Everything You Are?

 


Mandakara - Ada satu pola yang selalu berulang dalam sejarah organisasi: ia lahir dari keresahan, besar karena kepemimpinan, dan mulai retak begitu kepemimpinan itu kosong. Pola ini bukan teori baru. Tapi menariknya, ia terus terbukti—dari organisasi pergerakan nasional yang lahir lebih dari satu abad lalu, sampai organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan yang hari ini sedang meraba-raba arah karena tidak ada lagi sosok yang benar-benar dianggap pemimpin.

Mari Mulai dari Akarnya

Dulu: organisasi lahir dari kegelisahan yang dikelola.

Budi Utomo, didirikan tahun 1908, dan sering disebut sebagai organisasi modern pertama di Indonesia. Ia lahir bukan dari kemewahan fasilitas, melainkan dari kesadaran sekelompok pelajar bahwa bangsa yang terjajah membutuhkan wadah berpikir bersama.

Delapan belas tahun kemudian, di Surabaya, lahir pula organisasi keagamaan besar yang hingga kini masih menjadi rumah bagi jutaan orang—dibangun dari musyawarah panjang para ulama yang mempertimbangkan bukan hanya soal keagamaan, tetapi juga keberlangsungan bangsa.

Dua contoh ini punya kesamaan yang sering luput dibahas: keduanya besar bukan karena struktur di atas kertas, melainkan karena ada figur yang bersedia memikul beban lebih dulu, dan anggota lain rela diatur karena percaya arah yang ditunjukkan jelas. Kaderisasi pada masa itu berlangsung nyata—forum diskusi panjang, perdebatan yang melahirkan keputusan, bukan sekadar seremoni.

Sekarang: struktur ada, ruh kepemimpinan menghilang.

Fenomena yang terjadi di banyak organisasi hari ini agak berbeda. Struktur organisasi tetap lengkap di atas kertas. Ada ketua, ada sekretaris, ada bendahara. Tapi kehadiran kepemimpinan yang substantif—yang mampu menjadi penengah saat anggota berselisih, atau penunjuk arah saat organisasi kehilangan fokus—semakin jarang ditemukan.

Berikut perbandingannya, agar lebih jelas:

Forum Kaderisasi

  • Dulu: ruang diskusi serius, kadang berlangsung hingga dini hari, menghasilkan pemahaman bersama soal arah organisasi.

  • Sekarang: agenda formal tetap berjalan, tapi porsi diskusi substantif menyusut, sebagian tergantikan oleh interaksi personal antaranggota yang tidak berkaitan dengan kaderisasi.

Kehadiran Figur Pemimpin

  • Dulu: ada sosok yang dianggap rujukan, ditakuti sekaligus dihormati, hadir dalam proses pengambilan keputusan.

  • Sekarang: jabatan formal terisi, tapi keterlibatan dalam dinamika organisasi minim, kehadiran hanya tampak pada acara seremonial.

Respons Terhadap Krisis Internal

  • Dulu: keresahan disalurkan menjadi inisiatif baru—organisasi, gerakan, forum diskusi.

  • Sekarang: keresahan sering berhenti pada keluhan di ruang percakapan digital, tanpa disalurkan menjadi langkah konkret.

Soal “Pemberontakan” Anggota

Dorongan sebagian anggota untuk “memberontak” terhadap kondisi ini sebenarnya bukan hal yang perlu ditolak mentah-mentah. Sejarah menunjukkan bahwa pergerakan besar memang kerap lahir dari ketidakpuasan terhadap kondisi yang mapan. Yang membedakan pemberontakan yang produktif dan yang sekadar keributan adalah arahnya.

Budi Utomo lahir dari perlawanan terhadap penjajahan, tetapi wujud perlawanannya adalah mendirikan sesuatu yang baru, bukan sekadar membubarkan yang lama. Prinsip ini relevan untuk organisasi mana pun yang sedang mengalami kemunduran kepemimpinan: keresahan akan produktif jika diarahkan menjadi pembenahan struktur atau regenerasi kepemimpinan, dan akan sia-sia jika hanya berhenti sebagai kritik tanpa tindak lanjut.

Penutup

Judul tulisan ini sengaja memakai tanda tanya, karena jawabannya memang belum final. Pertanyaannya sederhana: apakah organisasi ini masih menjadi everything yang dulu dijanjikan—ruang belajar, tempat kaderisasi, wadah gagasan—atau sudah bergeser menjadi sekadar nama dalam struktur administratif.

Sejarah mencatat bahwa organisasi yang bertahan panjang umumnya adalah organisasi yang berhasil mengelola keresahannya menjadi kepemimpinan baru, bukan yang membiarkan kekosongan kepemimpinan berlarut-larut. Pilihan untuk menjadi salah satu dari keduanya sepenuhnya ada di tangan generasi yang sedang menjalankannya sekarang.

Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois

Lebih baru Lebih lama