Tuhan Tidak Hidup di Gedung Mewah: Catatan dari Musala Kecil dan Gigs Warkop Sederhana

 


Mandakara - Kami tidak datang dari ruang bersih. Kami tumbuh dari trotoar panas, dari kopi sachet yang diminum sambil duduk di atas motor, dari panggung kecil yang lampunya sering mati sebelum lagu terakhir selesai. Kami belajar hidup bukan dari seminar motivasi, tapi dari kehilangan. Dari dompet kosong di akhir bulan. Dari teman yang perlahan menjauh karena hidup terlalu berat untuk dibagi cerita.

Kami tidak hafal banyak ayat. Tapi, kami hafal rasanya lapar. Kami tahu bagaimana rasanya pulang malam dengan tubuh lelah dan kepala penuh pikiran. Kami tahu bagaimana rasanya menahan tangis di balik helm. Kami tahu bagaimana rasanya dinilai hanya dari jaket hitam, tattoo, atau sepatu sobek.

Banyak orang bilang Tuhan tinggal di gedung megah. Di tempat ibadah yang dingin oleh pendingin udara. Di aula besar dengan mimbar tinggi. Tapi, kami tidak menemukannya di sana.

Kami menemukannya di musala kecil pinggir jalan, tempat karpetnya tipis dan kipas anginnya berisik. Kami menemukannya di bengkel tua, di kamar kos sempit, di bawah jembatan saat gitar berdistorsi dan suara manusia bersatu dalam lagu-lagu yang lahir dari luka.

Kami menemukan Tuhan saat rokok terakhir dibagi. Saat seseorang jatuh di moshpit, lalu diangkat ramai-ramai. Saat motor mogok tengah malam dan orang asing membantu mendorong tanpa bertanya kamu siapa. Di situlah kami belajar tentang kasih yang tidak diumumkan.

Agama bagi kami bukan pertunjukan. Ia tidak butuh kamera. Tidak menunggu tepuk tangan. Ia hadir dalam tindakan kecil, menunggu teman pulang, mendengarkan cerita sampai pagi, memeluk orang yang sedang hancur, mengantar kawan yang terlalu mabuk agar tidak celaka.

Kami sering disebut rusak. Disebut sesat. Disebut jauh dari Tuhan. Seolah iman hanya boleh dimiliki mereka yang rapi dan teratur. Padahal kami juga berdoa.

Kami berdoa dengan cara kami sendiri. Kadang dalam diam. Kadang lewat lagu. Kadang cuma dengan menarik napas panjang dan berharap hari esok tidak lebih kejam dari hari ini.

Kami tidak sempurna. Kami marah. Kami mabuk. Kami tersesat. Kami pernah menyakiti. Tapi kami masih mencari. Kami masih percaya ada sesuatu yang lebih besar dari ego kami, lebih luas dari stigma, lebih lembut dari kerasnya kota.

Skena adalah rumah. Di sanalah kami belajar solidaritas tanpa slogan. Kami belajar bahwa siapa pun bisa jatuh, dan siapa pun layak diangkat. Kami belajar berbagi dari rokok terakhir dan uang receh. Kami belajar bahwa keluarga tidak selalu soal darah, tapi tentang siapa yang tetap tinggal saat semua orang pergi.

Di skena, kami merasa dilihat tanpa harus menjelaskan diri. Tidak ditanya kamu kerja apa. Tidak ditanya kamu ibadah di mana. Yang ditanya cuma "kamu baik-baik saja?"

Kami percaya Tuhan tidak takut tattoo. Tidak jijik sepatu bolong. Tidak menutup telinga saat kami bernyanyi terlalu keras. Yang sering takut itu manusia.

Kami percaya iman tidak diukur dari penampilan. Ia tumbuh pelan-pelan lewat luka dan jatuh bangun. Ia hadir saat kamu memilih tidak membalas kebencian. Saat kamu memaafkan meski berat. Saat kamu tetap peduli meski kamu sendiri sedang hancur.

Kami muak pada iman yang dipamerkan. Pada kesalehan yang butuh kamera. Bagi kami, iman itu sunyi. Ia tidak berisik. Ia berjalan pelan di dalam dada.

Ada doa di halte bus. Ada doa di balik helm. Ada doa di kamar kontrakan. Tidak semua doa diucapkan keras. Kami percaya Tuhan mendengar semuanya, bahkan doa yang tidak sempat dirangkai jadi kalimat.

Perempuan di jalanan pulang malam sambil menelan stigma. Mereka menahan tatapan, menyimpan takut di saku jaket. Tapi mereka juga berdoa. Dalam diam. Dalam langkah. Dalam lagu. Mereka berdiri di dunia yang tidak ramah, tetap berjalan dengan kepala tegak.

Kami belajar banyak dari mereka: tentang keberanian, tentang bertahan, tentang mencintai diri sendiri di tengah tekanan.

Kami percaya surga tidak butuh seragam. Tidak cek kartu anggota iman. Tidak peduli kamu datang dari panggung atau mimbar. Yang ditanya cuma satu, kamu pernah mencintai siapa?

Kami tidak mencari surga cepat. Kami cuma ingin jadi manusia yang tidak saling melukai.

Kalau suatu hari kami mati di jalan, doakan kami tanpa stigma. Jangan kafankan kami dengan prasangka. Ingat kami sebagai orang-orang yang pernah mencoba baik di dunia yang keras.

Kami datang dari jalan. Dan dari jalan itulah kami belajar mencintai, bertahan, dan percaya.

Oleh: Bagas Husron Jillyansyach
Lebih baru Lebih lama