"Sepuntene nggeh bu, amergi simah kaleh kula, njenengan mboten ningali mas yusuf ijab qabul,” ucapku sambil gemetar menahan tangis dalam panggilan telpon bersama ibu mertuaku.
”Gapapa, Nduk. pokok yusuf sama kamu bisa bahagia ibu juga
ikut bahagia, selamat atas pernikahannya ya, nduk,” ucapnya membuat tangisanku pecah
seketika, air mata berhasil mengalir diatas pipi mulus ku.
Flashback On
“Assalamu’alaikum mbk nailaaaaaaaaa,” itu adalah teriakan
dari adik sepupuku sarah.
“Ada apa, Sar? Kok pagi-pagi udah kesini aja kamu,” Sarah
adalah sepupuku 2 tahun lebih muda dariku, ia duduk di bangku SMA kelas 11.
“Itu mbak, laptopku mati, tugas praktekku belum selesai. Tapi
keburu mati laptopnya,” ucapnya menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Aku dan sarah segera menuju rumahnya yang hanya berjarak
sepuluh langkah saja. Setelah itu, aku memeriksa laptop sarah.
“Gapapa ini, cuma
kepanasan aja mesinnya. Makanya, kamu kalau pakai jangan sambil dicas ya,”
jelasku padanya.
“Owalah oke, mbak. Makasih yaaa. Soalnya hari ini aku
mau ngerjain tugas ini sama temen-temen aku.”
Setelah laptop Sarah bisa digunakan kembali, aku segera
pulang, bersiap untuk pergi mengajar di sekolah. Tapi di tengah perjalanan
pulang, aku bertemu seorang laki-laki yang pasti hendak menuju rumahku, itu dia
Bang Amar Yusuf.
“Bang, pagi banget udah mau kerumah,” sapaku kepada Bang
Yusuf.
“Eh, Naila. Iya nih, tadi Abahmu telfon, katanya mau
pagi-pagi ke sawahnya, jadi abang datang lebih pagi,” jelasnya memberi alasan.
Aku tidak merespon kembali jawaban Bang Yusuf, dan langsung
berjalan mendahuluinya. Ia pun mengikutiku dari belakang sambil terus memanggil
namaku, karena aku berjalan begitu cepat. Bang Yusuf adalah tetanggaku. Ia
berusia 6 tahun lebih tua dari ku. Ia sudah lulus dari bangku perkuliahan
jurusan Pertanian, makanya Abah menawarkan kepada Bang Yusuf untuk membantu Abah
di sawah, sembari ia bekerja merintis bisnis buahnya.
“Abah, Bang Yusuf, ini kopi sama sarapannya. Ayo sarapan dulu.”
Jam menunjukkan pukul 9 pagi, seperti biasa aku mengantar
sarapan ke sawah untuk Abah dan Bang Yusuf.
Setelah mendengar dan melihat kehadiranku, mereka langsung
menghampiri dan kami mulai menyantap sarapan yang sudah aku dan ibu masak tadi
pagi.
“Gini loh, Suf. Kalau enaknya punya anak gadis, udah cantik,
suka menabung, pintar masak lagi, kamu kapan Suf, mau bikin anak?”
Ucapan Abah memecahkan keheningan yang dibarengi angin
sepoi-sepoi persawahan.
“Haha Abah ini. Saya calon istri saja belum punya, kok Abah
nanya punya anak kapan. Ya belum tau, Bah,” jawab Bang Yusuf terdengar tertekan
dengan pertanyaan dari Abah.
“Abah ini pertanyaannya kok aneh banget sih,” pikirku dalam
batin.
“Loh iya ya, kalau kamu nduk kapan mau ngasih Abah
cucu? Loh, tapi Naila juga belum punya pacar, haha. Apa Yusuf sama anak Abah
ini aja? Kamu mau kan Naila?”
Pernyataan Abah langsung mendapat tatapan tajam dariku dan
juga Bang Yusuf.
“Abah ini kenapa sih!? Kok bisa-bisanya di saat seperti ini
malah mengatakan hal, yang bahkan aku saja tidak terpikirkan,” batinku.
“Abah ini apa-apaan sih? Kasian Bang Yusuf, mana tau dia udah
punya perempuan yang diincar,” tegasku. karena menurutku, Abah tidak sopan
mengatakan hal seperti itu kepada Bang Yusuf.
“Loh, Naila kok salah tingkah gitu? Apa jangan-jangan Naila
suka sama Bang Yusuf? Kalau Yusuf gimana, nak? Apa kamu memang punya pandangan
calon istri?” tanya Abah lagi kepada Bang Yusuf, tapi sebelum Bang Yusuf
menjawab aku sudah menyela.
“Udahlah, Bah. Naila mau pulang aja. Abah aneh nanya seperti
itu,” kesalku.
Aku langsung menaruh piringku, dan beranjak pergi untuk
pulang kerumah.
“Abah aneh, mana ada aku suka sama om-om kayak Bang Yusuf,”
gerutuku sepanjang jalan.
Sesampainya di rumah ibu bertanya di mana rantang makanan
yang aku bawa tadi. Tapi, aku diam saja. Mood-ku rusak gara-gara pertanyaan
aneh Abah tadi.
“Loh, Nai? Mana rantangnya? Kok nggak dibawa lagi?” tanya
ibu, tapi aku memilih tidak menjawab dan masuk ke dalam kamar.
Beberapa hari kemudian aku mulai biasa lagi kepada Abah dan
ibu. Abah tidak membahas soal Bang Yusuf lagi. Bang Yusuf juga jika datang ke rumah
bersikap seperti biasa. Tapi tepat satu bulan pembicaraan aneh itu, ada
notifikasi di ponselku.
“Assalamu’alaikum, Naila. Ini nomor baru abang, yaa” pesan
singkat dari nomor tidak dikenal.
Ternyata itu adalah nomor baru Bang Yusuf, karena kemarin
kata Abah ponselnya jatuh di sawah.
[Bersambung]
Oleh: Asmara Bahtera
