Mandakara — Fenomena antrean panjang di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bagaimana informasi yang beredar di ruang publik dapat mempengaruhi perilaku masyarakat secara luas. Antrean kendaraan yang mengular tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi juga muncul di berbagai daerah seperti Banda Aceh dan Kabupaten Jember. Peristiwa ini dipicu oleh berkembangnya informasi mengenai cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang disebut hanya mampu bertahan sekitar dua puluh hari. Narasi tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran publik akan kemungkinan kelangkaan energi.
Di Banda Aceh, fenomena panic buying terjadi setelah pernyataan mengenai stok BBM nasional tersebut menyebar luas di media. Sejumlah SPBU dipenuhi kendaraan masyarakat yang ingin segera mengisi bahan bakar karena khawatir terjadi kelangkaan. Antrean panjang bahkan terjadi di beberapa titik SPBU, sementara sebagian masyarakat juga membeli BBM dalam jumlah lebih dari biasanya. Situasi ini kemudian diberitakan sebagai bentuk kepanikan masyarakat yang dipicu oleh informasi mengenai cadangan BBM nasional yang dianggap terbatas (baca di ANTARA News, “Panic Buying BBM, Antrean Panjang di SPBU Banda Aceh Usai Pernyataan Stok Nasional 20 Hari”).
Fenomena serupa juga terlihat di Kabupaten Jember. Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa antrean kendaraan di beberapa SPBU mengular cukup panjang setelah beredarnya isu kelangkaan BBM. Masyarakat rela menunggu lama untuk mendapatkan bahan bakar karena khawatir stok akan segera habis. Dalam beberapa laporan bahkan disebutkan bahwa antrean kendaraan dapat mencapai ratusan meter hingga sekitar satu kilometer di beberapa SPBU (baca di Detikcom, laporan tentang antrean SPBU di Jember akibat isu kelangkaan BBM).
Menariknya, pemerintah daerah dan pihak distribusi energi menegaskan bahwa kondisi stok BBM sebenarnya masih berada dalam kondisi aman. Peningkatan pembelian BBM yang terjadi lebih disebabkan oleh kepanikan masyarakat daripada kekurangan pasokan yang nyata. Pemerintah daerah bahkan harus melakukan koordinasi untuk menenangkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan yang justru dapat memperparah antrean di SPBU (baca di Suara Indonesia, laporan mengenai respons pemerintah daerah Jember terhadap fenomena panic buying BBM).
Fenomena tersebut dapat dianalisis menggunakan perspektif Cultivation Theory yang dikembangkan oleh George Gerbner. Teori ini menjelaskan bahwa paparan media secara terus-menerus akan membentuk cara masyarakat memandang realitas sosial. Media tidak selalu secara langsung memerintah orang untuk bertindak, tetapi secara perlahan menanamkan gambaran tertentu mengenai dunia sehingga masyarakat menganggap gambaran tersebut sebagai realitas yang sebenarnya.
Dalam konteks antrean BBM, media secara berulang menampilkan narasi mengenai potensi krisis energi, konflik geopolitik global, serta angka cadangan energi nasional yang terbatas. Ketika informasi tersebut terus muncul dalam berbagai platform media, masyarakat mulai membangun persepsi bahwa krisis energi benar-benar sedang terjadi atau setidaknya akan segera terjadi. Dengan demikian, realitas yang terbentuk di ruang media perlahan berubah menjadi realitas yang dipercaya oleh masyarakat.
Teori kultivasi juga menjelaskan konsep mainstreaming, yaitu proses di mana individu dari latar belakang sosial yang berbeda akhirnya memiliki persepsi yang relatif sama karena terpapar pesan media yang serupa. Dalam kasus antrean BBM di berbagai daerah, masyarakat dari berbagai kelompok–mulai dari pengendara sepeda motor, sopir angkutan, hingga pedagang–menunjukkan perilaku yang sama, yaitu berbondong-bondong mengisi bahan bakar. Keseragaman perilaku ini menunjukkan bahwa persepsi mengenai ancaman kelangkaan energi telah menjadi persepsi kolektif yang terbentuk melalui paparan informasi yang sama.
Selain itu, terdapat pula fenomena resonance, yaitu ketika pesan media bertemu dengan pengalaman sosial yang pernah dialami masyarakat. Dalam konteks Indonesia, masyarakat memiliki pengalaman historis mengenai antrean panjang BBM pada beberapa periode sebelumnya, baik akibat gangguan distribusi maupun perubahan kebijakan energi. Ketika media kembali menghadirkan narasi mengenai keterbatasan stok BBM, memori sosial tersebut beresonansi dengan informasi yang beredar. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih mudah merasa cemas dan cepat bereaksi.
Kasus antrean BBM di Jember, Aceh, dan beberapa daerah lainnya menunjukkan bahwa krisis sosial tidak selalu muncul karena kekurangan sumber daya secara nyata. Dalam banyak situasi, krisis justru dapat muncul dari konstruksi persepsi publik yang dibentuk melalui proses komunikasi. Ketika informasi tertentu diproduksi dan direproduksi secara terus-menerus oleh media tanpa penjelasan yang cukup, masyarakat dapat membangun interpretasi sendiri yang berbeda dari kondisi sebenarnya.
Dengan demikian, fenomena panic buying BBM memperlihatkan bagaimana media memiliki peran penting dalam membentuk persepsi kolektif masyarakat mengenai realitas sosial. Teori kultivasi membantu menjelaskan bahwa perilaku masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi faktual, tetapi juga oleh realitas simbolik yang dibangun melalui komunikasi massa.
Pada akhirnya, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa komunikasi publik–terutama yang berkaitan dengan isu strategis seperti energi–perlu disampaikan secara hati-hati dan kontekstual. Tanpa strategi komunikasi yang tepat, informasi yang sebenarnya bersifat teknis dapat berubah menjadi pemicu kepanikan sosial di tengah masyarakat.
Oleh: Aldi Asy Syaikh Ar Rois
