Ironi Negeri Maritim: Ketertinggalan dalam Kelimpahan

 


Mandakara - Nusantara dikenal sebagai negeri air, lautnya membentang seperti doa yang tak putus, ikan-ikan berenang dalam kelimpahan. Namun, di daratan, anak-anak tumbuh dengan perut yang bertanya. Di kampung pesisir, ombak datang membawa harapan, tapi tak selalu membawa kenyang. Perahu-perahu pulang dengan hasil laut, namun meja makan masih sering kosong dari gizi. Ironi itu berulang, seperti luka yang enggan sembuh.

Kita sering berkata Indonesia kaya; kaya laut, kaya tanah, kaya cerita perjuangan. Namun, mengapa langkah kita masih tertatih dalam merawat masa depan paling krusial: anak-anak bangsa? Mereka belajar mengeja mimpi dengan tubuh yang kekurangan, menatap masa depan dengan mata yang belum sepenuhnya terang.

Di antara janji pembangunan dan pidato kemakmuran, mereka menunggu—diam, sabar, dan sering kali terlupa. Negeri ini belum sepenuhnya menemukan titik terang, bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kurangnya rasa saling peduli.

Kita sibuk menghitung kekayaan, tapi lupa membaginya secara adil. Padahal, anak-anak bukan angka statistik belaka, mereka adalah cermin masa depan. Jika hari ini mereka kekurangan gizi, besok bangsa ini akan kekurangan harapan.

Maka, marilah kita coba renungi; untuk tidak sekadar bangga pada nama Nusantara, tetapi berani bertanggung jawab atas isinya. Sebab, negeri yang benar-benar kaya adalah negeri yang mampu mengenyangkan, menyehatkan, dan memanusiakan anak-anaknya.

Indonesia dikenal dunia sebagai negara maritim. Dua pertiga wilayahnya berupa lautan, dengan kekayaan ikan, terumbu karang, dan sumber daya hayati yang melimpah. Secara teoritis, kondisi ini seharusnya menjadi modal besar bagi kesejahteraan rakyat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks yang menyedihkan: masih banyak anak-anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi, bahkan stunting.

Pertanyaan mendasar pun muncul: mengapa negeri yang begitu kaya justru belum mampu menjamin kesehatan generasi mudanya?

Masalah gizi anak tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan makanan, tetapi sebagai persoalan sistem. Distribusi hasil laut yang tidak merata, keterbatasan akses pangan bergizi di daerah terpencil, rendahnya edukasi gizi, serta kemiskinan struktural menjadi faktor utama.

Di banyak wilayah pesisir, nelayan menangkap ikan berkualitas tinggi, namun hasil tangkapan tersebut justru dijual ke luar daerah atau diekspor demi kebutuhan ekonomi, sementara keluarga mereka sendiri mengonsumsi makanan seadanya.

Selain itu, kebijakan pengelolaan sumber daya alam sering kali lebih berorientasi pada keuntungan ekonomi makro daripada kesejahteraan sosial. Kekayaan laut dihitung dalam angka devisa, bukan dalam kualitas hidup anak-anak yang tumbuh di sekitarnya. Akibatnya, pembangunan berjalan timpang: sumber daya melimpah, tetapi manusianya tertinggal.

Ironi ini semakin terasa ketika dikaitkan dengan masa depan bangsa. Anak-anak adalah aset utama negara. Kekurangan gizi pada masa pertumbuhan berdampak langsung pada perkembangan fisik, kecerdasan, dan produktivitas di masa depan. Jika masalah ini terus dibiarkan, Indonesia berisiko kehilangan bonus demografi dan justru menghadapi beban sosial jangka panjang.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif bahwa kekayaan alam tidak akan bermakna tanpa keberpihakan pada manusia. Negara perlu memperkuat kebijakan pangan berbasis lokal, terutama di wilayah maritim. Edukasi gizi harus menyentuh keluarga-keluarga pesisir, sekolah, dan komunitas. Di sisi lain, masyarakat juga perlu menumbuhkan solidaritas sosial—saling peduli dan saling merapati—agar tidak ada anak bangsa yang tertinggal.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan sumber daya, tetapi sering kekurangan keadilan dan kepedulian. Titik terang masa depan bangsa hanya bisa ditemukan ketika kekayaan alam dikelola untuk sebesar-besarnya kemaslahatan rakyat, terutama anak-anak. Sebab, keberhasilan sebuah negara tidak diukur dari luas lautnya, melainkan dari seberapa sehat, cerdas, dan bermartabat generasi yang tumbuh di dalamnya.

Oleh: Dida Ilzam Ramdani

Lebih baru Lebih lama