatorat Logistik Dan Illusi Kenyamanan Instan
Diktatorat logistik merupakan salah satu mekanisme
kekuasaan yang bisa menjinakkan secara halus dalam dunia politik. Sebuah
penjinakan yang dilakukan dengan pemenuhan instan atas kerentanan sebuah
material.
Dalam bab 3 novel Doctor Zhivago ini mulai
memperlihatkan jalannya mekanisme tersbut. Victor Ippolitovich Komarovsky sosok
tokoh oportunis yang menguasai Larrisa Fyodorovna Guishar sosok anak perempuan
dari seorang janda yang hanya memiliki sedikit uang. Komarovsky tak pernah
membutuhkan indoktrinasi untuk menguasai hidup Lara, ia paham betul bagaimana
psikologi seseorang yang terdesak, sesorang yang berada dalam kondisi terdesak.
Komarovsky bekerja dalam tiga tahapan predasi yang
sangat sistematis:
Memetakan Kerentanan: mengidentifikasi bahwa Lara dan ibunya berada dalam
posisi tidak berdaya secara finansial dan sosial, hadir sebagai "Satu-satunya
Penyelamat": menyuapkan bantuan materi, melunasi utang, dan menawarkan
perlindungan logistik di tengah guncangan zaman, Mengunci Ketergantungan:
mengubah bantuan tersebut menjadi utang budi implisit yang harus dibayar dengan
kepatuhan total—dalam hal ini, kedaulatan tubuh dan jiwa Lara.
Ketika pola ini ditransformasikan ke dalam konteks
bernegara, penguasa tidak lagi menggunakan senjata untuk membungkam warga.
Penguasa cukup bertindak sebagai "Komarovsky kolektif" yang memetakan
kerentanan ekonomi rakyat bawah (kemiskinan struktural, ketimpangan, dan
mahalnya biaya hidup), lalu hadir membawa kantong-kantong bantuan langsung
sebagai barang dagangan politik.
Dalam teori demokrasi klasik, kontrak sosial (social
contract) antara rakyat dan penguasa dibangun atas dasar jaminan atas
hak-hak sipil, kebebasan politik, kepastian hukum, dan keadilan sosial. Rakyat
menyerahkan sebagian wewenangnya kepada negara agar negara mengelola sumber
daya secara adil dan transparan. Namun, dalam Diktatorat Logistik, kontrak
sosial tersebut direduksi secara drastis menjadi sekadar transaksi karitatif
(belas kasihan).
Ketika program-program seperti bantuan pangan gratis
atau bansos dijadikan komoditas utama legitimasi politik, terjadi pergeseran
paradigma pada diri warga negara:
Pengerdilan Makna Hak: kesejahteraan tidak lagi dipahami sebagai hak
konstitusional yang wajib dipenuhi negara melalui penciptaan lapangan kerja dan
pembenahan sistem, melainkan dianggap sebagai kebaikan hati (benevolence)
atau "kemurahan" sosok pimpinan.
Erosi Akuntabilitas: ketika rakyat merasa sudah "diberi makan",
timbul keutangan emosional (psychological debt). Bertanya tentang korupsi,
nepotisme, atau penyimpangan konstitusi kemudian dipersepsikan sebagai tindakan
yang tidak tahu berterima kasih.
Fenomena ini juga bisa di sebut dengan “Propaganda
Asmara”, karena kekuasaan membungkus strategi domestikasi ini menggunakan
bahasa-bahasa kasih sayang yang sangat paternalistik—mirip dengan narasi
gaslighting dalam relasi pasang surut yang toksik:
Narasi penguasa seperti kalimat “Saya melakukan ini
karena saya mencintai rakyat kecil, saya tidak ingin melihat anak-anak kalian
kelaparan.” Narasi "cinta" ini menciptakan tirai asap (smokescreen)
yang menutupi fakta bahwa kemiskinan dan kelaparan tersebut kerap kali lahir
dari kebijakan ekonomi yang salah arah, peramposan ruang hidup oleh oligarki,
atau ketimpangan yang dipelihara.
Penguasa menempatkan dirinya sebagai “figur
ayah/pelindung” yang maha tahu, sementara rakyat ditempatkan sebagai “anak
kecil yang belum mandiri”. Sebagai anak kecil yang butuh diberi makan, rakyat
dianggap belum waktunya diajak bicara soal hal-hal rumit seperti integritas
Mahkamah Konstitusi, independensi KPK, atau kebebasan pers.
Secara neuro-sosial, populisme logistik bekerja
memanfaatkan apa yang dalam psikologi disebut sebagai scarcity mindset (pola
pikir kelangkaan). Ketika pikiran seseorang terkuras untuk memikirkan
"hari ini makan apa" atau "bagaimana bayar kontrakan bulan
depan", energi kognitif mereka habis terpakai hanya untuk bertahan hidup (survival
mode).
Kekuasaan yang oportunis memanfaatkan kondisi ini
dengan cara:
Menjaga Masyarakat Tetap Berada di Batas Batas Rentan: menjaga agar rakyat tidak pernah benar-benar mandiri
secara ekonomi, sehingga tetap membutuhkan "suntikan" bantuan berkala
dari negara.
Barter Logistik dengan Kesadaran Politik: bantuan materi instan memicu kelegaan dopaminergik
jangka pendek. Kelegaan sementara ini menutupi bahaya jangka panjang—seperti
rusaknya ekosistem hukum, kerusakan lingkungan akibat hilirisasi ugal-ugalan,
atau utang negara yang membengkak.
Rakyat didorong untuk merasa "cukup dan
kenyang" secara fisik, sementara secara kedaulatan, ruang hidup mereka
(tanah, air, dan hak bersuara) perlahan diresah dan diserahterimakan kepada
kekuatan modal.
Pelajaran terbesar dari karakter Komarovsky dalam Doctor
Zhivago adalah bahwa penindasan paling berbahaya terjadi bukan saat tubuh
kita dirantai, melainkan saat kita merasa tidak lagi perlu berpikir karena
perut kita telah diisi.
Menelanjangi Diktatorat Logistik bukan berarti menolak
bantuan pangan bagi mereka yang membutuhkan. Menelanjangi fenomena ini adalah
upaya sadar untuk mengingatkan publik bahwa makan malam gratis tidak boleh
ditukar dengan pembungkaman akal sehat. Sebuah bangsa tidak akan pernah menjadi
besar hanya karena rakyatnya kenyang oleh belas kasihan penguasa, melainkan
karena warganya berdiri tegak, berpendidikan, dan berani menuntut keadilan
serta kebebasan yang menjadi hak hakiki mereka.
Fanatisme Keseragaman Dan Penyingkiran Oposisi
Fanatisme Keseragaman membawa kita pada dimensi
kekuasaan yang tidak kalah destruktif dibandingkan Diktatorat Logistik. Jika
Victor Komarovsky menundukkan masyarakat lewat manipulasi kerentanan materi,
maka sosok Pasha Antipov (Strelnikov) memperagakan bagaimana kekuasaan
dihancurkan dari dalam oleh purifikasi ideologis: pemaksaan keseragaman
berpikir dan pembantaian atas setiap bentuk oposisi.
Dalam Doctor Zhivago, Pasha Antipov semula
adalah seorang pemuda yang sangat idealis, berpendidikan, mencintai
keluarganya, dan bercita-cita memperbaiki masyarakat. Namun, ketika ia terseret
ke dalam pusaran perang dan Revolusi Bolshevik, ia merenyam dirinya kembali
menjadi “Strelnikov” ("Sang Penembak"), seorang komandan militer
berpikiran dingin yang berada di atas kereta lapis baja (armored train).
Transformasi ini mengungkapkan patologi psikologis
politik yang amat mengerikan:
Absolutisme Moral: Strelnikov percaya bahwa garis politik kelompoknya
adalah satu-satunya kebenaran mutlak. Siapa pun yang berada di luar garis
tersebut secara otomatis dianggap jahat, sesat, atau pengkhianat.
Dehumanisasi Oposisi: manusia tidak lagi dilihat sebagai individu yang
memiliki nuansa, latar belakang, atau ruang salah. Warga negara direduksi
menjadi sekadar dua kategori: "Kawan" atau "Lawan".
Mekanisasi Nurani: atas nama cita-cita "persatuan dan
stabilitas", Strelnikov mampu meratakan desa, mengeksekusi tawanan, dan
mematikan empati manusianya sendiri tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Dalam panggung politik modern, termasuk dalam
konsolidasi kekuasaan di Indonesia hari ini, gaya fanatisme ini sering kali
tidak lagi tampil dengan senjata atau kereta lapis baja, melainkan dibungkus
rapi dalam retorika manis: "Demi Persatuan Nasional", "Stabilitas
Politik", dan "Kebersamaan Elit."
Penguasa yang mengidap sindrom Strelnikov akan
memandang bahwa dinamika oposisi, perbedaan pendapat, dan perbedaan ideologi adalah
kebisingan yang mengganggu pembangunan. Cara paling efektif menyingkirkan
oposisi hari ini bukanlah dengan memasukkan mereka ke penjara, melainkan dengan
memborong seluruh partai politik ke dalam koalisi super-gemuk. Semua dirangkul,
semua diberi porsi kekuasaan, hingga akhirnya tidak ada lagi yang tersisa untuk
menjalankan fungsi kontrol (checks and balances). Ketika seluruh ruang
parlemen diisi oleh suara yang setuju, maka persatuan yang tercipta sebenarnya
adalah persatuan semu (palsu). Masyarakat disuguhkan tontonan harmonis para
elit, sementara aspirasi rakyat bawah yang berbeda pandangan tidak lagi memiliki
saluran resmi.
Di bawah kendali fanatisme keseragaman, perbedan
argumen tidak pernah ditanggapi dengan adu data, melainkan dengan pembunuhan
karakter (character assassination). Di masa Revolusi Rusia, siapa pun
yang mengkritik kebijakan Komunis langsung dicap sebagai "Penyokong
Tsaris" atau "Kontra-Revolusi".
Di Indonesia hari ini, mekanisme stigmatisasi ini
bekerja lewat pembentukan opini publik: Akademisi yang mengkritik dinilai
sebagai "penghambat investasi". Mahasiswa dan aktivis yang turun ke
jalan dicap sebagai "alat kepentingan asing" atau "kelompok yang
tidak cinta tanah air". Oposisi dan masyarakat kritis dikonstruksikan
secara wacana sebagai "barisan sakit hati" yang tidak mau melihat
bangsa maju. Ketika kritik disamakan dengan pembangkangan, dan perbedaan
pendapat disamakan dengan pengkhianatan, maka negara sedang meluncur masuk ke
dalam otoritarianisme terselubung.
Poin paling krusial dari alegori Strelnikov dalam Doctor
Zhivago adalah nasib akhirnya. Setelah mendedikasikan seluruh hidupnya,
mengorbankan keluarganya, dan membantai ribuan orang demi memenangkan rezim
Bolshevik, Strelnikov pada akhirnya tetap dicurigai oleh partai yang dibelanya.
Ketika hegemoni kekuasaan sudah solid, orang-orang idealis-fanatik seperti
Strelnikov dianggap terlalu berbahaya karena masih memiliki keteguhan prinsip.
Ia diburu oleh rezimnya sendiri, hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya
dengan bunuh diri di tengah salju. Ini adalah pelajaran sejarah yang sangat
kelam: mesin kekuasaan yang dibangun di atas fanatisme dan penyingkiran oposisi
pada akhirnya akan memangsa pendukungnya sendiri.
Penyingkiran oposisi atas nama keseragaman politik
adalah resep paling ampuh menuju kebangkrutan sebuah bangsa. Ketika sebuah
rezim berhasil membuat seluruh ruangan menyanyikan nada yang sama, tidak akan
ada lagi yang berani mengingatkan ketika pengemudi kapal sedang mengarahkan
bangsa menuju karang kehancuran.
Sosok Strelnikov mengingatkan kita bahwa persatuan
sejati tidak pernah lahir dari paksaan atau pembungkaman, melainkan dari
negosiasi yang jujur di tengah perbedaan. Sebuah pemerintahan yang sehat tidak
memerlukan pujian seragam dari seluruh warga dan elitnya, melainkan membutuhkan
keberadaan oposisi yang kuat, independen, dan berani untuk menjaga agar
kekuasaan tidak berubah menjadi monster yang lepas kendali.
Yuri Zhivago Dan Integritas Batin Yang Menolak Tunduk
Di tengah dua kutub manipulasi tersebut, antara
pragmatisme oportunis Victor Komarovsky dan fanatisme dingin Pasha Antipov
(Strelnikov), berdiri Yuri Andreyevich Zhivago. Yuri adalah representasi
manusia otentik yang menolak untuk dijadikan komoditas oleh sistem politik mana
pun. Ia adalah symbol integritas batin, kedalaman nalar, dan kebebasan jiwa yang
memilih memelihara kemanusiaannya di tengah gempuran zaman yang menuntut
kepatuhan buta.
Dalam novel Boris Pasternak, Yuri Zhivago memegang dua
profesi yang sangat simbolis, seorang dokter dan seorang penyair. Dua identitas
ini bukan sekadar latar belakang cerita, melainkan jangkar moralnya: Sebagai
Dokter (Nalar Positivistik & Empati): Yuri menyaksikan kerapuhan
fisik manusia, rasa sakit, dan kematian secara langsung. Ia melihat realitas
secara obyektif dan menolak narasi-narasi politik besar (grand narratives)
yang mengorbankan nyawa manusia nyata demi cita-cita utopia yang abstrak. Sebagai
Penyair (Kedalaman Jiwa & Kebebasan Berpikir): Yuri merawat
ruang batinnya agar tidak dicemari oleh slogan-slogan propaganda. Puisi baginya
adalah benteng terakhir untuk menjaga kejujuran emosi dan keindahan di tengah
kebrutalan perang. Yuri tidak bertempur dengan mengangkat senjata di atas
barikade, melainkan dengan menolak menyerahkan kedaulatan berpikirnya kepada
partai, penguasa, maupun massa yang mengamuk.
Salah satu aspek paling kuat dari integritas Yuri
Zhivago adalah resistensinya terhadap psikologi massa. Ketika gelombang
Revolusi Rusia menuntut setiap orang untuk menentukan sikap, apakah
"Merah" (Bolshevik) atau "Putih" (Tsaris), Yuri menolak
kategorisasi biner tersebut.
Di Indonesia hari ini, sikap ini menemukan
relevansinya pada keberadaan kelompok masyarakat sipil, akademisi, dan individu
kritis yang menolak terseret dalam polarisasi atau kooptasi kekuasaan: Bukan
"Barisan Sakit Hati" maupun "Pemuja Kekuasaan": Yuri
Zhivago menunjukkan bahwa seseorang dapat mengkritik penyimpangan rezim tanpa
harus menjadi bagian dari kelompok kepentingan lain. Kritis lahir dari
kecintaan pada kebenaran, bukan ketidaksukaan pada figur. Menolak Bahasa
Propaganda: Yuri jijik terhadap penggunaan bahasa-bahasa klise yang dipakai
oleh penguasa untuk menutupi kebohongan. Ia memilih tetap menggunakan bahasa
yang jujur, ilmiah, dan berempati.
Mempertahankan integritas batin di tengah rezim yang
otoriter atau populistik tidak pernah datang tanpa biaya. Yuri Zhivago membayar
harga yang amat mahal atas independensinya. Pengasingan dan Kemiskinan; Ia
disingkirkan dari struktur sosial, kehilangan posisi akademis dan medisnya,
serta dipaksa hidup dalam kemelaratan di pegunungan Ural. Kehilangan
Orang-Orang Tercinta; Konflik politik memisahkan Yuri dari keluarganya dan
dari Lara, wanita yang dicintainya. Kelelahan Fisik dan Kematian Sunyi; Yuri
akhirnya meninggal karena serangan jantung di sebuah trem di Moskow—sebuah
kematian yang sangat biasa dan sunyi bagi seorang pria dengan kedalaman
intelektual yang luar biasa.
Ini menegaskan realitas kelam politik, manusia
bermartabat sering kali harus menanggung penderitaan fisik dan pengasingan
sosial hanya untuk mempertahankan hak paling mendasar mereka, berprasangka
lurus dan berpikiran merdeka.
Nama "Zhivago" berasal dari akar kata bahasa
Rusia zhiv, yang berarti "hidup". Dalam konteks ini, Boris
Pasternak ingin menyampaikan pesan fundamental, hanya manusia yang menjaga
integritas batinnya yang benar-benar hidup, mereka yang tunduk pada persuasi
materi (Komarovsky) atau doktrin fanatik (Strelnikov) pada dasarnya telah mati
secara rohani.
Menjadi Yuri Zhivago di tengah Indonesia hari ini
tidak berarti kita harus melarikan diri ke pegunungan. Menjadi Zhivago adalah
sebuah pilihan etis sehari-hari,Tetap kritis ketika orang lain memilih diam
demi mengamankan jabatan atau bantuan instan, Menolak ikut-ikutan menuduh atau
membenci kelompok lain hanya karena perbedaan pilihan politik, Merawat
ruang-ruang kebudayaan, literasi, pemikiran independen, dan kejujuran di tengah
kebisingan politik yang dangkal.
Ketika kekuasaan berusaha mendomestikasi perut kita
dan menagih penyeragaman pikiran kita, Yuri Zhivago hadir mengingatkan bahwa “kekayaan
terbesar manusia adalah kedaulatan atas jiwanya sendiri—sebuah benteng batin
yang tidak boleh dijual dengan harga berapa pun.”
Pada akhirnya, Doctor Zhivago bukan sekadar
catatan fiksi tentang kejatuhan sebuah kekaisaran dan lahirnya rezim totaliter
di Rusia, melainkan sebuah kompas moral untuk membaca gejala penjinakan warga
negara di mana pun ia terjadi. Melalui tiga karakter utamanya, Boris Pasternak
memperingatkan kita akan tiga ancaman sistematis: penundukan berbasis perut
melalui Diktatorat Logistik (Komarovsky), pemaksaan penyeragaman lewat
Fanatisme Ideologis (Strelnikov), serta pentingnya Integritas Batin (Yuri
Zhivago) sebagai benteng pertahanan terakhir.
Di tengah realitas Indonesia hari ini—di mana politik
populisme logistik dan pembungkaman oposisi berpotensi memandulkan daya kritis
publik—keberadaan manusia-manusia berjiwa "Zhivago" menjadi
syarat mutlak. Kesejahteraan instan dan janji stabilitas tidak boleh dibayar
dengan kedaulatan berpikir. Sebab, sebuah bangsa tidak akan pernah benar-benar
merdeka jika rakyatnya kenyang namun dibungkam, atau bersatu namun dipaksa
seragam; kemerdekaan sejati hanya ada pada warga negara yang berani menjaga
akal sehat dan integritas jiwanya dari segala bentuk penundukan kekuasaan.
Oleh: Akid Waliyudin
