“Hiduplah, bekerjalah, dan bersenang-senanglah.” #Ferry Irwandi
Mandakara - Dua kali, di tempat yang sama, dengan kronologi yang nyaris serupa. Kasus bunuh diri di sebuah jembatan itu bukan lagi sekadar peristiwa individual. Ia seperti gema yang berulang, tetapi tidak benar-benar didengar. Kita mungkin membaca beritanya, merasa sesaat, lalu berlalu. Namun, bagi saya, pengulangan itu menyisakan satu keganjilan: ada sesuatu yang terus terjadi, tetapi tidak benar-benar kita pahami.
Peristiwa semacam ini sulit dibaca hanya sebagai keputusan personal. Ia
mengarah pada sesuatu yang lebih dalam; tekanan yang dipikul dalam diam, tanpa
ruang yang cukup untuk dijelaskan. Ada beban yang tidak terlihat, tetapi nyata.
Dan mungkin, terlalu lama dibiarkan.
Di waktu yang hampir bersamaan, ruang publik juga diramaikan oleh
pernyataan seorang menteri pasca kecelakaan kereta api. Dalam penjelasannya, ia
menyebut bahwa laki-laki seharusnya berada di depan dan di belakang, sementara
perempuan di tengah.
Narasi ini, sekilas, terdengar seperti bentuk perlindungan. Namun, jika
ditarik lebih jauh, ia menyimpan asumsi yang tidak sederhana: bahwa laki-laki
adalah pihak yang wajar ditempatkan pada posisi paling berisiko. Lah!
Di titik ini, saya tidak sedang menolak gagasan bahwa dalam situasi
tertentu laki-laki bisa berada di garis depan. Tetapi pertanyaannya: apakah itu
memang solusi? Ataukah ia hanya cara lain untuk menormalisasi pengorbanan
sepihak yang lama-lama kita anggap wajar?
Ada kecenderungan yang jarang orang sadari bahwa menjadi laki-laki
berarti harus siap menjadi korban pertama. Bahwa risiko bisa “ditata”, dan
bahwa sebagian orang memang sudah semestinya menanggungnya lebih dulu. Narasi
ini mungkin tidak selalu diucapkan secara eksplisit, tetapi ia hidup dalam banyak
bentuk—baik berupa kebijakan, pernyataan, budaya.
Masalahnya bukan semata pada siapa yang berada di depan. Masalahnya
adalah ketika kita berhenti bertanya: apakah cara berpikir seperti ini
benar-benar menyelesaikan persoalan, atau justru memperpanjangnya dalam bentuk
yang lebih halus?
Jika kita kembali pada peristiwa bunuh diri yang berulang di ruang
publik, mungkin tidak adil untuk langsung menghubungkannya dengan konstruksi
sosial tertentu. Namun, keduanya memperlihatkan satu hal yang sama: manusia
sering kali dituntut untuk kuat, tanpa diberi ruang yang cukup untuk rapuh.
Dalam konteks ini, saya teringat pada formula; pemikiran Seneca dalam
salah satu bukunya “A Happy Life”: “True happiness is to enjoy the
present, without anxious dependence upon the future,” (kebahagiaan sejati
adalah menikmati masa kini, tanpa ketergantungan yang mencemaskan pada masa
depan). Pernyataan ini sederhana, tetapi terasa jauh dari
realitas yang dijalani. Orang hidup
dalam tekanan masa depan, dalam tuntutan sosial, dalam ekspektasi yang terus
bertambah hingga lupa bagaimana rasanya sekadar menjalani hari ini dengan utuh.
Satu: “Hiduplah,” saya pahami dalam
pengertian ini, bukan sekadar bertahan. Ia menuntut kesadaran. Kesadaran bahwa
tidak semua hal berada dalam kendali kita, dan tidak semua beban harus kita
tanggung sendiri. Namun, dalam praktiknya, kita justru sering memikul lebih
dari yang seharusnya mencoba memenuhi ekspektasi yang bahkan tidak kita
rumuskan sendiri. Akibatnya, kelelahan menjadi sesuatu yang biasa. Bahkan,
kadang dianggap wajar. Ya, terlepas dari yang mana bisa dikendalikan dan tidak,
hiduplah!
Dua: “Bekerjalah,” sampai disini juga
mengalami nasib yang sama. Ia tidak lagi sekadar tanggung jawab, tetapi berubah
menjadi ukuran nilai diri. Semakin berat beban yang dipikul, semakin dianggap
bernilai. Dalam logika seperti ini, bekerja bukan lagi soal makna, tetapi soal
bertahan, dan kadang, soal pembuktian.
Saya melihat, dalam banyak kasus, individu tidak hanya bekerja untuk
hidup, tetapi juga untuk memenuhi tuntutan yang terus bertambah—baik dari
lingkungan, maupun dari dirinya sendiri. Dan ketika semua itu tidak diimbangi
dengan ruang refleksi, kerja berubah menjadi tekanan yang tidak selesai. Maka
apapun itu, berkerjalah!, Selesai.
Tiga: Sementara itu, “bersenang-senanglah” menjadi
bagian yang paling mudah disalahpahami. Kesenangan kita letakkan jauh di masa
depan, di pencapaian tertentu, di kondisi ideal yang belum tentu datang.
Padahal, dalam perspektif stoik, kesenangan justru terletak pada kemampuan
untuk merasa cukup.
Namun, “cukup” adalah kata yang sulit diterima dalam masyarakat yang
terus bergerak. Kita diajarkan untuk mengejar lebih, bukan untuk memahami
batas. Akibatnya, kesenangan tidak pernah benar-benar hadir, ia hanya menjadi
janji yang terus ditunda.
Jika ditarik kembali, ketiga hal ini (hidup, kerja, dan kesenangan) bukanlah
tiga hal yang berdiri sendiri. Ia adalah ritme satu kesatuan yang rapuh jika
tidak dijaga keseimbangannya. Hidup tanpa kesadaran melahirkan kegelisahan.
Kerja tanpa makna melahirkan kelelahan. Dan kesenangan tanpa kecukupan
melahirkan kehampaan.
Barangkali, yang perlu kita pertanyakan hari ini bukan hanya mengapa
seseorang memilih mengakhiri hidupnya, atau siapa yang harus berdiri di depan
saat risiko datang. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: bagaimana kita
memandang manusia itu sendiri?
Apakah manusia hanya dilihat sebagai pihak yang harus kuat, yang harus
siap menanggung, siap berkorban, siap berada di garis depan? Ataukah sebagai
makhluk yang juga memiliki batas, yang membutuhkan ruang untuk dipahami, bukan
sekadar dituntut?
Saya tidak menolak keberanian. Saya juga tidak menolak tanggung jawab.
Tetapi keberanian tanpa kesadaran bisa berubah menjadi beban, dan tanggung
jawab tanpa batas bisa berubah menjadi tekanan yang diam-diam menghancurkan.
Pada akhirnya, slogan “hiduplah, bekerjalah, bersenang-senanglah” dapat
dibaca bukan sekadar ajakan sederhana, melainkan sebagai kritik halus terhadap
cara kita menjalani hidup hari ini. Bahwa hidup perlu dijalani dengan
kesadaran, kerja perlu dilakukan dengan makna, dan kesenangan perlu ditemukan
dalam kecukupan tanpa harus mengorbankan kemanusiaan itu sendiri.
Terdengar sederhana.
Tetapi mungkin, justru karena itu, kita terlalu sering mengabaikannya.
Bersenang-senanglah!
