“Di antara kepatuhan yang merantai dan tuntutan zaman yang beringas, perempuan ini memilih tetap berjalan—meski harus terlihat gila di mata dunia.”
Mandakara - Terlahir
sebagai seorang perempuan di tanah Jawa yang kental dengan adat istiadat dan
tata krama adalah sebuah karunia penuh tantangan. Perempuan sering kali
ditempatkan sebagai kaca wingking—teman belakang—yang perannya terkurung
di seputar sumur, kasur dan dapur. Menurut filosofi tradisional yang kerap
disalahartikan, kata wanita dimaknai sebagai wani ditata (berani
diatur): jika ia seorang istri harus patuh pada suami, jika anak harus patuh
pada orang tua dan jika adik harus patuh pada kakak laki-laki.
Konsep
kesetaraan gender telah banyak digaungkan, tetapi penerapannya masih kabur di
akar rumput. Tidak semua masyarakat paham apa itu gender equality; mereka
terlampau awam dan terikat oleh sisa-sisa feodalisme untuk mengejar peradaban
yang seharusnya berjalan seiringan.
Rumah, bagi
sebagian orang adalah pelabuhan untuk merajut asa. Namun bagiku, rumah kerap
menjelma sebagai ruang tunggu yang penuh dengan larangan. Sebagai seorang
perempuan, batasan-batasan itu datang berlapis-lapis: ”jangan terlalu malam
pulangnya,”; “jangan terlalu sibuk mengurus urusan orang lain,”
hingga larangan mutlak untuk terlibat dalam dinamika organisasi. Dimata
keluarga, dunia luar adalah tempat yang terlalu bising dan berbahaya bagi
seorang perempuan, sehingga memilih diam di dalam rumah adalah bentuk kepatuhan
mutlak yang harus dibayar dengan mengubur potensi diri.
Namun, manusia
tidak diciptakan hanya untuk menjadi pajangan di ruang tamu. Dorongan untuk
belajar, memimpin dan berdampak membawaku melompati pagar pembatas itu, hingga
akhirnya aku memegang tampuk kepemimpinan di sebuah organisasi saat ini. Aku
pikir kemerdekaan kecil ini akan membawaku pada ruang napas yang lega. Ternyata
tidak, di dalam organisasi, tekanan baru langsung menyambut dengan wajah yang
berbeda: kritik yang tajam.
“Panggil aku perempuan gila. Hantu berkepala keji membunuh kasihnya.”
Sepenggal lirik
dari Nadin Amizah ini terasa begitu menghujam dada. Kadang kala, kita perempuan
memang perlu sedikit “gila” agar tidak selamanya dipandang sebelah mata. Melangkah
berani ke dunia yang oleh pola pikir kuno dianggap bukan tempat perempuan—dunia
pendidikan, pergerakan, kepemimpinan dan perubahan sosial.
Melawan setiap
larangan keluarga demi sebuah idealisme memang terasa kejam, tetapi jika tidak
melawan dengan keji, justru jiwa kita sendiri yang perlahan mati. Seandainya
Gusti memberi mereka tahu jikalau perempuan ini harus bersembunyi di balik
karangan cerita dan kebohongan kecil demi bisa hadir di forum-forum pergerakan,
mungkin kalimat dalam opininya berbeda—tapi siapa peduli? Biarlah tinggal raga
tanpa jiwa, terkoyak di antara rasa bersalah pada keluarga dan dahaga akan
ruang aktualisasi diri.
“Penuh ganggu di dalam jiwanya. Sambil Penuh Cinta. Diam-diam berusaha selalu.”
Beberapa bulan
memimpin, suara ketidakpuasan mulai menggema. Organisasi yang kupimpin tengah
gemar melayang kritik, menuntut perubahan signifikan yang instan, seolah-olah
arah angin dapat dibelokkan hanya dalam hitungan hari. Mereka melihat
kevakuman, mereka melihat kelambanan, dan mereka menunjuknya sebagai pusat dari
ketidakberhasilan itu. Mereka panik melihat jalan di tempat, sementara aku
sendiri sedang babak belur mencoba merangkai langkah di atas tanah yang
licin—berjuang melawan trauma larangan keluarga di satu sisi, dan tuntutan
progresivitas tanpa kompromi di sisi yang lain—hanya Gusti yang tahu.
Di tengah riuh
kritik dan opini yang mencekik, perempuan ini tetap diam-diam berusaha
memberikan yang terbaik. Memang apa yang bisa diubah secara radikal hanya dalam
beberapa bulan kepemimpinan? Harapan kita semua sama; ingin yang terbaik untuk
rumah pergerakan ini. Namun, kritik datang bertubi-tubi ketika perubahan
signifikan belum juga terlihat. Struktural hingga kepemimpinan menjadi sasaran
tembak.
Mereka yang
melontarkan kritik ibarat orang yang menilai kebersihan rumah dari terasnya
saja, tanpa pernah benar-benar tinggal di dalamnya saat ini. Apakah mereka tahu
bahwa gentengnya bocor, lantainya retak, kayunya rapuh dan temboknya berlumut,
jika tidak pernah masuk dan merasakan dinginnya malam di dalam sana? Mereka
tidak tahu betapa orang-orang yang
datang ke sekretariat membawa beban berlapis: ada yang datang dengan sisa lelah
setelah bekerja, ada yang membawa tumpukan tugas kuliah, ada yang datang usai
bertengkar hebat dengan orang tuanya, ada yang menyelinap diam-diam tanpa restu
keluarga, hingga mereka yang hadir dengan sadar dan penuh cinta.
Di balik meja
kepemimpinan itu, ia menelan semua keluh kesah rekan-rekanitanya, merajut
siasat agar pergerakan ini tetap hidup, sambil terus berperang melawan rasa
sakit dan trauma di dalam kepalanya sendiri. Mereka tidak melihat betapa setiap
keputusan yang kuambil harus melewati perdebatan batin yang melelahkan. Mereka
tidak tahu bagaimana rasanya memimpin sebuah perahu kecil sementara tanganku masih
terikat oleh warisan ketakutan di rumah.
“Tahu akan ditinggalkan. Namun, demi Tuhan, Aku berusaha.”
Menjadi
perempuan di persimpangan ini berarti belajar untuk tetap waras di tengah dua
tekanan yang saling merobek. Jika bertahan pada prinsip dan proses yang
perlahan-lahan merangkak naik dianggap sebagai sebuah kewajaran yang keliru di mata mereka, biarlah. Toh, pada akhirnya
hanya diri sendiri yang tahu persis betapa mahalnya harga yang harus dibayar
sekadar untuk bisa berdiri di sini, memegang kendali, dan menolak tunduk pada
kepanikan mereka.
Meski ia tahu
pada akhirnya posisinya akan digantikan atau dilupakan, setidaknya perempuan
ini telah melawan. Ia telah memilih untuk hidup dengan caranya sendiri,
membuktikan bahwa di balik kepatuhan yang dipaksakan, ada api perlawanan yang
menyala terang demi harga diri dan masa depan organisasinya.
Oleh: Little Princess
