Menumpas Kerapuhan Sosial - Mengembalikan Esensi Pada Khittah

 


(Di Ujung Penghabisan: Ramadhan, Upaya Menepis Paradoks Kebebasan Idul Fitri)

Mandakara - Seperti yang telah diketahui oleh banyak orang, bulan Ramadhan pada hakikatnya bukan sekadar rentang waktu yang dilalui hanya dengan menahan lapar dan dahaga saja. Lebih dari itu, ia juga sebuah madrasah ruhani, tempat jiwa manusia dilatih untuk mengenali batas-batas dirinya, upaya dalam menundukkan hawa nafsu ke-hewan-hewanan-nya, serta menata-murnikan niat di hadapan Tuhan. Berkaitan dengan ini saya ingat pesan sering diingatkan oleh para ulama tasawuf pada tulisan-tulisannya, bahwa: "Keberhasilan suatu ibadah tidak diukur dari gerak lahiriahnya semata, melainkan juga dari perubahan pada kegelapan batinnya menuju cahaya; nur didalam hatinya."

Di titik inilah, penghujung Ramadhan sering kali memperlihatkan sebuah keganjilan yang samar namun nyata (ya, semoga paham): manusia tampak tekun ber-ritual, tetapi tidak berhasil dalam menundukkan diri; hatinya.

Satu: Antara Ibadah dan Hasrat Dunia

Pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, tradisi Islam mengajarkan umatnya untuk memperbanyak ibadah, menghidupkan malam, dan berharap memperoleh keberkahan malam yang nilainya melebihi seribu bulan, seperti yang diceritakan orang-orang bahwa Nabi Muhammad Saw. pada akhir Ramadhan lebih mengencangkan sabuknya, dan membangunkan keluarganya (untuk menambah ibadah!) Akan tetapi, realitas sosial umatnya kerap kali menghadirkan pemandangan yang sebaliknya.

Masjid yang pada awal Ramadhan penuh oleh barisan jamaah perlahan mulai merenggang. Sebaliknya, pasar dan pusat perbelanjaan justru dipenuhi manusia yang bergegas mengejar kebutuhan hari raya. Pemandangan ini tidak sekadar menunjukkan perubahan aktivitas, melainkan juga memperlihatkan pergeseran orientasi hati mereka: dari pencarian makna, menuju pencarian kemewahan.

Dalam pandangan kaum sufi, keadaan seperti ini sering berakar pada penyakit hati yang halus: kecintaan berlebihan terhadap dunia; "hubbu ad-dunya", situasi yang mana manusia dapat saja menahan lapar sepanjang hari, tetapi jika hatinya tetap terpaut kuat pada kemegahan dan pengakuan sosial, maka puasa satu bulan sebelumya hanya menyentuh tubuhnya, bukan jiwanya!

Ramadhan yang pada hakikatnya mengajarkan kesederhanaan pun terkadang diakhiri dengan gelombang konsumsi yang melimpah. Pakaian baru, hidangan berlimpah, dan berbagai simbol kemapanan sosial menjadi bagian dari tradisi perayaan.

Dalam batas tertentu hal itu tidaklah tercela, tetapi ketika simbol-simbol tersebut menjadi ukuran kehormatan seseorang, maka ibadah perlahan kehilangan ruh-jati dirinya dan berubah menjadi sekadar latar religius bagi kehidupan yang tetap dikuasai oleh hasrat duniawi, semata! (sampai disini, lalu apa bedanya dengan yang tidak beragama?)

Dua: Paradoks Kebebasan Idul Fitri

Idul Fitri sering dimaknai sebagai momentum kembali kepada fitrah—yakni keadaan suci yang bebas dari dosa dan kesalahan. Namun, pada realitanya, apa iya kita benar-benar bebas?

Makna bebas disini, seringkali terwujud dengan hasil yang serampangan, di mana Idul Fitri dimaknai sebagai akhir dari kewajiban menahan diri. Seolah-olah setelah Ramadhan berlalu, manusia kembali bebas mengikuti keinginannya sebagaimana sebelumnya. Padahal, kebebasan yang dimaksud dalam ajaran spiritual bukanlah kebebasan untuk mengikuti semua yang di depan mata; secara konkret ataupun abstrak, melainkan kebebasan dari dominasi angkara murka dan hawa nafsu itu sendiri. Nah, di sinilah paradoks itu muncul; merayakan kebodohan dan kekalahan!

Lebih jauh lagi, perayaan Idul Fitri dalam masyarakat modern sering kali menghadirkan tekanan sosial yang tidak ringan. Mau tidak mau, kita tidak bisa bohong, bahwa sebagian individu merasa dipaksa perlu menampilkan citra terbaik di hadapan kerabat dan lingkungan—secara tidak langsung: pakaian yang indah, rumah yang tertata, kendaraan yang layak dipamerkan. Yang semula Idul Fitri dimaksudkan sebagai hari kebahagiaan kemenangan kebebasan spiritual, pada saat itu berubah menjadi panggung perbandingan sosial yang halus, namun menekan.

Dalam bahasa Imam Ghazali keadaan ini berkaitan dengan penyakit hati "riya'-tadhoohur"— keinginan untuk dilihat dan diakui oleh orang lain. Dan perlu diketahui, Ia adalah penyakit yang sangat samar, sebab sering menyusup tanpa disadari oleh pelakunya!

Parahnya lagi, di sisi lain, kebersamaan Idul Fitri yang dahulu menjadi ruang perjumpaan hangat antarmanusia, saat ini juga menghadapi tantangan budaya digital. Kini silaturahmi tidak jarang terpecah oleh kesibukan memotret, merekam, dan membagikan momen kebersamaan di media sosial. Ya, nampak kehadiran fisik tetap ada, tetapi perhatian batin sering kali terpecah oleh kebutuhan untuk menampilkan diri di hadapan khalayak yang jauh.

Hal ini mengingatkan saya pada potongan satu ayat Al-Qur'an Al hasyr ayat 14: "Nampak mereka berkumpul, padahal hati mereka terpecah belah". Meski jika ditinjau dari asbabun nuzul ayatnya tidak berkorelasi, tapi nyaris!

Tiga: Esensi yang Perlahan Terlupakan

Hakikat Idul Fitri sesungguhnya bukanlah pada kemeriahan perayaannya, melainkan pada kesadaran batin yang lahir darinya. Ia adalah pengingat bahwa manusia telah diberi kesempatan untuk membersihkan dirinya melalui ibadah puasa.

Namun, apabila setelah Ramadhan berlalu manusia kembali pada kebiasaan lamanya—kezaliman kecil dalam perkataan, kelalaian dalam amanah, atau keserakahan dalam urusan dunia—maka kemenangan dan kebebasan apa yang didapat!?

 Akhiran

Sebab, bagi saya, kemenangan dan kebebasan yang sejati bukanlah ketika manusia berhasil menang-bebas atas dirinya selama sebulan saja, melainkan ketika ia mampu menjaga serta memperjuangkan hal tersebut sepanjang hidupnya. Ya sepanjang hidupnya!

Oleh: M. Roqy Azmi

Lebih baru Lebih lama